When God Works, it’s Always Worth The Wait..

Gallery

Inget lagu jaman dulu yang hits banget ada di tiap acara graduation? Itu loh vitamin c-friends forever. Hehehee

Kemarin saya harus berangkat pagi, karena ada kerjaan. Di jalan tiba2 denger lagu itu dari radio. Saya jadi senyum2 sendiri karena inget sahabat saya yang sekarang udah balik ke tanah air, setelah menamatkan masternya di Belanda. Sekitar sepekan lalu, dia whatsapp dan ngajak ketemuan.

Terakhir ketemuan sama dia emang udah lumayan lama. sekitar dua tahun lalu saat dia masih kerja disini, masih persiapan pendidikan bahasa dan lain-lain untuk berangkat dan jadi mahasiswa londo. Dia dapet beasiswa dari kantornya. Kariernya emang cemerlang banget. Ya wajar sih, dia memang pinter kok dari dulu.

Yang saya mau ceritain bukan kariernya, kuliah masternya atau lagu friends forever.

Ada hal lucu yang terjadi dengan kami. Dan itu, menurut saya, menarik.

Jadi dulu, saat kami masih menghabiskan banyak waktu bersama-sama, kami adalah orang dengan type yang berbeda. Dia, tipikal emak2 kelas dewa yang impian terbesarnya adalah lulus kuliah lalu menikah dengan pria idaman hati. Punya anak banyak, jadi ibu rumah tangga. Happily ever after.

Saya, hahahaha, kepengenan nikah aja gapunya. Cuek kebangetan, pengen berkarir sampe mati, cita2nya keliling dunia, dan amit2 enggak suka banget sama anak kecil. Happily ever after, versi saya.

Saya sering banget diomelin sama dia karena ngejudesin anak kecil yang berisik. Dan saya juga suka ngomelin dia kalo putus pacaran aja kaya ditinggal mati emaknya. Lebay.

Soalnya, tiap putus, dia selalu merasa hilang harapan. Sebab ya itu, impiannya kan menikah ya. Jadi jalan satu2nya ya dia harus punya pacar yang cocok lalu membina hubungan ke jenjang selanjutnya. Sementara saya ngeliatnya eneg banget. Idupnya semacam terhenti di tahap berusaha membahagiakan lelaki, demi masa depan.

**

Setelah lulus kuliah, kami terpisah jarak. Saya di Jakarta, dan dia stay di Bandung. Ada sekitar dua tahun enggak ketemu. Lalu dia dipindah tugas ke Jakarta. Pertemuan pertama kami saat itu, isinya NGAKAK. Karena, dia masih dengan impiannya menikah, tapi sampe saat itu masih jomblo. Sementara saya, ya masih cuek, tapi sudah pacaran dengan Poento.

Setelah itu, ketemu-ketemu lagi, di acara pernikahan saya, 2010. Saat itu, dia baru putus (lagi) dan menyalami saya dengan titik air di pelupuk matanya. Saya terenyuh. Saya, saat itu, jadi ngerasa bersalah karena seperti mengamb il impiannya. Menikah itu kan mimpi dia, dan bukan mimpi saya. Tapi realitanya adalah, saya malah menikah lebih dulu, di saat sahabat saya itu jomblo.

Dia memeluk saya dan bilang “Life’s not fair. U have everything. Karier, husband. And me…alone..” saya terdiam dan mendekap dia sambil bilang “you will always have me…”

**

Usai pertemuan di pernikahan saya, kami jarang sekali bertemu. Ada beberapa pertemuan, tapi singkat. Makan siang bareng, atau makan malem bareng, yang Cuma 1-2 jam lah maksimal. Soalnya, saya sibuk dengan liputan, dan dia sibuk berkarier sebagai banker. Setahu saya, dari cerita2 dia dan beberapa postingannya di media sosial, kariernya berjalan mulus banget. Seneng ya rasanya melihat sahabat yang sukses.

Cuma, memang dia belom sukses di perjodohan. Tapi menurut saya, hal itu sebenernya enggak terlalu penting. Ya setidaknya kan dia punya pencapaian luar biasa di karier. Di mata saya, pencapaian itu akan meningkatkan posisi tawarnya. Nanti malahan akan dapet jodoh yang sama luar biasanya.

Hingga akhirnya kami bertemu lagi, saat dia minta banget mau ngobrol karena dapet beasiswa dari kantornya. Pertemuan dua tahun lalu. Ketika itu Abib masih belum lancar berjalan, jadi masih saya gendong kemana-mana. Hehe..

Kami janjian ketemu di sebuah mal.

Pertemuan yang amat lucu.

Karena, saat itu saya sedang mengalami baby blues yang bertubi-tubi dengan kelelahan mengurus anak, mengurus rumah tanpa ART, dan kebosanan menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Sementara dia, hadir di hadapan saya dengan wajah cantik luar biasa. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, tapi tertata rapi. Ada make up tipis menghiasi mukanya. Wangi parfum semerbak, high heels mahal, tas kulit menggantung di lengan, dan baju kantoran rapi ala banker.

Dan saya?

