Belajar lagi soal empati

Gallery

You don’t know what others are going through. Oh, no, you don’t!

Bukan, tulisan ini bukan tentang chester bennington. Ini tentang saya, dan hobi judgement dalam hati tiap ngeliat orang. Yang akhirnya patah karena berbagai pengalaman.

Let me tell you a story..

Tante saya yang juga membangun taman main bareng-bareng, punya cerita bagus banget yang bikin hati terenyuh. Cerita ini tentang seorang pegawai catering di sekolahannya dulu. Ibu ini, didaulat untuk tanggung jawab masakan anak-anak. lalu suatu saat, dia pergi berbelanja ke satu supermarket besar.

Ketika itu, dia sedang gak punya uang dan banyak masalah. Dalam situasi kalut, dia gak bisa mikir jernih. Akhirnya setelah beli bahan2 masakan, dia menyelipkan mayonnaise ke balik jilbabnya. Saat bayar di kasir, petugas langsung nangkep dia. Karena ternyata sudah keliatan di cctv. Dibawalah dia ke manager yang saat itu, ternyata baru naik jabatan.

Dia minta maaf dan minta penyelesaian baik2. Dia bahkan sudah bersedia mengganti. Tapi manager gak mau, dan tanpa perasaan dia minta ditindak hukum. Pihak sekolah pas denger, langsung bergerak dong. Tante nung sendiri yang terjun kesana, dan bersedia membayar berkali lipat kalo perlu.

Tapi manager bergeming dan proses hukum tetap dilanjutkan. Endingnya? Ibu ini harus mendekam di penjara….DUA TAHUN. Padahal dia masih punya anak kecil, yang bahkan masih nenen. Kebayang gak?

**

Gimana perasaannya pas baca? Kalo saya TERTAMPAR.

Gini, yang dilakukan ibu itu memang salah. Dia mencuri. By rules, dia memang harus kena hukuman.

Tapi, bukankah kita manusia yang seharusnya punya pertimbangan manusiawi ya?

*look who’s talking* heu.

Saya adalah manusia kaku, semi robot, berasal dari planet Vulcan yang heartless. There! Mungkin si manajer toko punya pertimbangan politis mengingat dia perlu menunjukkan giginya sebagai bos baru. Kalo saya, biasanya bahkan engga punya pertimbangan. Saya dididik untuk tunduk pada aturan.

Buat saya, kebenaran yang hakiki adalah mengikuti peraturan yang berlaku. Disiplin. Taat. Titik.

Saya akan menerapkan aturan yang saklek, pada siapapun dan apapun ceritanya. Sebab dimata saya, semua orang sama.

Tapi Allah belakangan sering sekali menegur kelakuan itu. Salah satunya dari cerita tadi. Banyak hal yang akhirnya bikin saya malu dan belajar. Bahwa kita manusia, ya harus manusiawi.

b330cf6f2c92e3a686914847d38e1dfe

Terlalu jauh? Ok, ambil contoh yang paling mudah..

Ibu2 naik motor, mau belok kanan ambilnya dari kiri. EMOSI GAK? harus ibu2? Iya, karena kebanyakan emang ibu2 yang kelakuannya macam gitu. Saya suka marah-marah, dan selalu bilang “Apa susahnya sih ngikutin peraturan?”

Kemudian, seperti biasa pria paling manusiawi yang hidup sama saya itu akan bilang “Kamu itu manusia apa beton siih? Gak boleh lho judgement. Kita kan gak tau apa yang sedang dia hadapi..”

Debat sih pasti. Sampe akhirnya nonton ulang film pursuit of happynes. Inget gak adegan ketika Chris Gardner narik anaknya buru2 naik bis, sampe boneka capt. America nya jatuh dan tertinggal dijalan. Inget gak, ketika itu dia menerobos antrean, bikin orang marah, dan bahkan (mungkin) merugikan orang lain.

Melanggar aturan? Iya. Tapi, kita semua tau kan kenapa dia melakukan itu? Karena harus buru2 sampe ke shelter biar dapet tempat tidur. now u know what I mean, right? You don’t know what others are going through..

**

Contoh

Belakangan ini ada video viral yang tentang hakim dan ibu2 di persidangan tiket parkir, US. Ketika ibu2 itu menangis dan cerita bahwa anaknya dibunuh, dan dia kehabisan uang, dan dia berada di masa2 terberat dalam hidupnya. Sudah nonton? Kalo belum, nih saya post:

Sudah nonton 13 reasons why? Serial yang menurut saya sebetulnya bahaya kalo ditonton ABG, tapi buat saya berfaedah banget, karena itu PARENTING HACKS!

Atau sudah nonton film The Judge? ketika si hakim ini mengambil keputusan hukum berat, dengan niat menyelamatkan. Dan keras sama anaknya, pun dengan niat yang sama, tapi gak semua orang bisa mengerti?

