Belajar Ikhlas (Lagi)

Gallery

Kemarin, adalah (semoga) rangkaian terakhir dari hal-hal sedih yang terjadi setelah mama sakit. Meninggalnya mama, dan kehilangan rumah tempat kami tumbuh, jadi seri yang menarik dari perjalanan hidup saya.

Rumah di Pasar Minggu itu dulu didapatkan mama pada 1985. Saya usia setahun dan adek saya baru mau lahir. Rumah itu amat murah dan mudah, karena pembayarannya dicicil dengan potong gaji berpuluh tahun. hehe..ya terdengar mudah sih untuk yang berah-betah aja jadi PNS.

Keterikatan saya pada rumah palapa, mungkin tidak sekuat hubungan mama dengan itu rumah. Tapi sejak mama enggak ada, saya jadi selalu merasa mama masih ada, setiap melihat rumah itu. Dan tiga bulan lalu, saya jadi salah satu orang yang turut menandatangani persetujuan penjualan rumah, di depan notaris, pembeli, dan keluarga.

*inhale *exhale

Ya, rumah itu, sudah resmi jadi milik orang lain sejak 3 bulan lalu. Namun, baru resmi ditinggalkan kemarin, Sabtu (30/01).

Sebab, papa dan adek saya harus bangun rumah dulu di Depok. Oh iya, sekarang mereka tinggal di Depok, dengan harga tanah yang JAUH lebih murah—jadi bisa beli tanah dengan ukuran lebih luas dan suasana yang kampung dan alami.
**
Lucu juga ya sebenarnya?

Saya tinggal disitu sejak usia 1 tahun, hingga menikah di usia 25 tahun.

Tapi, saya mungkin satu2nya orang yang menghabiskan paling sedikit waktu dirumah itu. Sebab, 4 tahun saat kuliah, saya ngekos di Bandung. Lalu ya masa SMA yang pulang Cuma buat tidur, dan masa kerja yang berangkat jam 9 pagi, sampe rumah hampir selalu diatas jam 10 malam setiap hari. Kemudian setelah menikah, saya Cuma tinggal sekitar 10 hari disana, kemudian ngontrak rumah di Otista.

Hehe..saya memang lebih banyak menghabiskan waktu diluar, ketimbang dirumah.

Meskipun demikian, bukan berarti saya enggak menitikkan air mata, kemarin, saat bantu angkut-angkut barang pindahan. Saya membayangkan, akan aneh sekali rasanya berhenti berkunjung kesana. Padahal biasanya sepekan sekali saya sempatkan main.

Senang juga sebenarnya karena sekarang papa dan adek saya sekeluarga punya rumah baru, dengan design sendiri di lokasi yang mereka pilih, sesuai keinginan. Meski rasa kehilangan, ya tetap ada. Kehilangan kenangan yang hanya ada dirumah pasar minggu.

Dan dengan hilangnya kepemilikan rumah itu, saya baru deh merasakan benar-benar enggak ada mama lagi di dunia ini. hehe..Mama benar-benar sudah meninggalkan saya.

Mungkin ini salah satu cara Tuhan mengajak saya untuk benar-benar ikhlas. Mengikhlaskan Mama, yang hingga kini, kadang masih naik-turun. Sebab, setiap kali saya main kesana, saya masih bisa melihat mama jalan mondar-mandir. Setiap kali saya tidur-tiduran di kamar Mama, saya seperti masih berasa lagi ngobrol sama Mama, masih bisa mendengar suara tawa mama yang lembut.

Setiap melihat teras belakang, saya seperti masih bisa membayangkan omelan mama tiap hari karena capek-capek pulang kantor, dan menemukan saya lagi asyik berenang di kolam ikan. Tiap menatap pintu kamar saya, rasanya masih terbayang panggilan Mama yang membangunkan saya tiap pagi.

Masih, iya, masih.

Dan kemarin, di rumah Depok, saya tidak melihat Mama sama sekali. Tidak ada lagi.

**
2015-01-31 14.27.14_1

Oiya, Ini adalah foto satu-satunya yang saya ambil saat meninggalkan rumah Pasar Minggu. Padahal sebetulnya Poe sudah ngajak saya foto-foto didepan rumah, buat kenang-kenangan. Tapi saya menolak. Gak tau kenapa, saya enggak suka mengabadikan kenangan buruk dalam hidup saya, lewat foto.

Persis seperti saat Mama sakit dan meninggal.

Tidak ada satu kalipun saya pernah memotret Mama. Bahkan saya enggak berani menyentuh jenazah Mama, boro-boro mencium atau memeluk. Buat saya, yang tersimpan di kepala saja sudah terlalu menyedihkan, apalagi kalo harus menyimpan fotonya.

Namun malam ini, saat santai, saya buka-buka twitter dan menemukan sebuah twit yang bikin saya mikir. Dari @Factsionary : The more pictures you take during an event or moment, the less you remember it.

Haha.

Jangan-jangan ketidakmampuan saya memotret kenangan buruk itu adalah pilihan yang salah ya?

Jangan-jangan, dengan tidak memotret, saya malah bikin kenangan itu nempel terus di kepala saya?

Hehe..entah deh.

Mungkin salah, mungkin benar. Tapi kayanya mengikhlaskan itu enggak mungkin salah. Ada kenangan atau enggak ada kenangan, ya saya harus terus bisa ikhlas…

Ya gak?

4 responses »

  1. Hai mine… Lama ga ketemu… Sedih bgt bacanya… Maaf baru tau kalo mamah nggak ada jadi rada kaget… Ikut berduka semoga beliau ditempatkan ditempat terindah disana. Amien. Seneng bgt baca tulisan2 mine pertama baca kayaknya yang tentang renov rumah deh… Percaya apa enggak itu yang bikin jd pengen punya rumah sendiri dan akhirnya memberanikan diri buat nyicil rumah di daerah pinggiran bogor… Jadi bingung nih mo nulis apa lagi hehhehe… Sukses aja n salam buat keluarga…
    Dini ( KS 2002)

    • hai diniiii!!!

      hehehe…iya makasih ya, aaamiiin ya rabbal alamin.

      wah ohya??
      alhamdulillah kalo menginspirasi. Gue ikut seneng. Abis gue kan bisanya cuma nulis, belom mampu berbuat banyak. Semoga banyak manfaatnya ya…

      elo apa kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s