Tidur Sendirian? Abib bisa!!

Gallery

Hai parents.

Hihihi…spesifik ya? Soalnya tulisan ini temanya emang parenting banget. Biasa deh, soal life skills. Karena itu hal utama yang saya ajarkan ke Abib.

Gak terlalu penting lah bisa nulis, baca, ngitung di usia balita gini. Santai aja. Yang penting anak itu disiplin, empati, pandai bersosialisasi, bisa bercerita, dan yang jelas harus MANDIRI.
Kemandirian, tentu saja dimulai dari hal-hal sederhana. Haha..sederhana di mata kita, tapi pada realitanya susah banget ngajarinnya.

Seperti toilet training, makan dan minum sendiri, buka dan pakai baju sendiri, berani ke kamar mandi sendiri, cuci tangan sendiri, dan…TIDUR SENDIRI. Yeaaayyy…

Kali ini saya mau cerita soal keberhasilan Abib tidur sendiri. Oooh iya dong keberhasilan dia, bukan keberhasilan saya. Ya kan dia yang berani melawan takut sendirian, dan menguatkan hatinya sendiri. Da saya mah apa atuh, Cuma ibu yang tiap hari mengajak anaknya untuk berani. Sementara keberaniannya ya datang dari dirinya sendiri.

Tekad bulat untuk mengajak Abib tidur sendiri di kamarnya sudah saya terapkan sejak Abib ulangtahun ke tiga. Sebab, usia tiga tahun, dari banyak sumber yang saya baca, sudah dinyatakan siap untuk sapih tidur. Tadinya sih saya mikir, kalo nanti Abib punya adik, saya ENGGAK MAU tidur berempat. Gusti…bertiga aja saya ketendang melulu, apa kabar berempat. No, thanks.

Saya berhak dapat tidur nyenyak. Period.

Tapi, kemudian, saya mikir lagi, kalo abib “sapih tidur” saat sudah ada adiknya, pasti prosesnya akan susah dan lama. sebab, dia pasti cemburu. Loh iya dong? Logikanya, dari berkurangnya perhatian untuk dia aja, udah pasti bikin dia jealous. Apalagi kalo tiba-tiba ‘diusir’ dari kamar? Yah bisa panjang dan drama. Sekali lagi, NO, THANKS.

Sudah cukup ya drama teribble three ini. please lah jangan ditambah lagi. Segini aja udah bisa bikin saya migren tiap hari..

So, ya sudahlah. Sekarang aja.

Jadi saya siapkan kamarnya se asyik mungkin. Manan-mainan yang tadinya tertata di lemari ruang keluarga, saya pindahkan semua ke kamarnya. Sebenarnya dia punya request untuk tempat tidur. Dia mau tempat tidur tingkat yang bentuknya bis. Luar biasa ya kan imajinasi si otak kanan garis keras ini?

PhotoGrid_1416447920013

Saya kasih pengertian aja, untuk tempt tidur seperti itu, kta harus pesan, dan prosesnya makan waktu lama. Nanti saja ya. Pake aja yang ada dulu, kan kasurnya juga empuk dan nyaman. Apalagi banyak mainan dan buku-buku kesayangan.

Alhamdulillah, ngangguk.

Oooh iya, dia juga request minta dibelikan track hotwheels yang edisi hulk, kalo berhasil tidur sendiri. Bah. Tu mainan enggak ada di toko mainan di indonesia, akhirnya saya pesan aja ke amazon. Nanti akan saya kasih kalo dia sudah berhasil-benar-benar-berhasil, tidur sendiri.

Dari november, saya sudah rapikan kamarnya. Tapi dia belum mau tidur sendiri. Akhirnya di November Akhir, dia mau tidur siang sendiri. Artinya: tidak perlu ditemani sampe dia tertidur. Cukup diajak masuk kamar, diselimuti dan dipeluk, lalu dia akan tidur sendiri. Sementara tidur malam masih di kamar kami.

Pertengahan Desember, enggak ada angin enggaka da hujan, tiba-tiba dia bilang mau tidur sendiri. Wah saya kaget bukan kepalang. Ya memang tiap hari, sebelum tidur, saya selalu bisikkan agar dia mau tidur sendiri.