Kalo dibahas, bisa ada sejuta contoh mengenai hal ini. Tapi saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan, yang akhirnya benar2 mengubah cara pandang saya terhadap sesuatu:

Rules are rules

Iya benar, aturan ya harus ditaati. Sebisa mungkin. Kisah2 yang menuntut pertimbangan manusiawi tadi, enggak selalu bisa jadi pembenaran untuk bikin UU yang membantah UU yang sudah berlaku. Enggak selalu bisa menempatkan setiap situasi sebagai situasi darurat yang membuat kita boleh melanggar aturan. Enggak juga bisa dipakai ke setiap orang, karena manusia biasanya emang gak boleh dikasih celah, bawaannya curang! Nyetir di bahu jalan tol karena buru2? Please..

Tapi enggak semua hal harus saklek dikasih hukuman kalau melanggar. Atau gak semua juga harus dihukum dengan cara yang sama. Hey, siapa yang merasa bahwa UAN itu hukuman? Saya iya. karena seharusnya ilmu tidak distandardisasi, bukan?

fair

Mencari akar masalah

Iya, assessment. Pertimbangan yang dilakukan oleh pengambil keputusan, haruslah bijak dan melihat dari semua aspek. Gak Cuma satu: rules. (atau bahkan pertimbangan politis yang sebetulnya gak berfaedah kepada orang banyak)

Setiap manusia itu unik. Setiap manusia berbeda. Begitu juga dengan kisahnya. Kalau saja ibu tadi nyolong di supermarket bukan dengan kisah seperti itu, misalnya dia bohong dan dia nyolong karena pengen aja, ya tentunya dia harus dapat ganjaran, bukan? Nah setelah itu baru bahas bentuk ganjarannya, ini juga membutuhkan pertimbangan lagi.

Assessment, memang butuh waktu lebih lama. Akan lebih praktis jika langsung putusan dan menjatuhkan hukuman.

Tapi bukankah begitu juga ketika mengurus anak? bukankah lebih mudah ngasih time out, kalo anak bertingkah, ketimbang assessment, acknowledge, dan assisting? Coba deh misalnya anak kecil itu ngamuk gak jelas, dan mecahin piring. Enak mana?

“Kamu ini bertingkah aja! Jalan jongkok 100 kali!”

Atau

“Adek ngantuk? Adek bosan? Adek kelihatan kesal ya. Mama bisa liat adek kesal. Iya mama ngerti, ada yang gak enak di hati ya. Tapi memecahkan piring itu bahaya lho, kalau kena tangan bisa luka, kan. Yuk kita beresin piringnya, mama bantuin ya.” Lalu peluk anaknya, temani, dan hilangkan kesalnya.

Enak yang pertama pasti. Ringkes.

Tapi dampaknya? Ya itu anak kalo gede nanti jadi orang kaya saya, yang heartless. Believe me, I know.

Dan ini kelemahan kita juga; mendengarkan. Kita lebih suka bicara, ngomelin, ngasitau, tapi gak pernah punya waktu untuk mendengarkan.

Bunuh diri

Belajarlah dari 13 reasons why, ketika seorang ABG bunuh diri karena masalah ecek2 yang -kalo orang dewasa yang liat- gak penting. Buat kita iya, gak penting. Buat mereka?

Apa sih masalah besarnya? Hormon! Masa ABG itu berat, karena mereka sedang mengalami peraliihan besar. Tapi tingkah lakunya memang jadi LUAR BIASA. Kalo mama saya dulu bilang “Mama mah mendingan ngadepin tantrum balita ketimbang kelakuan ABG yang mendadak liar!” hahaha… yes, u can put your finger on me.

TANGAN TUHAN

Gak semua orang punya hati yang kuat, dan gak semua masalah bisa dihadapi dengan tenang. Tapi sebaik2nya manusia adalah yang memberi manfaat bagi banyak orang. Akan lebih baik mana kalau kita memberi judgement yang tendensius atau menemani dan menjadi pendengar?

Dua2nya sama2 gak keluar uang, dua2nya pun sama2 ngabisin waktu. Pilih mana?

Bahkan setiap daun jatuh pun sudah takdir Allah, bukan? Apalagi hidup kita. Tidak ada kisah yang sama persis. Meski kelihatannya mirip, tapi selalu ada elemen yang membedakan. Wajah dan karakter aja gak ada yang sama. Gak usah manusia, kucing aja beda kok satu sama lain.

Iya, Tuhan kita itu details. Ia punya aturan yang harus ditaati, namun di sisi lain Ia menciptakan mahluk yang berbeda-beda satu sama lain. Padahal kan praktisnya bikin aja sama semua, kaya mesin cuci. Toh aturannya ada. Bikin semua mahluk-Nya sama persis, jadi aturan bisa jalan, dan semua on track. Nikmat kan?

