Series: Melbourne Trip (Day 3)

Gallery

Day 3—23 Maret 2017

Haii!!! Hari kamis sudah tiba. Yeay! Soalnya kalo di Melbourne, hari kamis sampe minggu, toko dan restoran tutupnya agak lebih sore. Maklum sudah dekat akhir pekan.

Saya masih bangun pagi di Lysterfield, dan masih gagal lari pagi, karena udara 20 derajat celcius itu enakan dipake buat selimutan. Hahaha..

Rencana awal hari ini mau berangkat pagi ke scienceworks dan planetarium di Spotswood. Letaknya ditengah-tengah antara suburb dan city. Makanya, kami berencana, sehabis main di planetarium mau main di brighton beach. Iya, dalam kunjungan saya 2 tahun lalu, gak kesampean ke pantai hits yang banyak rumah2 warna warni lucu itu.

Soalnya saat itu kan bulan Mei, dan udara udah dingin banget sepanjang hari. jadi, main ke pantai bukan opsi. Sempat ke st Kilda Beach waktu itu, dan Cuma makan pizza aja gitu, karena udaranya dingin banget. nah, karena sekarang cuaca masih mendukung, mau dong foto-foto disana.

Science works and planetarium

Ok, rencana yang indah berangkat jam 9.30 pagi. Realita? 12.30 saja. Hahahaha..ya maklum aja deh, si Niar dan Fadil kan anaknya 4 ya. Nyiapinnya aja butuh berjam-jam. Ya sayamah oportunis aja, mayan deh bisa sarapan dengan tenang.

So, kami berangkat dengan berbekal tumpukan roti isi mozzarella dan minuman seabrek. Perjalanan Cuma makan waktu 25 menit lah dari rumah. Dan apa yang terjadi di scienceworks? YASMINA’S HAPPINESS!!! Hehehe..

Sebetulnya saya juga tau tempat itu karena postingannya si Fifi waktu main sama lola lana. Dan jadi penasaran, sekaligus, yaudahlah ya, namanya juga bawa anak, ya masa agendanya shopping doang. Ternyata tempatnya benar2 membahagiakan buat fans berat logika dan cerita macam  saya ini. Tapi emang saya gak ambil banyak foto, dan lebih banyak video, karena ilmunya bermanfaat banget.

Selain ya, karena kan yang dijagain banyak sis..

This slideshow requires JavaScript.

Tapi serius deh, bagi Anda sekalian yang berencana ke Melbourne, scienceworks harus masuk itinerary! Bawa anak atau gak bawa anak, tempat itu amat menyenangkan. Selain itu, gratis cuy. Yang bayar, seperti biasa, Cuma saya. Karena pemegang kartu concession free, anak2 dibawah 16 tahun juga free. Yang kaya gitu kalo diterapkan di Jakarta mah udah pasti kelar buyarrrr

Bayarnya juga gak mahal kok Cuma 14 aud. Tapi masuk ke planetarium nya nambah 6 dolar. Emang sih sudah dibilangin bahwa planetarium akan lebih menarik untuk anak usia 8 tahun ke atas, tapi ya gapapa juga kalo anaknya seneng liat bintang.

Bersenang-senang bersama sains

Anyway, di scienceworks nya kita diajak bertamasya ke dunia science dalam bentuk yang sangat menggembirakan. Dibahas sejarah penciptaan gadgets, music, kendaraan, uang, sampe segala tetek bengek environment dan teknologi untuk mencegah kerusakannya.

Ada simulasi pembuatan mobil, game yang ngajak anak2 bikin tubuh baru ala robot yang penuh muscle, sampe arena sports yang ngajak kita bereksperimen dalam berbagai bidang olahraga namun didalamnya ada penjelasan science.

Dilantai atas, ada arena yang lebih ramah balita. Karena ada berbagai permainan berbasis sains, namun  bisa dimengerti anak2 karena bentuknya seperti mini playground. SERU BANGET ASLI.

