Banjir!!!

Gallery

Kebanjiran.

Tahun ini rumah kami kebanjiran. Iya, serius. Sampe masuk kedalam rumah.

Ya enggak dalem sih, Cuma seleher. Seleher kucing. Hahaha..

Oke. Serius.

Kisah ini dimulai dari Jumat (17/1) lalu. Jadi, Jumat itu seharian memang hujan. Tapi saya sih senang-senang aja. Sebab, selama tiga tahun saya menempati rumah ini, enggak pernah tu ngalamin banjir. Yaaa…jalanan utama dan bagian belakang komplek memang banjir, tapi rumah saya alhamdulillah selalu aman.

Nah, pas malam selepas jam 12 itu, saya udah mulai resah, karena saya ngintip keluar pagar, air sudah mulai naik ke jalanan. Tetangga-tetangga juga berkumpul di jalanan, rame. Tahun lalu enggak begini.

Saya dan Poe jadi enggak bisa tidur sampe jam 1.30 pagi. Resah.

Setelah kami akhirnya tidur dengan tenang, entah kenapa Abib tiba2 nangis dan kebangun jam 3 pagi. Nangisnya lumayan kencang dan tiba2 dia turun aja sendiri dari tempat tidur. Saya dan poe langsung lompat. Bukan apa2, pas dia turun, yang kedengeran itu adalah bunyi air terinjak kaki. Tau kan bunyinya..”kecipak..kecipuk” yagitu deh.

Yang jelas kami jadi terbangun dan shock saat melihat air sudah masuk kedalam rumah setinggi kurang lebih 10 cm deh. Errr…

Abib sih langsung girang. Saya cengo dan mau nangis. Untung poe aga lumayan ya tingkat kesadarannya. “Jangan mikirin perasaan dulu, mikir barang dulu. Ayo yang bisa diselamatin kita selamatin”

Perasaan kalah sama duit. Huahaahahhahahaha…

20140118_055713

Di kamar tamu, sudah berkumpul kucing2 saya diatas kasur, dengan raut wajah penuh kepanikan. Kasian banget. Untung saya punya kandang besar yang tinggi, jadi mereka ditaro kandang, sementara barang2 dilempar semua ke atas kasur yang tingginya cukuplah, in syaa Allah gak kerendem.

Beberes barang sampe azan subuh kedengeran. Untungnya kami masih punya lantai 2, meski kecil karena Cuma ada kamar bibi, kamar mandi dan tempat jemuran. Tapi kami jadi bisa wudhu dan solat. Ampun ya rasanya liat rumah isi air.

Sedih, khawatir tapi lucu. Iya sedih karena malam sebelum tidur itu saya gak mikir nyelamatin buku-buku yang letaknya di lemari paling bawah. Khawatir karena mikirin bagaimana cara beresinnya. Lucu, ya lucu, karena ada ikan berenang di tengah rumah. Errr,,,,

Setelah matahari setengah ngintip, kami akhirnya keluar dan ngeliat keadaan sekitar. Untungnya Sabtu ya, jadi semua orang memang libur. *tetepUntung

20140118_144852

Di jalanan depan dan belakang komplek, airnya sudah sepinggang saya. Fyi tinggi badan saya Cuma 158 cm sih….hehe..
Tapi banjir pertama ini cepat surut. Sekitar jam 12 siang, dalam rumah sudah kering. Jadi kami langsung beberes.

Panggil Mpok, bareng bibi, berempat kami sikat rumah. Sebab kan banjirnya juga tak seberapa tinggi, jadi dampaknya enggak parah. Tapi kami tetap mempersiapkan hal buruk yang mungkin terjadi. Jadi siang sekitar jam 1, citra datang dan evakuasi kucing dan burung ke rumahnya yang aman dari banjir.

