Menjadi Ibu; Menanamkan Nilai

Gallery

Kemarin saya denger sebuah cerita yang menggugah hati banget. Artinya: bikin sedih. Hehe..

Oke, orang ini cerita bahwa nyokapnya baru aja meninggal. Sepekan yang lalu. Dan yang bikin tambah sedih adalah, hmm..saya kutip aja deh ya omongannnya..

“Jadi, nyokap gue punya 4 orang anak. perempuan semua. Dan waktu kita kecil dulu, kita bukan orang berada, cenderung susah malahan. Bokap nyokap gue harus berjuang keras biar kita semua bisa sekolah. Nah, gue sih sebenernya cukup sadar bahwa kemudian nyokap sedih tiap tahun ajaran baru gak bisa beliin kita semua tas dan sepatu baru….

Dia juga selalu keliatan sedih tiap kali ada yang kepengen mainan atau aksesoris (yah namanya anak cewek kan printilannya banyak) baru, dia gak selalu bisa beliin. Karena prioritasnya kan buat makan dan sekolah. So, dia manjain kita. Ya kalo gue sih karena jarak usianya cukup jauh ke adek-adek gue, maka, gak terlalu dapet tuh perlakuan itu.

Tapi adek2 gue semuanya begitu. bingung ngerjain peer, nyokap yang ngerjain. Gak mau nurut sama guru dan nangis di sekolah, nyokap akan tergopoh-gopoh datang dan menyelamatkan dia. lalu sampe pipis di celana, saat di sekolahan, nyokap pun bahkan dateng repot2 bawain rok bersih. Padahal kan nyokap juga kerja jaga toko. Tapi dia rela ngelakuin semua itu, sebagai kompensasi.

Kita juga sering berantem, dan gak ada tuh nyokap marahin yang tegas sampe kita kapok. Dia Cuma bisa nyuruh salah satu ngalah, atau di bagi rata aja yang direbutin biar berantem cepet selesai. Permisif banget lah pokoknya. Dan belakangan, saat anak-anaknya udah gede, dia kaget.

Ya, soalnya adek-adek gue, dan mungkin gue juga ya, emang jadi kurang ajar sama nyokap. Bisa loh mereka nelepon nyokap dari sekolah dan nyuruh-nyuruh siapin ini itu karena temen2nya nanti sore mau main kerumah. Atau nyela masakan nyokap. Atau ngebentak2 nyokap. Bahkan bisa sampe ngambek berhari-hari hanya karena salah kecil yang dilakuin nyokap.

Belakangan nyokap juga sering curhat sama gue, minta tolong ngebilangin adek2 agar gak nyakitin hati nyokap. Dia, yang sekarang2 ini, rajin ikut kajian agama mulai paham bahwa dia udah salah ngedidik anak-anaknya dengan manjain. Dia bahkan ngasih banyak ayat qur’an yang menceritakan bahwa anak itu adalah ujian bagi orang tua.

Gue sedih banget, tapi adek2 gue tuh susah sekali dibilangin. Sampe akhirnya nyokap sakit. Dan tiba2 dia manggil kita semua kemudian minta maaf. Bayangin deh, dia yang minta maaf. Dia bilang “Mama minta maaf ya karena dulu ternyata salah mendidik kalian. Mama dulu sedih, karena gak bisa beliin ini itu yang kalian mau. Akhirnya mama berusaha melayani kalian agar kalian senang. Ternyata itu namanya terlalu manjain, dan akhirnya kalian malah jadi memerlakukan mama seperti ini. berani nyuruh2 mama, berani membantah, semuanya tergantung pada mama. padahal bukan itu yang mama harapkan. Ini mah mama jadi bikin kalian berbuat dosa setiap hari..”

Setelah dia bicara itu, adek2 gue baru paham, bahwa dimanjain nyokap sebagai kompensasi, bukan berarti mereka bisa memerlakukan nyokap kaya ART. Sayangnya seminggu kemudian nyokap malah meninggal. Dan kami nyesel gak udah-udah..”

Fffuuhhh..

Sedih ya?

