Dua tahun-nya Taman Main

Gallery

Yasmina lagi cuti, yeay. Hahahha..

Mewah banget karena semenjak tenggelam di taman main, saya nyaris gapunya nafas. Pas banget abib abis bagi raport portofolio dan libur satu minggu. Duh seneng amat deh, bisa bangun dalam damai, santai2 rebahan lagi di sofa, sarapan, main sama abib, baca buku, selonjoran..

Kemewahan ini didapatkan karena saya udah nyaris tiga bulan enggak tidur. like, literally, enggak tidur. Karena menyiapkan kejutan di hari perayaan ulang tahun Taman Main yang ke-2, Sabtu, 7 Oktober kemarin. Bukan, bukan sekadar throwing a marvelous party, karena party nya mah baru digarap 3 minggu sebelum hari-H.

DSC05877

Tapi, melahirkan anak ke-2 yang namanya TAMAN MAIN PETUALANG. *keprok* *keprokDongPlis*

TMP-Sosmed7

Mengulang cerita (curcol) selama dua tahun

Jadi, seperti kita ketahui Bersama, bahwa saya dan teman-teman mendirikan Taman Main dengan prinsip bisnis “Learning by Doing” dan sesuai kata Bob Sadino “Yang penting buka dulu, jangan diomongin aja!” maka proses belajarnya berlangsung seumur2. Hahahaha..

Belajar sebelum buka iya, survey, baca buku, ikut training Pendidikan anak usia dini, kenalan sama orang-orang, tapi ya kalo prosesnya diikutin terus, tentu saja, kita gak akan buka2. Akhirnya proses itu diteruskan sepanjang Taman Main berjalan. Dan ternyata, RASANYA LUAR BIASA YA

Seperti yang udah pernah saya ceritakan; saya udah pernah jadi ibu rumah tangga yang full dirumah doang nenenin anak, dan nulis sedikit2 doang tapi gak bisa terlalu ngoyo karena gak bisa ninggalin Abib. Lalu sebelum itu, saya juga pernah jadi pekerja kantoran, yang enggak kantoran banget sih karena gak punya jam kerja.

Dan sekarang menjalani banyak peran. Ya kerja, ya ngurus anak, ya ngurus rumah dan anak kaki empat, ya kerja sambil bawa anak kemana2, dan ternyata peran yang kali ini adalah yang paling berat.

Soalnya, membuka institusi Pendidikan anak bukan sekadar kerja, karena customer nya enggak kaya dateng ke warung ayam. Kan kalo kita beli makanan di warung, biasanya coba2, kalo enak, jadi pelanggan, kalo gak enak ya tinggalin. Simple.

Menitipkan anak kan bukan perkara milih warung enak atau gak enak. Elemen sebagai bahan pertimbangannya banyak banget. susahnya, semua itu enggak selalu bisa distandardisasi dan diukur dengan angka. Which is buat saya; SUSAH BANGET.

Semuanya dimulai dengan satu kata; TRUST. Mengemban amanah besar, keamanan, Pendidikan, kenyamanan, sampe perkembangan seorang anak manusia di usia yang sangat penting dalam seluruh rentang kehidupannya bukan perkara gampang. Ngurus anak sendiri aja susah, ini ngurusin anak orang. Dalam jumlah yang enggak sedikit, waktu yang panjang dari pagi sampe malam, dengan harapan yang begitu banyak dan bermacam-macam dari orang tuanya.

Capek nya gak bisa diungkapkan dengan kata2. Tapi ternyata, saya suka. Hahahaha..entah kenapa sih ya, mungkin karena saya emang ibuk2 yang juga merasakan hal yang sama, atau karena saya capek banget liat anak kecil nendangin emaknya di mol ketika merengek minta mainan.

Inilah yang akhirnya bikin saya enggak Cuma berenang, tapi justru diving. Menyelam sampe ke laut dalam dunia anak-anak, dan memulainya enggak kursus sama NAUI yang udah lengkap materinya, tapi belajar otodidak. Narcosis mah udah berkali-kali. Untung gak pernah ngerasain dekompresi. Ya jangan sampe. Aamiin.

