Bendera Setengah Tiang Untuk Indonesia

Gallery

“Bu guru, boleh apa tidak kami pasang bendera setengah tiang saat merayakan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia?” tanya Elfa, bocah usia 9 tahun.

“Loh kok setengah tiang, nak? Kan itu artinya berduka, memperingati hal yang menyedihkan, padahal dirgahayu RI kan peringatan kemerdekaan, menyenangkan dan penuh semangat..” jawab gurunya.

Elfa terdiam.

**

Sampai dirumah.

“Bunda, boleh apa tidak sih, Elfa pasang bendera setengah tiang saat merayakan dirgahayu kmerdekaan RI?” Elfa, si anak laki-laki berambut keriting itu mengulang pertanyaannya. Kali ini ditujukan kepada Bunda.

“Hehehe…kenapa begitu nak?” jawab Bunda sambil tersenyum.

“Kan Bunda masih sering menangis kalo nonton tivi. Bunda bilang, di Indonesia ini masih terlalu banyak orang miskin. Sementara pejabatnya, yang harusnya ngurusin rakyat, malah mencuri uang rakyat…” tanya Elfa lagi, dengan polos.

“Hmmm..trus apa hubungannya air mata Bunda dengan bendera setengah tiang saat dirgahayu RI?” tanya Bunda sambil menatap mata bulat putra semata wayangnya.

“Bendera setengah tiang kan artinya memperingati hal yang menyedihkan, Bun. Kan bunda aja masih sedih setiap kali menyebut nama Indonesia.” Jawab Elfa lagi, kali ini sambil duduk bersila dan balik menatap wajah Bunda.

“Iya, tapi kan peringatan hari kemerdekaan itu seharusnya membanggakan, bikin dada membuncah saking bangganya dengan negeri kelahiran kita..” jawab Bunda, kali ini mulai pasang mimik serius.

“Huuuuh bunda kan sering cerita, waktu itu pas kita ke Kalimantan, waktu bunda kasih lihat sumur minyak. Saat itu aku tanya, sumur itu punya kita apa bukan, bunda bilang bukan. Itu punya Perancis. Gitu kata Bunda, padahal sumurnya kan di Borneo, di tanah kita, kenapa minyaknya punya Perancis…?”

Bunda terdiam.

“Trus waktu itu juga Bunda cerita kalo tarif listrik naik, karena kita kekurangan gas untuk pembangkit listrik. Aku tanya, masa sih Bun? Bunda bilang, gasnya dikirim ke Jepang. Kenapa harus dikirim ke Jepang, kan yang butuh kita. Lagipula gas nya kan punya kita, kenapa harus dikasih ke Jepang?”

“Eh waktu itu aku juga denger Bunda ngobrol sama Ayah soal utang negara. Emang kita punya utang ke  siapa Bun? Luar negeri ya? Jadi kita bayar utang terus? Uangnya buat bayar utang kaya Bunda bayar cicilan rumah?”

Bunda semakin terdiam.

“Kalo semua harta kekayaan punya Indonesia dikasih ke luar negeri, kita dapet apa dong Bun? Kita disisain gak? Gak yah bun? Makanya Bunda suka nangis kalo nonton berita….”

“Jadinya kan banyak orang miskin, Bun. Kasian. Gak bisa makan, gak bisa sekolah, gak bisa nonton disney junior kaya aku..”

“Kalo masih kaya gitu, kayanya kita belom merdeka deh Bun. Kan kaya cerita Bunda waktu itu pas kita naik taksi. Supir taksi itu gak merdeka, karena setiap hari setir mobil keliling kota, tapi bukan mobil dia, udah gitu harus setor penghasilannya lagi…”

Ingatan Bunda melayang ke momen taksi.

**

“Bun, jadi supir taksi itu enak ya, setiap hari jalan-jalan keliling kota, ketemu banyak orang, gak capek lagi kan mobilnya adem ada musiknya…” tanya Elfa di sore hari, usai turun dari taksi menuju supermarket.

“Hehehe…ya gak juga dong El, kan nyetir capek, pegel. Lagipula, itu kan bukan mobilnya si bapak supir, itu mobil perusahaan. Dia Cuma bekerja dan nanti digaji. Kayak Ayah aja, bedanya ayah diem duduk di kantor, supir taksi keliling kota..” jawab Bunda sambil mendorong troli belanjaan.

“Lah, jadi mobilnya bukan punya dia? trus dia setiap hari keliling kota bawa mobil orang, trus nanti digaji gitu? Kan ada argonya bun, trus nanti digaji hasil dari argo?” tanya Elfa lagi sambil ikut menarik-narik troli.