Iya, saya sediiiiiih banget dengernya, sekaligus ngeri. Mengingat bahwa belakangan ini, konsep parenting yang muncul adalah “membiarkan anak”. dengan alasan kreativitas. Bahkan sampai melupakan prinsip kuat yang harus dipegang. Dan kenyataannya memang belakangan ini, semakin banyak anak yang bisa sangat kurang ajar sama orang tuanya.

quotes-about-friendship-and-family.jpg

Saya baca disini dan menemukan kalimat ini: “Orang tua juga kadang dapat menjadi “budak” dari anak-anaknya. Dalam realitas keseharian mereka sibuk mengurus anak-anaknya sampai dewasa, bekerja mati-matian mencari uang untuk memenuhi segala permintaan dan keinginannya tanpa perhitungan. Kewibawaan orang tua hilang, ia sering dibentak-bentak anaknya karena tidak mampu memenuhi permintaannya. Bila ia hendak menyuruh anaknya sholat subuh, ia tidak berani membangunkannya, takut anaknya kaget dan khawatir anaknya akan marah”

Heuh. Untung emak bapak gue galak. Hahaha..pas udah gede lalu bersyukur. Saya termasuk anak yang bandel dan sering membantah, waktu ABG. Tapi kalo sudah dibilang “Gak boleh” ya saya gak berani. Banyak lah kegalakan mereka yang sebetulnya nempel di kepala saya, maka saya berusaha untuk bisa menghormati mereka. karena mama saya dulu sering bilang “Kamu gak akan pernah bisa punya rasa sayang sama kami, sebesar sayang kami ke kamu. Maka, hal paling besar yang bisa mengantarkan kamu ke hidup yang berkah adalah menghargai kami. Hormat, santun, segan, dan bersikap baik.”

Nah, saat saya cerita kisah temen tadi ke poe, dia Cuma senyum dan bilang “Iya itulah, anak sekarang sudah kehilangan begitu banyak nilai. Gak Cuma ke orang tua, tapi juga ke saudara, kakak, adik, bahkan sahabat..”

family values 1

Iya ya? value. Itu yang sekarang mulai hilang sedikit demi sedikit. Gak sedikit kisah yang saya dengar, mengorbankan hubungan pertemanan yang sudah puluhan tahun bersama hanya karena rebutan uang atau kekuasaan. Gak sedikit juga tentang adik, yang bisa menagih utang kakaknya sampai berurusan ke bidang hukum, dan membuat kakaknya masuk penjara. Ada juga nilai-nilai kesopanan seperti minta izin atau pamit kepada yang dituakan, kini mulai terlupakan, dan melakukan sesuatu semaunya aja, kapan aja. Padahal kan sedih juga ya, kalau misalnya adik kita mau nikah, tapi gak bilang2 tau2 sudah siap kawin aja gitu.

Jadi, orang tua yang sudah ngurus anak dari lahir sampe besar dengan penuh kasih sayang, sahabat yang sudah pernah nemenin dari jaman susah sampe senang, adik atau kakak yang kita urusin dan jagain seumur hidup, bisa gitu aja terlupakan rasanya. Kadang rasa jatuh cinta yang sepele itu bahkan bisa membuat orang ngelupain hal-hal yang harusnya didahulukan.

Bagaimana seseorang bisa menikahi laki-laki yang gak mendahulukan kepentingan ibunya? Saya ga pernah ngerti. Bahkan sekarang begitu banyak mantu perempuan yang cemburu karena suaminya selalu mendahulukan ibunya. Kan aneh. Apalagi kalo sudah merasakan jadi ibu. Pasti kan paham rasanya..

Buat saya, kalo laki-laki itu gak bisa memprioritaskan ibunya, dia pasti gak sayang keluarga. dia pasti egois, dan enggak bakalan sayang sama saya. apalagi ibu saya. titik.