Soalnya pondok timur mas dan sekitarnya masih terendam air. Kami sebenarnya masih khawatir. Jadi baju dan barang2 elektronik masih kami taro diatas. Tadinya kami juga mau segera mengevakuasi diri, namun enggak tau kenapa malam2 tetiba Poe berubah pikiran. Dia bilang, “Kita dirumah aja gak usah ngungsi. “ padahal saya udah nyiapin baju dan barang-barang penting di tas besar.

Yaudah, jam 8 malam, kami pergi makan keluar. Sekalian Poe ada urusan kerjaan. Sepanjang jalan berangkat sih kita santai banget. Tiba-tiba, jam 10.30 malam, saat menempuh perjalanan pulang kerumah, tetangga sebelah dan si bibi yang dirumah pada heboh ngabarin bahwa air udah mulai naik.

Hap. Kita sampe di depan komplek jam 12 malem. Kata bibi, dalam rumah air udah lebih tinggi drpd kemarin. “Udah hampir selutut saya buuuuu” katanya sambil nangis. Kami jadi serba salah, sebab kami yang memutuskan untuk tidak mengungsi. Untung aja, anaknya kerja dirumah tetangga yang didepan masjid. Rumahnya tinggi, jadi air banjir enggak masuk.

So, kami minta tolong satpam (plus bayar, karena semua orang butuh makan, dan kalo ga ada bayaran kerjanya males2an hahaha), untuk angkat bibi kerumah tempat anaknya kerja, dan matikan listrik dirumah.

Minggu (18/1), Jam 2 pagi, kami memutuskan untuk meninggalkan komplek. Percuma juga, mobil enggak bisa masuk sama sekali. Air sudah sangat tinggi. Kata satpam, dibelakang komplek, air sudah semeter lebih tingginya.

Kami menginap dirumah orang, dan keesokan siangnya kami baru kembali kerumah. Yak masih banjir parah didepan komplek, tapi air dirumah sudah surut.

20140119_125426

20140119_125501

Dari depan komplek ke rumah, kami naik becak, yang kursinya ditinggikan. Naik becak rasa perahu.

20140119_125447

Masuk kerumah, hati saya rasanya hancur. Ini kaya di filem-filem hollywood tentang bencana. Semacam day after tomorrow, atau 2012. Rumah saya gelap, banyak binatang2 got, bau apek dan basah. Airmata saya turun juga. tapi, saya enggak punya waktu buat nangis lama2. Saya harus cepat angkut baju-baju, laptop dan barang-barang penting lainnya. Sebab hujan masih turun.

Khawatir air naik lebih tinggi, atau maling.

Sore itu kami tamasya ke Bandung. Hehe. Selain Poe ada kerjaan yang harus diselesaikan, karena dia mau cuti 3 hari kedepan, kami mikirnya, yaudahlah ya, jangan dibawa sedih.
**

Senin (19/1), semua orang bilang hujan deras sudah berhenti. Air sudah surut dan orang-orang sudah banyak yang pergi ke kantor. Akhirnya kami pulang ke Jakarta. Tapi belum berani pulang kerumah, jadi kami menginap dirumah Ibu di Duren Sawit. Sekalian nengok kucing2 yang katanya pada gak mau makan. Kasian…

Selasa (20/1), pagi-pagi kami akhirnya pulang kerumah. Well..messy. hahaha. So, kami panggil bala bantuan. team kami adalah:
1. Tukang cuci sofa dan spring bed, 2 orang.
2. Mpok dan 2 orang laki2 anak muda biar kuat angkut barang
3. Bibi
4. Saya dan poe
5. Abib si penggembira

20140121_131549

Rumah rame banget dari jam 10 pagi sampe jam 4 sore. Beberes, angkat barang, cuci2. Saya ternyata lupa amankan lemari seprai dan lemari baju citra yang bagian bawah. Ada juga 1 buah kontainer plastik yang terguling jadi isinya basah semua.

20140121_131648

Luar biasa, dan menghabiskan dana lumayan.

Menghabiskan tenaga juga.

