Jejak Sapih di Hati..

Gallery

Weaning….

Menyapih, disapih, dari apapun, bukan hal mudah. Begitu juga yang terjadi pada saya dan Abib.

Buat Abib, pasti sulit karena sejak lahir, ASI adalah makanan utamanya. Bukan Cuma makanan, tapi juga kenyamanan, dan obat penyembuh sakit.

Buat saya, sulit banget, karena biasanya menyusui adalah cara termudah menenangkan abib, menidurkan abib, dan tentunya menyembuhkan abib.

Kami membangun kedekatan dengan menyusui dan disusui. Memandang wajahnya tanpa jarak, memeluk tubuh mungilnya saat menyusu, adalah momen paling ajaib yang pernah saya rasakan seumur hidup. Apalagi saya memilih untuk berhenti bekerja, demi mempermudah proses menyusui ini. Maka seumur-umurnya, yang dia tahu, susu adalah yang keluar langsung dari pabriknya. Hehe..
**
Saya, sejak awal meyakini bahwa susu buat anak saya hanyalah ASI. Maka saya bertekad kuat, tidak akan mengganti ASI dengan susu apapun, termasuk UHT.

Sepanjang proses menyusui berlangsung, Abib tidak pernah mendapatkan susu tambahan lain. Dia memang-pada akhirnya-mengenal UHT dari orang lain. Dan meminumnya sesekali. Tapi ini benar-benar saya batasi. Sepekan atau dua pekan sekali. Saya tidak pernah menyediakan stok susu dirumah, dan tidak pernah mengajak Abib minum susu.

Ya, lagipula dirumah juga enggak ada yang doyan banget minum susu. So, Abib kenal susu UHT hanya sebagai minuman sesekali saja.

Referensi kesehatan terbaru yang saya amini adalah manusia tidak memerlukan susu sebagai pasokan minuman kesehatan, yang wajib diminum setiap hari, setelah usianya dua tahun. Jadi, susu untuk manusia ya hanya ASI.
**
Saat Abib mulai berjalan, berlari dan belajar mandiri, banyak suara mengatakan bahwa itu adalah saatnya Abib belajar disapih. “Nanti kalo nenen terus jadi manja…” adalah suara yang paling banyak terdengar. Disusul dengan “Biar mudah, mulai aja diganti nenennya jadi susu UHT” sebagai suara terbanyak kedua.

Nah, karena saya yakin bahwa susu buat anak saya Cuma ASI, maka saya santai aja. Saya tetap pada keyakinan untuk tidak memberikan susu pengganti, dan menyapih secara bertahap dengan cara saya sendiri.

Menyapih, buat saya bukan proses yang terlalu terburu-buru. Saya enggak percaya dengan kalimat anak akan jadi manja kalo nenen terus. Menurut saya, enggak ada hubungannya.

Anak jadi manja, kalo tangisannya dituruti, anak akan jadi manja kalo enggak diajarin untuk mandiri, anak akan jadi manja kalo sejak kecil semuanya dibuat enak—enggak pernah kepanasan, enggak pernah susah2 naik turun kendaraan umum, enggak pernah belajar bertanggung jawab sama kesalahannya. Itu saya yakin. Jadi, enggak ada hubungannya sama disusui hingga usianya dua tahun.

Selain itu, saya juga belum berencana untuk segera punya anak lagi. Jadi saya santai banget sih, gak panik harus cepat-cepat sapih.

Tapi, saya yakin bahwa melakukan penyapihan itu butuh proses. Sebab, bukan hal yang mudah untuk dilakukan oleh saya maupun Abib. Karena itu, sejak usia Abib 18 bulan, saya mulai bercerita bahwa nanti, Abib akan disapih.

“Bib, nanti kalo sudah dua tahun, kamu harus belajar enggak nenen lagi ya. Kan Abib harus mandiri, harus jadi anak yang berani. Masa mau nempel enyak terus, nanti gak bisa jadi orang hebat. Sekarang puas-puasin aja, tapi nanti, kalo sudah saatnya berhenti, Abib harus bisa melepas ya…”

Gitu biasanya omongan saya, yang saya ulang-ulang hampir setiap hari, disaat mau tidur malam.

Lagipula, sejak usianya 18 bulan itu kan dia juga sudah enggak terlalu banyak menyusu. Sehari, biasanya hanya 2-3 kali saja. Yang utama sih saat mau tidur siang atau tidur malam. Sebab makannya juga udah banyak.
**
Saat ulang tahunnya tiba, malam sebelum dia tidur, saya bilang:

“Ini kali terakhir Abib nenen ya. Besok sudah enggak…gapapa ya bib?”