Trus rebutan waris sama saudara kandung sendiri. Ini juga aneh. Yang mati orangtuanya, emang gak bisa berduka dulu? Harus langsung bahas pembagian harta? Iya, saya paham, semua orang butuh uang dan harta untuk bertahan hidup, bahkan untuk berbagi. Saya juga sering ngajarin abib, agar tidak sepenuhnya ninggalin dunia, dan harus punya lebih harta, nantinya. Supaya bisa berbagi. Gimana mau menguatkan orang lain, kalo kita sendiri gak kuat.

TAPI KAN BUKAN BERARTI JUGA REBUTAN WARISAN SAMA SAUDARA SAMPE MUSUHAN!!

family values 3

Dan yang lebih ngeri adalah, orang bisa berubah sesuai besaran angka yang muncul. Iya, misalnya warisan Cuma puluhan atau ratusan juta. Ya santai aja, legowo, gak mikir. Tapi begitu warisan sampe miliaran, mulailah ribut. Kita sekarang sudah jadi budak harta, ya? bisa berubah sikap dan rasa, karena jumlah uang.

Jadi sekarang saya mulai memertanyakan, kira-kira berapa ya harga saya? hahaha..

Iya, berapa harga yang bisa bikin saya dan keluarga atau teman-teman tetap baik-baik saja? Berapa harga yang bisa bikin saya atau orang-orang disekitar saya berubah? Jumlah uang berapa yang bisa bikin kita gelap mata? berapa harga saudara, orang tua dan sahabat-sahabat kita?

Rasa apa yang bisa bikin saya kemudian melupakan orang-orang yang selama ini selalu ada buat saya? kepentingan apa yang bisa membuat saya mengenyampingkan kepentingan orang yang sayang sama saya? hhh…sedih.

Kejadian-kejadian semacam ini membuat saya takut. Iya, saya pernah kehilangan sahabat karena rasa cemburu membabi buta dari pihak ketiga, saya pernah kehilangan teman karena antar mereka ribut oleh uang, saya juga pernah kehilangan teman yang kini berada di posisi tinggi dan banyak uang kemudian menganggap teman gak ada harganya, maka gak perlu diperhatikan.

Saya sudah berkali-kali melihat orang berubah, dan merasa sedih karenanya.

Dan saya juga sebetulnya enggak tau, jangan-jangan saya juga sudah melakukan perubahan dan ada orang lain yang sedih karena itu? semoga enggak ya. tapi kalo memang ada, please let me know ya. please kritik aja saya dengan keras. Huhu..

Kita enggak akan pernah bisa memuaskan semua pihak, hidup kita enggak buat nyenengin semua orang. Namun kayanya, yang penting adalah tetap melaksanakan nilai-nilai kebaikan antar sesama ya? Begitu juga menjadi orang tua, menurut saya, kadang ada baiknya kita melihat si anak kecewa. Ya, karena dia harus belajar menerima rasa kecewa, sedih, cemburu, marah dan sebagainya. Kalo segala kebutuhannya terus dipenuhi, ia gak akan belajar.

Ada nilai yang harus ditanamkan sejak kecil, dan buat saya, itu gak ada hubungannya dengan kreativitas. Ada hal-hal yang dengan jelas dilarang agama, dan norma kesopanan serta kebaikan, maka itu tetap harus diberlakukan dengan tegas. Semua orang pasti suka diperlakukan dengan baik, dan disayangi. Untuk itu, harus dimulai dari diri sendiri, bukan?

Enggak gampang, mungkin, di zaman yang lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri, seperti sekarang ini. tapi pasti bisa, lah. Pasti. Gusti, semoga saya bukan termasuk orang tua yang akan menyesali didikannya. Kalo kata om saya, tiap ngomelin sepupu saya: setiap orang akan menuai yang ditanamnya. Bismillah, harus lebih baik lagi setiap hari.

Btw, selamat hari ibu. Semoga kita semua bisa bersikap lebih baik pada ibu, ibu mertua, dan ibu-ibu lainnya. Semoga setiap ibu juga bisa selalu konsisten dalam mendidik anak-anaknya, sesuai tuntunan agama. surga di telapak kaki ibu, dan masa depan bangsa juga ada di tangan seorang ibu….

family values 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s