Hahahahaha. Saya nongol dengan jilbab yang udah miring-miring karena ditarik Abib di gendongan. Bawa anak petakilan yang udah berat banget. Keringetan. Bawa ransel isi pospak, baju ganti, sabun, tissue basah. Pake flat shoe yang udah melar-melar, karena menopang kaki saya yang bengkak. Baju juga udah basah di bagian dada karena keringat dan miring-miring semi kebuka, pasalnya saat itu Abib masih menyusu. Ya meski enggak punya anak, saya memang enggak pernah cantik dengan make up dan high heels sih. Tapi enggak semerawut gitu juga.

ENGGAK BANGET.

Kami duduk berdua. Saling bertatap. Dan NGAKAK.

Hidup emang kadang-kadang gila. Dia dengan kariernya, dan saya dengan motherhood. Kami seperti bertukar masa depan. Ngakak pertama itu dipersembahkan oleh perasaan gak keruan dari hati kami masing-masing. Ada bersit iri di hati saya melihat dia santai banget dateng melenggang, dengan tas kecil dan muka cantik. Sementara ada bersit iri juga di hatinya karena melihat saya hadir dengan seorang anak kecil lucu, yang selalu jadi impiannya.

Saat itu, kami saling bercerita. Saya menceritakan kemumetan saya ngurus rumah tangga, yang ternyata JAUH LEBIH MELELAHKAN ketimbang liputan dari pagi sampe dini hari. Sementara dia menceritakan kepedihan hatinya yang jomblo terus, susah banget nyari jodoh.

Di titik itulah kami menyadari bahwa masa depan, mutlak bukan urusan kami. We must be willing to let go of the life we have planned, so as to have the life that is waiting for us. Dari situ kami menyadari bahwa pertemuan yang jarang-jarang ini harusnya bukan untuk berbagi keluhan, tapi berbagi kebahagiaan. Dan saling memuji, bukan saling iri.

Dan begitulah. Ngakak getir yang terjadi di awal, berubah jadi ngakak bahagia, karena bagaimanapun masing-masing dari kami sudah meraih kebahagiaan. Saya akhirnya bercerita soal keputusan saya berkomitmen untuk melepas karier kantoran, demi memberikan seluruh kebutuhan utama anak saya. Dan dia bercerita soal keputusannya mengikhlaskan jalan jodoh yang mampet, dengan mengejar karier plus pendidikan.

Saya menceritakan kebahagiaan yang diberikan Tuhan lewat tangan mungil penuh eksplorasi itu. dia menceritakan kebahagiaan yang diberikan Tuhan lewat target perusahaan yang selalu berhasil dikejarnya.

Dia menasihati saya agar tidak berhenti menulis, atau melakukan sesuatu. “Jangan mandeg jadi emak2 rumahan, dasteran, nonton sinetron, gosip dan gendut gak keruan lah…” kata dia. ucapan yang membuat saya punya semangat baru. Ya karena saya juga enggak berencana untuk diem aja dan mandeg seperti itu.

Saya menasihati dia agar tidak berhenti berdoa dan berusaha membuka hati. Sebab, saya tahu persis, dia ini picky. Tapi saya juga ngingetin bahwa jangan jadi murahan, karena jodoh itu ya sama aja dengan karier. Harus di maintain, dan harus terus di upgrade. “Simpen aja cita-cita lo itu. pasrah, tapi jangan nyerah. Karena biasanya dia hadir di saat-saat yang enggak pernah elo duga…” kata saya.

Begitulah sahabat, seharusnya. Di depan semua orang kami bisa senyum dan menyatakan kebahagiaan dengan pilihan yang kami jalani. Tapi di depan sahabat, kita bisa jadi diri sendiri dan bebas mengeluh lalu tersadar dan saling menguatkan. Appreciate what we have and what God has blessed us with..

Dan begitulah takdir. Hahahaha..

Kita enggak bakalan pernah kebayang, akan dibawa kemana hidup kita ini sama Tuhan. hal-hal yang terjadi di masa depan, ternyata bisa mental sejauh-jauhnya dari impian.

Tapi ya, masa depan kami, in syaa Allah masih panjang. Mungkin nanti saya tetap akan berkarier, meski enggak kantoran. Dan mencapai mimpi-mimpi saya dulunya. Dan mungkin dia akan segera memiliki suami yang baik plus anak-anak yang hebat, seperti cita-citanya. Who knows?

Yang jelas, pertemuan itu selalu saya ingat, setiap kali saya bikin rencana dan gagal. Sebab, saya ini kan truly planner ya. Idup saya berjalan dari jadwal ke jadwal, dari rencana ke rencana. Dari itinerary ke itinerary. Maka, tiap kali ada yang melenceng, saya berusaha introspeksi kesalahan dan berusaha untuk enggak frustasi dengan mengingat dia. sahabat saya yang cantik itu.

We won’t understand everything that happens in our life, but we can be sure that God will take care of us, aight?

So, saat itu, sepekan sebelum dia berangkat, saya kirimi dia scrapbook. Dengan quotes besar di bagian depan.. “No matter how long it takes, when God works, it’s always worth the wait…”

Setelah menerima scrapbook saya, dia message, say thanks, ngobrol sedikit. Lalu dia minta didoakan agar semua
lancar. Kemudian dia juga nulis…

“I don’t know where i’m going. But I promise, it won’t be boring. Elo juga ya, love..”

Aaaamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s