Planetarium nya sih sama seperti yang di TIM, tapi yang dijelasin adalah sejarah dan penjelasan mengenai gugus bintang diatas langit Victoria. Menarik banget, dan langsung kita praktekan malemnya. Hahaha..

Di halaman scienceworks ada playground dan picnic area, yang bisa dipake main2, makan, selonjoran bahkan sholat. Tapi ya, seperti biasa, jam 5 sore udah tutup. Belum puas sih sebenernya, tapi seneng banget!

That trendy’s brighton beach

Jam 5 kelar dari sana, berhubung masih terang banget, ya langsung lah ke brighton.

Yang -setelah saya menginjakkan kaki disana- rasanya seperti di carita beach. Hahaha. Gak berasa deh ostralinya, karena kebanyakan orang asia lagi foto2. Kata Fadil, kalo bule2 lebih milih untuk menikmati brighton di sisi kanan yang gak ada rumah2 ganti baju lucu itu. Karena mereka bisa ngajak jalan2 anjingnya, olahraga, atau sekadar menikmati makanan dan minuman.

DSCF2258

Di sisi rumah2 lucu itu memang hanya ada 1 mobil besar penjual eskrim dan hotdog yang rasanya enakan hotdog XXI believe me. Emang sih, rumah2 itu photospot yang catchy banget. ditambah banyak seagull yang rakus. Menarik juga, tapi gak sebagus ekspektasi saya. Jadi, ya cukup tau aja.

Sebagai orang Indonesia yang punya ribuan pantai bagus, brighton mah ya gitu aja. Tapi, emang enak sih, ada pantai bersih yang bisa dikunjungi melepas penat dengan jarak Cuma sekitar 15-20 menit dari city, dan bisa naik tram.

DSCF2311

DSCF2294

DSCF2327

 

BBQ di suburb

Kami disana Cuma sampe sunset jam 7.30 pm, lalu balik ke lysterfield. Karena ada undangan BBQ dirumah mamanya Fadil.  Jarak rumah mamanya Fadil ke rumah Fadil sih deket banget gak sampe 1 km, jadi yaudah, saya sih seneng aja ya lumayan makan enak. Gratis pula hahahaha

Ditengah pms dan udara adem ini, apa aja masuk deh saya mah. Ditambah suasana rumah yang nyaman, dan anak2 yang bisa main2 bebas, ya seneng ya. Kami ngobrol2 sampe jam 11 malem, macam lupa waktu gitu, karena ngunyah ga udah2.

Suasana perumahan di Victoria emang agak aneh sih buat saya. Soalnya, saat udah gelap, semua rumah matiin lampu luar. Jadi dari luar keliatannya kaya semua rumah besar2 itu kosong melompong, wong lampunya mati. Kata Niar, itu emang kebiasaan disana. Ya soalnya memang kalau hari kerja dan sekolah, anak2 sudah harus tidur dari jam 7.30 pm.

Lalu ya, gak ada yang kelayapan keluar, apalagi di suburb.

Setiap rumah wajib punya backyard juga, jadi kalau mau ada BBQ an seperti kami saat itu, ya dibelakang aja. Gak berisik, dan lampu luar tetap mati aja. Enak sih sebenernya. Jadi tenang, dan kalo saya jadi bisa duduk dalam sepi sambil ngeliatin bintang..

Udaranya sejuk, ditemenin kopi sama pisang goreng. The best lah.

Turns out saya cukup senang dapat kesempatan nginep di suburb. Sebab 2 tahun lalu kami benar2 nginep di apartemen di city. Kali ini istimewa juga bisa ngelonggarin otot dan gak mikirin sesuatu yang berat2. Bener juga sih, bukan masalah seberapa berat beban yang kita gendong. Tapi seberapa lama kita menahan beban itu dalam gendongan kita. Karena berapapun entengnya gelas isi setengah air, kalo terus menerus dipegang ya paralyzed juga.

Remember to put the glass down ya..

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s