Besoknya, saya berhentikan total kegiatan menyusui. Hasilnya? ABIB BERHENTI MAKAN. Huaahahahahha..ok. itu cara protes paling SUKSES. Karena dia tahu, ngamuk, nangis atau melakukan protes ala balita lainnya enggak akan berhasil membuat saya luluh. *IronLadyWannabe

Ya sebenarnya, saat itu saya juga enggak ngotot sih. Saya Cuma trial. Dan hasilnya error. Hahaha…kena deh saya dikerjain toddler.

Hal lain yang saya yakini juga, adalah, saya PANTANG membohongi Abib. Sudah sejak awal saya hiraukan semua saran pembohongan, semacam “olesin odol aja” atau “kasih pahit-pahit aja, trus bilang tuh kan nenen enyak pahit” hastagah. Kejam banget.

Jadi, saat dia protes dengan berhenti makan, saya tetep cobain sampe 3 hari stop ASI. Dia bisa loh, tidur sendiri, setelah dibacain doa. Enggak pake nangis. Tapi ya itu, dia tutup mulut buat semua makanan kecuali cemilan kue-kue yang saya bikin. Bah.

Ya enggak tahan lah saya. Maka, saya kembali nenen-in lagi. Tapi saya enggak panik juga sih, ya karena saya emang engga terburu-buru ingin menyapih. Tapi, still, sambil bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang salah ya..?

Akhirnya saya ketemu sama psikolog anak, ini karena bener2 penasaran aja. *TipikalEmak2OtakKiri
Pertanyaan pertama yang keluar adalah “Ibu lagi banyak pikiran? Lagi anxiety? Lagi banyak masalah?”

JREEEENG!

Ini dia! ya waktu itu kan saya lagi banyak sedih, capek, galau, dan semua perasaan campur aduk karena mama sakit parah kemudian meninggal.

Ternyata, perasaan ini yang bikin Abib enggak siap kehilangan obat penyaman-nya. Ha! Dia sendiri merasa enggak nyaman karena saya sedang rungsing. Dan dia mencari tempat ternyaman didunia versi dia.

“Proses menyapih itu harus dilakukan saat semua suasana sedang stabil. Baik perasaan ibu, maupun perasaan anaknya. Enggak mau makan itu jelas protes plus proses adaptasi. Sekarang, ulangi lagi aja dari awal proses belajar menyapihnya, dan teruskan sampe akhirnya Abib ikhlas…”
“…Atau ibu, yang harus belajar mengikhlaskan.”

*mewek*

Dari kalimat itu, akhirnya saya menguatkan hati.

Kalo mau anak saya mandiri, ya harus saya duluan yang mandiri. Kalo mau anak saya kuat, ya harus saya duluan yang kuat. Kalo mau anak saya bisa move on dari proses menyusuinya, agar ia mudah menempuh jalan kemandirian selanjutnya….ya harus saya duluan yang…move on dari semua gundah dan kesedihan.
Saling menguatkan.

Maka, saat itulah saya belajar mengikhlaskan. Buat Abib. Karena, satu orang utama yang sekarang jadi tanggung jawab saya adalah Abib.

Kesedihan yang berlarut, tidak akan membawa saya kemana-mana. Juga tidak akan menjadikan anak saya orang hebat.
Satu lagi pelajaran dari Abib. *helanafas

Buat Abib, proses disapih, adalah saat ia harus belajar mengikhlaskan kepergian tempat yang biasanya jadi sandaran utama seluruh rasa gundahnya. Buat saya, belajar menerima meninggalnya mama adalah saat saya harus belajar mengikhlaskan, agar hati tenang, suasana stabil dan anak saya bisa menempuh proses pendewasaan selanjutnya.

Jadi, disapih itu sebenarnya sama dengan proses mengikhlaskan ditinggal mati, ya?

Sama sulitnya. Sama sedihnya. Tapi mau gak mau harus dijalani…
**
Sekarang Abib sudah 26 bulan, dan dia sudah menyapih dirinya sendiri.
Saat saya sudah belajar untuk lebih tenang, belajar merelakan, tiba-tiba Abib mau makan lagi.
Setelah itu, dia berhenti minta nenen. Tidak perlu susu pengganti, tidak perlu dibohongi, dan tidak perlu diburu-buru.

Ada getar di hati saya. Bangga karena anak saya menyatakan dengan tegas bahwa dia siap melangkah ke jenjang selanjutnya. Sedih karena kehilangan momen romantis menyusui. Campur aduk karena mengingat proses sapih menyapih ini meninggalkan banyak jejak pendewasaan buat Abib dan saya.

Kami berdua sama-sama mengalami disapih. Abib disapih oleh saya, saya disapih oleh Tuhan.

PhotoGrid_1388656474671

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s