Pentingnya buddy

Seperti juga belajar diving, satu hal yang paling saya syukuri terus adalah; buddy. Iya, keberadaan teman-teman saya yang sebenernya sama newbie nya, sama2 baru belajarnya, tapi sama2 siap nyelem dan belajar nyelem terus gak mau berhenti.

DSC06140

Kami gak pernah jadi pelari sprint, karena mendirikan daycare gak akan bisa di-drill harus cepet. Kami marathon, bahkan triathlon. (lama2 gue berasa atlet, semuanya di-olahraga-in hahaha) karena harus melewati jalan yang panjang, dengan obstacles yang begitu banyak variabel-nya, dan kadang cedera gak terhindari.

Taman Main 2.0

Nah justru karena makin dijalanin, langkahnya makin perih, makanya kami gotong-gotongan dan terus ngisi yang bolong. Sampe akhirnya di usia 1 tahun 6 bulan berjalan, kami ngerasain juga yang namanya FULL HOUSE. Bahkan sekarang waiting list. Yeay alhamdulillah. *keprokLagiDong*

Ya emang kapasitas Taman Main enggak banyak, Cuma 19-20 anak aja. Bukan sih, bukan karena keterbatasan jumlah tempat tidur, atau tante pengasuh, atau apalah. Itu semua bisa dicari. Tapi kami enggak mau anak2 dijejelin kaya ayam diangkut pake truk. Yang penting banyak, jadi hasilnya banyak. Duh. Ngeliat ayam aja kasian, masa mau gitu sama anak2 kecil.

Taman Main itu luasnya Cuma 300-an meter persegi, kalo anak-anak gak dikasih space buat jumpalitan, gimana mereka  mau belajar jalan, lari dan lompat? Gimana mereka mau puas eksplorasi? Gimana mereka mau tumbuh happy, kalo gerak aja susah? Dan pada akhirnya, mikirin untung selalu kalah sama  baper. HAHAHAHAHA…

Inilah kenapa, kami berpikir untuk mulai ekspansi. Dan melahirkan Taman Main Petualang.

Apa sih taman main petualang?

Pengalaman berjalan membuat kami akhirnya mengambil sikap dan posisi bahwa Taman Main punya filosofi Pendidikan yang efektif juga. Ciyee..hahaha..

Dan kami nyebutnya 5 AKAR CAPAIAN TUMBUH KEMBANG. Didalamnya kami menjelaskan bahwa yang kami dahulukan adalah Pendidikan emosi berbasis keluarga. Bahwa orangtua penting membentuk attachment/koneksi dengan anak sebelum yang lain2nya. Kehadiran kami adalah untuk menjadi partner ortu melakukannya.

5akar_untuk sosmed-01

Faktor pentingnya ya 5 akar itu: Pendidikan, moral spiritual, lingkungan, nutrisi dan komunitas tentunya. Caranya dengan bermain. Nah dari situ, akhirnya kami sepakat untuk berkolaborasi lebih banyak dan lebih luas untuk mewujudkan visi dan misi kami. Disitulah Taman Main Petualang hadir.

Kami bikin website http://www.tamanmainpetualang.com yang isinya segala informasi mengenai kehidupan balita dan sekitarnya, lalu bikin catering makanan anak, lalu ada juga learning centre yang tujuannya bikin kelas untuk pengasuh dan rencana parenting class yang jemput bola ke kantor2, kemudian kami juga bikin brand sendiri untuk penitipan anak diluar taman main wijaya. dan gong-nya tentu saja mendirikan pre-school, bernama KB Petualang.

Unit bisnis tambahan, dengan kolaborasi, dan biar branding-nya jelas aja, gak semuanya numplek under nama TAMAN MAIN. karena basically taman main itu kan daycare di wijaya.

On progress sih semuanya, doain ya agar semua lancar dan berkembang. Hehehe..aaamiin..

Akan lebih gila..

Saya tau sih, ini langkah besar yang gila. Tapi kalo gak diambil, maka kami akan stuck di kotak nyaman dan gak kepingin bergerak. Sementara peer perkara anak usia dini kan semakin banyak, luas dan besar. Gak bisa lagi di entar-entar.

Harus gerak. Harus nekad. Harus berani. Harus gila.