Ampun Gusti…

20140121_131700
**

Ok, berikut rincian uang yang harus keluar akibat banjir dirumah saya:
1. Bayar laundry kiloan :Rp 300.000 –untuk 30 kg cucian dan beberapa mainan kain abib yang terjatuh
2. Bayar mpok 2 kali bebersih: Rp 350.000
3. Bayar 2 anak muda yang dia bawa: Rp 200.000
4. Nambahin gaji bibi, krn dia jd kerja ekstra: Rp 200.000
5. Cuci sofa dan spring bed: Rp 550.000
6. Dvd dan buku yang terendam air dan harus dibuang: sekitar Rp 2 juta
7. Bayarin satpam :Rp 200.000

Ini yang terhitung aja sih, belum biaya makannya, biaya bensin, biaya bayar tukang becak bolak balik, bayar satpam komplek sebelah buat naro mobil sementara kita ambil barang. Untung masih ada ibu yah, jadi gapake bayar deh tu nitip kucing..

20140121_131828

Alhamdulillah selasa itu, selesai beberes, air enggak naik lagi sampe hari ini. Doain ya biar jangan lagi.
Tadinya kita nabung-nabung mau bikin lantai atas, biar bisa jadi kamar dan ruang kerja. Sekarang harus dialokasikan untuk ninggiin rumah deh kayanya. Soalnya rumah tetangga sebelah tinggi banget dan air gak masuk sama sekali.

Saya dan Poe sampe hari ini belom selesai beberes barang. Jadi kami akhirnya ngeberesin seisi rumah, membuang barang yang tak terpakai dan memberikan ruang lebih diatas, buat naro-naro barang penting.

Hikmahnya adalah: rumah jadi lebih bersih karena kami jadi beberes barang enggak penting. Dan yang jelas makin dekat sama tetangga. Hhahahaa…saking sibuk2nya orang di komplek ini,tahun lalu tetangga saya pernah bilang “Kalo enggak banjir gak ngumpul…” hahahahaha…

**

Gapapa deh, saya akhirnya ngalamin juga jadi korban kebijakan buka tutup pintu air. Seumur hidup, saya belom pernah ngalamin banjir. Biar jadi pengalaman hidup

Males juga nyalahin pemerintah, soalnya. Gak usah saya salah2in ya memang salah. Apalagi berita “Gubernur Jabar
berikan bantuan untuk korban banjir di Bekasi” ishhh…asem. dia kan harusnya orang yang bertanggung jawab sama kehidupan kita, warganya. Ibaratnya kaya bapak bertangggung jawab sama anaknya. Mosok Cuma ngasih bantuan.
Gak usah deh nyampe ke presiden. Ntar jadi emosi doang. Hahahahaha

Saya juga enggak nyalahin hujan. Karena hujan selebat apapun harusnya enggak akan bikin banjir, selama ada tempat resapan air, dan ada ruang untuk menampung air. Nah! Hehe..

Tapi tau gak, satu2nya hal yang bisa bikin saya tetap waras adalah mengingat tsunami. Selama 3 hari itu, saya terus mengingat kejadian tsunami di Aceh. Dan betapa saya bersyukur, bukan hal itu yang terjadi pada saya. Cuma kehilangan dvd dan buku, ga sebanding dengan kehilangan nyawa mahluk2 yang saya sayang.

Dan, seperti kata pepatah, dari syukur yang satu pasti menjalar ke syukur yang lain. saya bersyukur punya suami kaya Poe yang cukup sigap dan taktis, punya anak kaya Abib yang enggak rewel dan asik aja diajak pindah2 tiap hari, plus bolak balik urus ini itu. Bersyukur punya tetangga yang baik2, dan selalu punya pintu terbuka buat bantu saya. Bersyukur punya hewan-hewan piaraan yang sehat-sehat. Bersyukur punya Citra, yang selalu siap siaga.

Dan Bersyukur masih dikasih hati yang bisa bersyukur…

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s