Bunda berhenti sejenak untuk menatap wajah anak lelakinya, “Jadi gini El, setiap hari, supir taksi dateng ke pool, trus baru deh berangkat kerja pake mobil taksinya selama seharian atau semalaman. Setelah itu, semua uang yang dia dapat dari argo, dia setor ke boss nya. Nanti, bapak supir dapat bagian sedikit..”

“Kok Cuma sedikt bun? Kan yang capek, bapak supirnya…”

“Tapi kan armada taksinya, fasilitasnya, seragamnya semua punya perusahaan. Supir Cuma bekerja aja..”

Elfa terdiam dan mengangguk-angguk.

**

“Bun, kok bengong?” ujar Elfa sambil menggoyang-goyang pipi Bunda yang tembem.

“Hehehe…kamu kok pinter sih sayang? Anak Bunda ini hebat sekali, Bunda sampe speechless…”

Suasana kemudian hening.

“Jadi pantes ya Bun kalo aku pasang bendera setengah tiang? Kan kasian presiden Soekarno dulu capek-capek proklamasi, trus sekarang nyatanya enggak merdeka juga. aku berduka, Bundaaa…” jawab Elfa.

Bunda memaki dirinya sendiri. “Duuuh bloon banget deh gue, suka ngomongin berita di depan anak, ternyata, yang dia inget malah obrolan negatifnya, bukan pesan-pesan positif yang gue ulang-ulang tiap hari.” Kata Bunda dalam hati.

**

“Gini el, ehem, yang kamu bilang tadi itu benar. Dan kalo kamu berduka sampe ingin pasang bendera setengah tiang saat ulang tahun Indonesia, ya tidak Bunda larang, tanyakan hati nuranimu.”

Bunda berdehem. Tanda nervous.

“Tapi, Elfa kan anak cerdas ya? Anak cerdas tidak menyebar pesan negatif ke sekeliling. Coba bayangkan, kalo Elfa pasang bendera setengah tiang. Kemudian banyak anak-anak yang bertanya, lalu kamu menjelaskan hal-hal yang tadi kamu jelaskan ke Bunda. Setelah itu, coba deh, pasti banyak yang mengikuti jejak kamu…”

“Ya bagus dong bun, biar semua orang tau bahwa kita belum merdeka..”

“Hehhee..lalu apa bedanya kamu dengan berita-berita yang suka bikin bunda sedih itu? sama kan?”

Elfa terdiam.

“Bunda salah, El. Bunda minta maaf. Seharusnya Bunda tidak mengajarkan kebencian pada kamu. Bunda Cuma sering enggak bisa menahan emosi. Maklumlah, perempuan. Yang kini sudah kamu tahu, dan kamu rasa salah, simpan saja dalam hati. Kalau mau dibicarakan, bicarakan aja sama bunda. Jangan dibicarakan di ruang publik, didepan kawan-kawanmu atau saudara-saudara.”

“Kita ini punya kewajiban menyebarkan kebaikan, El. Kalau sudah begitu banyak kebencian di sekeliling kita, ya jangan terbawa. Kita yang harus memberikan semangat buat lingkungan sekitar, bahwa nantinya pasti ada perbaikan di tanah air yang kita cintai ini.”

“Caranya gimana Bun?” tanya Elfa.

“Naaah…karena kamu masih sekolah, caranya ya belajar yang benar, gapai prestasi di sekolah maupun diluar sekolah. Buktikan bahwa kamu, anak Indonesia, adalah anak yang hebat. Ajarkan kebaikan buat semua orang disekitar kamu, dengan memulainya dari diri sendiri. Menjaga lingkungan, mencintai sesama, menolong orang, hewan, tanaman yang membutuhkan.”

“Pasang bendera setengah tiang, atau menyebarkan kebencian, tidak akan membuat kamu mampu menahan ekspor gas ke negara lain, atau menghentikan pengeboran minyak oleh perusahaan asing. Kamu juga enggak bisa bantuin negara bayar utang…hehehe.”

“Hehehehe..iya ya Bun. Kaya kata Bunda, nangis terus-terusan saat jatoh dari sepeda, gak akan bikin lukanya sembuh, atau aku jadi jago naik sepeda.”

“Iya, persis. Kalo jatoh, boleh nangis meluapkan emosi karena sakit. Tapi jangan lama-lama. Luka harus segera disembuhkan supaya kemudian kamu bisa naik sepeda lagi, dan berlatih agar tidak jatoh.”

“Trusnya aku jadi jago dehhh naik sepeda. Kalo aku nangis terus, lukanya gak sembuh, kaki aku juga jadi gak bisa gowes, kapan jagonya?”

“Anak Bunda ini kok cerdas amat? Bantuin Bunda bikin cake yuk! Kali ini kamu boleh ngegiles adonan sampe puas, tapi cuci tangan dulu!”

“Hahahaha…asyiiik!”

**

Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga semangat tak pernah luntur. 🙂

IMG_4153

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s