Saya tau banget, besok2 saya akan lebih sering ngalamin narcosis over and over again. Tapi, kalau gak menyelam lebih dalam, dan mencoba menyelam di berbagai wilayah, maka yang kita lihat hanya terumbu yang itu2 aja. Research ke mahluk laut lain gak akan lebih banyak, artinya yang bisa kami lakukan juga gak akan menjangkau lebih banyak.

Ya bukan berarti juga dengan mendirikan taman main petualang lalu kita bisa mengubah dunia dalam hitungan detik. Hahaha..ya GAK MUNGKIN. Tapi setidaknya, kami berusaha. Setidaknya, kami mencoba mengambil peran dalam menguatkan yang lain. Setidaknya, kami bekerja keras untuk mewujudkan sebuah cita2; masa depan kids jaman later yang lebih baik.

Mimpi banget? iya mungkin emang mimpi banget. tapi, gak ada salahnya kan punya mimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya?

Bersyukur

Tapi diluar semua itu. diluar deg2an yang gak berhenti2 ini. Diluar berbagai masalah yang masih harus kami hadapi sekarang. Diluar hitung2an yang kelihatannya enggak masuk akal. Saya, sejujurnya, mellow banget sabtu lalu.

Cara saya memandang taman main yang sekarang sudah enggak semulus dua tahun lalu, jadi penuh dengan rasa haru. Ya ampun, dua tahun. Saya dulu sempat mikir bahwa kami enggak akan bertahan boro2 berkembang, sampe dua tahun. Saya sempat hampir menyerah di tahun pertama, karena capeknya dan ujiannya yang luar biasa.

Kami sempat bolak balik berantem. Bolak balik saling ngamukin satu sama lain. Bolak balik saling berbeda pendapat. Beneran deh. Meski, memang pada akhirnya, ada satu hal yang kembali mengumpulkan kami. Passion.

Mimpi besar kami. Cita2 ini. Keinginan yang sama dan rasa saling memiliki satu sama lain. Membuat kami akhirnya terus kembali. Yah, baru sebentar lah. Dua tahun mah masih batita. Masih belajar lari lurus dan ngomong lancar, kalo anak manusia. Belum apa2.

Tapi buat saya, yang bahkan tadinya enggak pernah kebayang akan terjun ke dunia Pendidikan anak-anak, dua tahun adalah angka besar. Kalo orang2 bilang “gak kerasa ya tau2 udah dua tahun..” buat saya dan teman2 sih ENGGAK YA. Hahahahaha…karena buat kami itu berasa banget!

Makanya sabtu kemarin rasanya mellow banget. alhamdulillah ya Allah makasih banyak, kami masih ada disini dan bahkan terus berusaha bergerak, jalan tertatih, berpegangan melewati rintangan bareng2.

Buat kami, ada rasa syukur yang amat besar, bahwa ada sebegitu banyak orang tua yang percaya sama kami. Mau membagi visi misi pengasuhan anaknya Bersama kami. Mau bekerjasama dan mengatur derap langkahnya bareng kami.

Kami juga bersyukur banget punya tante-tante yang loyal. Tante2 disini maksudnya tante guru daycare yaaa..hehehe..kehadiran mereka yang bekerja emang semata2 karena cintanya pada anak2, karena rasa memilikinya pada kebersamaan kita, karena juga mengamini setiap filosofi dari Taman Main, adalah sesuatu yang besar buat kami ditengah deraan kelakuan kids jaman now yang nilai2nya mulai tergerus.

Ada banyak sekali rasa kebersyukuran dalam hati saya, kemarin. Dan senyum keluarga2 yang hadir bermain dan bersenang2 seharian kemarin itu, bikin semangat baru dalam hati. Mereka adalah nyawa kami, orang-orang yang gak pernah menyerah sama kami, orang-orang yang percaya pada kami.

Bagaimana mungkin kami enggak percaya pada diri sendiri, bagaimana mungkin kami menyerah di jalan yang masih pendek ini?

Baru kali ini saya ngerasa sebegini-nya sama kerjaan. Baru kali ini saya merasa bahwa yang involve didalam bidang professional ini bukan hanya otak dan tenaga, tapi justru hati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s