Dia harus berani melawan ketakutannya. Toh kami ada di kamar sebelah, dan pintu kamar tidak pernah terkunci.
Maka, saat dia tiba-tiba minta tidur sendiri, hati saya senang. Buat saya, ini langkah besar yang diambil Abib pada dirinya. Saya tidak pernah mau memaksakan sesuatu, saya maunya ya dia sendiri yang minta. Lega betul, karena saya jadi merasa, waw anak kami sudah besar.

Dan malam itu, dia benar-benar tidur sendiri. Tanpa tangisan, tanpa minta pindah, tanpa drama jenis apapun.
Sayangnya, Poento yang belom siap. Huaahahahahhaa…emang nih ya, senengannya ganggu program belajar saya aja. Poe yang biasanya molor dengan anteng, malam itu melek dan bilang “Aku enggak siap..”

Entah ya, mungkin ada kaitannya karena kekuatan bonding kami, hari berikutnya DIMULAILAH DRAMA nangis tengah malam. Bah.
(OOOh iya, ini saya lagi nyalahin dia. hahahahaha…)

Dan fluktuasi moodnya naik turun sepanjang minggu. Ada saatnya dia tengah malam nangis dan menggedor pintu kamar kami, lalu bilang “Kenapaaaa Abib sendiriaaaaannn??” yaelah. Lalu saya akan temenin dia balik ke kamarnya, elus2 sampe tidur, dan saya pindah lagi. Atau alesan mau pipis. Atau tiba-tiba naik aja ke kasur kami dan nyempil di tengah2.

Kalo saya masih melek, saya pasti akan langsung ajak dia kembali ke kamarnya dan saya temani sampe tidur. Nah, kalo bapaknya ini nih, anaknya nyempil malahan dikelonin. Hmmpppfff…

Pokoknya minggu pertama kurang tidur.

Minggu kedua, drama mulai berkurang. Dari 7 hari, ada 4 hari dia sudah tidak nangis sama sekali. Atau Cuma nangis sekali karena minta ditemenin pipis. Kemudian tidur lagi dgn tenang.

Tapi di sisa harinya itu, bapaknya yang nemenin tidur, kemudian bablas sampe pagi tidur dikamar abib. Hishh..
Kalo saya belom tidur, ya pasti saya bangunin suruh pindah. Eh tapi ada sih satu hari saya banyak kerjaan, dan saya sengaja gak bangunin poe buat pindah karena mau menikmati kamar sendirian. HAHAHAHA…

Nah! Sejak jumat lalu, sampe malam ini, sudah tidak ada lagi tangis malam. Abib sudah bisa tidur tenang sendirian. Hihiiiyyy…ya tapi memang dia belom mau ditinggal sebelum benar-benar tidur sih. Itu Cuma berlaku untuk tidur siang. kalo tidur malem, no. Dia masih mau ditemani sampe tidur.

Gapapalah. Toh perkembangannya juga jelas setiap hari.

Tipsnya ya sama seperti latihan kemandirian lainnya: disiplin dan komitmen. Kalo orangtuanya sudah berkomitmen untuk mengajak anak tidur sendiri, ya disiplin harus diterapkan. Bukan Cuma buat anaknya, tapi juga buat orangtuanya.
Catat ini ya ended!! Hish..

Harus siap menerima segala kerepotan bangun tengah malam berkali-kali dan balikin lagi si anak ke kamarnya, demi hasil yang maksimal. Kalo nurutin kepengenan sih, hadeh, males banget. Kamu belom mau tidur sendiri bib? Oke boleh. Aku juga males kok harus bolak balik kamar kamu dan kamar aku. Aku juga males ngelus-ngelus kamu sampe tidur. Kadang juga bosan harus mengulang ‘mantra’ agar kamu tidur sendiri.

Apalagi sampe niat nyari film anak-anak yang ada adegan si anak tidur sendiri, dan baik2 aja. Lalu nyari buku-buku cerita tentang tidur sendiri.
Repot deh. Hahaha..

Tapi ya mau gimana lagi. Kalau enggak mau repot, ya jangan punya anak. Simple.

Kalo udah punya, ya harus siap repot. Gitu aja. Mau gak mau. Karena enggak ada hasil baik yang bisa dicapai, tanpa usaha dan doa yang maksimal.

Enggak akan ada. Hehehe.. hmmpppfftt

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s