Tapi kan enggak. Lalu kalau Tuhan aja begitu, kenapa kita yang diciptakanNya malah bikin standardisasi, seolah semua mahluk organic ini adalah mesin. Percayalah, kopi dari beans yang sama aja rasanya bisa beda2 tergantung suhu air, penyimpanan, waktu seduh, bahkan tergantung orang yang bikin.

kalo di agama saya, sholat itu wajib. Tapi gak harus sambil berdiri, bahkan bisa dilakukan sambil tidur. Jadi wajib, tapi penerapannya fleksibel. Karena manusia bukan mesin, ya kan?

Kita boleh lho menciptakan mahluk yang bisa distandardisasi, mesin, robot. Biar praktis dan mudah diatur. Tapi kita gak akan pernah bisa melakukan hal itu pada mahluk organik.

Kecuali, mungkin, kalo emang pengen banget bikin semua orang sama-sama bisa tunduk sama aturan ya memberikan dulu kebutuhan semua orang. Terjamin dari sisi2 primer seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, sekolah dan pekerjaan. Lalu berikan aturan yang sesuai dengan kemampuan yang sudah disamakan itu. Mudah? Ya enggak. Tapi bisa dicoba kok..

Empati

Karena akhirnya saya belajar, maka saya punya tanggung jawab. Iya, anak saya. Saya sudah belajar dari kesalahan pengalaman masa lalu, yang membuat saya jadi kaku. At this point, saya juga bisa mengerti kok, karena dulu situasinya berbeda. Yang mama saya lakukan bukan karena dia enggak sayang sama saya. Tapi karena kondisinya memang sedemikian mepet.

Saya gak nyalahin dia, apalagi merasa dia adalah ibu yang gagal. Duiileh. Mana ada ibu gagal. Tapi, saya belajar. Bahwa yang dulu itu harusnya bisa diperbaiki. Dan saya berusaha memerbaiki diri sendiri, untuk mengasuh Abib.

Parenting itu bukan hanya soal menerapkan aturan, bertanggung jawab secara teknis, dan mengajari anak untuk belajar klasikal seperti calistung. Parenting itu tentang mendidik manusia menjadi manusia. Manusia yang bisa menempatkan diri dalam posisi orang lain. Manusia yang punya empati.

Dan ini lah akar-nya dari apapun pohon yang akan kita semai nantinya. Mulai dari sedini mungkin.

Teguran besar (lagi)

Terakhir, saya waktu itu sempat mengalami kecelakaan yang ngagetin dan Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan kami. Jadi, saya nyetir ditemani adek saya dan Abib. Kami mau makan siang bareng2. Di perempatan, sisi saya sudah lampu hijau, jadi saya jalan dong.

Tiba-tiba dari sisi kiri, mobil saya ditabrak kencang oleh mobil lain yang ukurannya cukup besar. Ya Allah yang waktu itu ada dikepala saya Cuma minggir, karena saya gak mikirin mobilnya, saya mikirin dua penumpang ini. Nyawa mereka kan tanggung jawab saya.

Mobil yang nabrak? Kabur. Tapi Allah siapkan bala bantuan buat saya, ada beberapa bapak2 yang langsung sigap bantuin. Benerin bumper belakang yang copot biar saya bisa jalan ke bengkel terdekat. Jangan tanya rasanya? Takut setengah mati sampe gemeteran.

Tapi malamnya, dirumah, ketika saya cerita sama poe, tentu saja dengan penuh judgement ya kan, hahaha..

“Aku kan udah bener, ded. Itu lampu ijo ya aku jalan dong, dia gak ngerem aja gitu sama sekali nerobos lampu merah. Mana kabur lagi habis itu. Ngeselin banget deh ih!”

Dan jawaban poe bikin saya diem. “Mungkin itu supir aja, dan dia takut lah kalo harus tanggung jawab. Dimaafkan aja ya. Nah soal bener atau salah, ya gak bisa distandardisasi dong. Iya memang kamu benar, jalan ketika lampu hijau. Dan dia salah, karena melanggar lampu merah. Tapi yang harus kamu pahami adalah..kenapa sih aturan lampu lalu lintas dibuat? Agar aman, kan? Maka yang ada di kepala kamu harusnya AGAR AMAN, bukan Cuma nurut aturan kaya mesin.

Kita hidup di dunia manusia, apapun bisa terjadi. Maka, jadi kesalahan kita juga kalo enggak waspada. Harusnya kamu lebih waspada, dan sigap, sebagai upaya preventif. Itu lah yang akan kamu lakukan kalo mencari AMAN. Bukan ngerasa benar, hanya karena ikut aturan..”

Iya juga ya?

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s