(Review) Gravity..

Image

Sendirian.

Saya suka sendirian, suka sekali. Jalan-jalan, dirumah, makan, nonton, baca buku, banyak hal menyenangkan saat dilakukan sendirian. Banyak..

Tapi, sendirian diluar angkasa?

***

Sudah nonton Gravity?

Saya enggak akan cerita detail soal film ini, bagaimana kisahnya, tekniknya, aktingnya, dan lain lain. Karena yang saya rasakan saat credit title nya keluar, hanya, air mata. Saya bisa menempatkan diri dalam posisi Ryan Stone (Sandra Bullock) saat harus sendirian. Benar-benar sendirian. Di luar angkasa.

Pada awalnya, menyaksikan film  berdurasi 90 menit ini, di teater IMAX3D, rasanya seperti berada di gedung planetarium. Menjadi penonton dari obrolan yang menyenangkan dari Matt Kowalsky (George Clooney) dan dr Stone saat melakukan tugasnya bersama rekan-rekan explorer, saya jadi ikut melayang ringan. Film ini mengawali aksinya dengan sangat smooth.

Dan mengakhirinya dengan air mata.

Kenapa?

Sebab, setelah adegan dialog yang menyenangkan di awal, mulailah segala kegelisahan film ini. Sebuah satelit Rusia mengalami tabrakan, dan menciptakan sebuah badai debris.( Fyi, badai ini membuat saya yang duduk manis di bioskop mengenakan kacamata 3D, mencelat ke kiri dan kanan karena rasanya seperti benar-benar tertabrak. Hihihi ndeso.)

Badai dahsyat ini menghancurkan space station mereka. Dan dari seluruh kru, hanya Matt dan Ryan yang selamat. Itu juga setelah Ryan sempat terpental sendirian entah kemana.

Melayang berdua di luar angkasa, mencari space station yang  menjadi satu-satunya tiket pulang ke Bumi. Oksigen yang amat minim, keterbatasan komunikasi, ditambah kepanikan Ryan membuat jantung saya ikut berdetak kencang. Tadinya, saya pikir, mereka akan terus berjuang berdua agar bisa kembali ke bumi.

Ternyata…tidak.

Ryan Stone harus berusaha sendirian.

gravity

 

dr Stone: ‘Don’t let go’ | Matt: ‘You gotta learn to let go’ —-foto dari Rotten Tomatoes

 

Mulai dari scene ini, jantung berdebar saya beralih ke mata yang panas. Rasa takut, panik, gak bisa bernafas, sedih, yang dirasakan Stone, bisa saya rasakan. Kalo jadi dia, saya udah pasti nyerah. Heuh..

Setelah itu, ah, air mata tidak bisa berhenti mengalir. Betapa rumitnya kondisi yang dia alami. Ditambah bumbu drama ingatan Ryan akan kisah putri satu-satunya yang meninggal di usia 4 tahun, oh no.

Kisah tentang ‘sendirian’ ini sebenarnya sudah lumayan banyak. Life of pi, misalnya, yang masih anget filemnya. Buku dan film itu juga bercerita soal kesendirian pi patel terombang ambing di lautan selama beratus hari. Tapi gravity ini berbeda.

Sebab, life of pi, menceritakan kesendirian dalam waktu yang lama. Sementara gravity bercerita soal kesendirian, kepanikan, kesedihan, dan harus. HARUS, diselesaikan dalam waktu secepatnya, karena dia berada di luar angkasa. Dia enggak punya waktu sebanyak Pi Patel.

Dalam waktu yang amat singkat tersebut, Ryan seolah diminta untuk belajar begitu banyak hal. Belajar melepaskan, belajar mandiri, belajar teknis spaceship, belajar move on, dan belajar untuk tidak pernah menyerah. Gila.

Hebatnya, di film ini, saya benar-benar bisa menempatkan diri dalam posisi dr Stone. Mungkin karena banyaknya pengambilan gambar yang lama tanpa potongan (long shot), jadi mau gak mau bikin saya konsentrasi dan larut kedalam film?  Atau karena Cuaron banyak mengambil gambar point of view, jadi saya bisa melihat adegan dari mata si Stone?

Atau mungkin karena saya emak-emak?

Cuaron, mempersembahkan filem ini untuk ibu nya. Maka banyak simbol yang mengungkapkan hal itu dalam film ini. Banyak shot menampilkan pose yang terkait dengan motherhood, fetal position, dan sebagainya. Mungkin saya, tanpa sadar, memosisikan diri masuk kedalam film ini. Maka, jadi begitu mudah mengidentifikasi diri dengan apa yang dirasakan Ryan Stone?

Apapun itu, yang jelas, lebih dari 1 jam saya mewek. Haha..padahal filmnya aja Cuma 90 menit.

***

Saya bukan penggemar film sci-fi, tapi Gravity, dimata saya, bukan film sci-fi. Filem ini drama, dan dalem buat orang yang susah move on kaya saya. Bukan sekadar film yang bercerita soal astronot yang harus bertahan hidup, tetapi kisah tentang KENAPA si astronot ini harus survive.

Tegang, kagum karena aspek visual dan sinematografi yang CAKEP itu, buat saya, cuma rasa pendamping. Yang paling terasa buat saya justru kesedihan, ketakutan, kepedihan,dan rasa-entah-harus-gimananya Ryan. Sandra Bullock, saya enggak nyangka dia bisa menggambarkan semua itu dari aktingnya. *TepokTangan*

Masih terngiang di kepala, saat Ryan kehilangan kesadaran dan hampir menyerah, tetiba ada Matt dan bilang “What’s the point of going on, what’s the point of living?” …

Ah..

 

(Btw, thank u kakak andrisaubani, kalo bukan karena review nya disini, mungkin hari itu, saya lebih milih nonton cloudy with a chance of meatballs 2. Karena nonton bioskopnya kan harus sama si bocah. Ohiya, film ini aman ditonton bocah, Cuma untuk bocah yang udh pinter ngomong harus hati-hati dikit sama dialognya. Rada banyak kata-kata kasar…)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s