Bahagia itu (Gak Selalu) Sederhana

Gallery

Dua pekan setelah mama meninggal, air mata saya belum bisa berhenti. Ada aja momennya saya menangis, setiap hari. Saya gak tahan dengan rasa kehilangan ini.
Karena itu, akhirnya saya berdoa. Minta sama Tuhan agar diberikan kesibukan yang bikin saya gak terus-terusan sedih dan kangen mama.

VOILA!

Tuhan langsung menugaskan saya untuk ngurusin acara resepsi pernikahan Eva dan Ian. LUAR BIASA SPEKTAKULER ya acara ini. Huhahahahaha..

Tapi saya enggak mau jadi spoiler, biar jadi surprise buat semua undangan. Karena, kalau semua lancar, ini bakalan jadi pesta pernikahan yang amat menarik. Festival kampung, lengkap dengan pengantin. Hehehe..

**
Keliling vendor, telepon ini, telepon itu. cari ini, cari itu. kesana, kesini. Meeting dan meeting.
Capek, tapi seneng. Selain karena akhirnya saya jadi sibuk dan gak sedih melulu, seneng juga karena tim nya adalah orang yang udah sering kerja bareng, plus seneng karena menyiapkan sebuah acara pernikahan itu selalu menyenangkan hehehe…

Ini udah pernikahan ke sekian yang saya bantuin persiapannya (lupa haha). Dan rasanya selalu seru. Romantis-romantis gimana gitu hehe. Jadi keingetan deh, bulan depan, saya akan memperingati hari jadi pernikahan saya dengan Poento yang ke empat.

EMPAT TAHUN? WHAAAT?

Duluuuuu…waktu masih kuliah, ada orang tua yang ngebilangin saya. Katanya: “Gak perlu lah mentingin cinta, sebab, saat menikah nanti, cinta palling lama hanya bertahan EMPAT TAHUN, sisanya pengertian…”
Hehehe…sinis ye tu orang. Tapi ya biarinlah, urusannya. Saya juga dulu pas dikasitau, cengengesan aja.
Tapi yang saya rasain selama (hampir) empat tahun pernikahan ini, adalah happy.

Saya sih sebenernya enggak pernah ngerti, definisi cinta. Bagaimana rasanya mencintai. Dan bagaimana seharusnya memahami cinta. Bodo amat. Buat saya, yang paling penting itu bahagia dan membahagiakan.
Dan Alhamdulillah, sejauh ini, saya bahagia dengan menikahi bapake abib.

**
Pacaran satu tahun, nikah udah mau empat tahun. Ini adalah rekor buat saya, bertahan sama satu orang, tapi masih tetap happy. Haha..

Dulu aja ngekost gabisa bertahan di satu tempat lebih dari 2 tahun. Bosen.

Iya happy. Asli. Serius. Hehe..

Sebab, menurut saya, bahagia itu engga selalu sesederhana hashtag #BahagiaItuSederhana. Udah pernah baca bukunya the geography of bliss nya Eric Weiner? Sesungguhnya di mata dia, bahagia itu adalah sesuatu yang AMAT RUMIT. Haha..

Dia mencari kebahagiaan ke mana-mana, keliling dunia. Bukunya bagus dan penuh perenungan, mama saya aja suka banget bacanya, sampe buku saya diembat, heu.

Sekarang, saya lagi baca buku ‘The Happiness Project’ nya Gretchen Rubin.

Belom sampe abis sih, tapi menarik juga so far. Jadi ada momen saat Ms Rubin menyadari bahwa dia rasanya kok kurang happy, merasa bosan dan kok banyak keinginannya yang belum tercapai. “Time is passing, and im not focusing enough on the things that really matter” gitu katanya.

So, dalam satu tahun berikutnya dia merencanakan happiness project. Dan proyek ini menyangkut semua aspek dalam kehidupannya sebagai istri, ibu dari dua orang anak dan penulis.

Hasilnya, ada beberapa manifesto dari project Ms Rubin, yang bikin saya manggut-manggut. Tetapi, yang paling kena adalah..
”one of the best ways to make yourself happy, is to make other people happy; one of the best ways to make other people happy, is to be happy yourself”

Ini mirip sama kesimpulan Eric Weiner di The Geography of bliss..
“So the greatest source of happiness is other people- and what does money do? It isolates us from other people. It enables us to build walls, literal and figurative, around ourselves. We move from a teeming college dorm to an apartment to a house, and if we’re really wealthy, to an estate. We think we’re moving up, but really we’re walling off ourselves.”

Dan kebahagiaan saya adalah orang lain, yang sudah jadi suami selama (nyaris) empat tahun. Dia, dan anaknya. Mereka, alasan saya berani menegakkan kepala dan menegarkan hati setelah diuji bertubi oleh Tuhan. Senyum diwajah Abib dan Daddy nya, yang jadi alasan pertama saya harus bisa tersenyum. Pelukan yang saya dapatkan setiap hari dari Poento Hariyadi-lah, alasan saya untuk mengikhlaskan, mendoakan keselamatan akhirat Mama, dan mengirimkan sebuah pelukan untuknya, setiap hari…

Terima kasih Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s