Belajar dari Alam

Image

Dulu, waktu belom punya anak, sahabat saya pernah berteori. Dia bilang:

“Gak ada induk burung yang bawel nyuruh-nyuruh anaknya ini itu. Contohin aja, nanti juga ditiru.”

Dulu, saya memandang quotation itu dari kacamata anak, yang mendambakan sosok orangtua ideal, yang enggak pake bawel suka ngomelin saya yang nakal. Yang gak cerewet nyuruh-nyuruh ini itu plus ngomelin.

Sekarang, saat anak saya masuk ke usia jelang dua tahun, saya terngiang lagi kata-kata itu. Dan, heuheu, gak gampang yah?

Ya bener memang, kalau mau ambil pelajaran dari parenting gaya hewan. Hehe..enggak salah juga kok. Karena ternyata cukup sulit aplikasinya. Yang suka cerewet ngasitau anaknya jangan naik-naik kursi, tapi sendirinya naik kursi buat ngambil barang diatas lemari, mana suaranyaaa?? Yang suka bawel ngomelin anaknya kalo makan jangan pilih-pilih, tapi sendirinya gak doyan ini itu, angkat tangannyaaaa!!

Belom bisa banyak ngasih contoh sih, kan anaknya masih 1,5 taun. Ahahaha..tapi ya masa-masa ini memang saatnya dia meniru dan meniru dan MENIRU. *GarukPala*

Salah satu hal yang saya rasa berat adalah, mengajarkan si Abib kegiatan outdoor. *Batuk* saya ini, adalah orang yang gak gitu suka kegiatan outdoor, dan bahkan gak suka olahraga—kecuali berenang, that’s all. Dulu, SMA saya adalah sekolah yang semi sekolah alam. Banyak banget kegiatan outdoornya. Dan saya, selalu bolos. Ahahaha..

Bekasi Selatan-20130121-00089

Maksudnya, tiap ada kegiatan outbond dan sebagainya, saya pasti minta mama bikinin surat sakit. Yess, karena males. Ogah amat gue nyemplung ciliwung, becek-becekan, perosotan di tebing. Dududududuuuh…males.

Begitu juga saat kuliah. Bahkan KKN wajib di kampus, saya pilih gelombang1, yang KKN nya di kota. Deket rumah. Gak pake harus nginep di kampung, since denger cerita sepupu saya bahwa ada desa lokasi KKN yang rumahnya di tengah rimba. Saya emang (dulu) lumayan ribet. Karena saya punya alergi, saya gak pernah tahan sama dedaunan, rerumputan, kotor-kotor tanah, selalu gatel2, bentol sekujur badan. Yeah well, mungkin karena gak dibiasain ya…

Mendingan jalan kaki keliling kota deh buat hunting foto, atau cari cerita. Selama masih di kota, saya merasa aman. Hahahaha..

**

Sekarang, saat dianugerahi anak laki-laki, it’s a big no no untuk mendidik anak dengan kebiasaan saya. Apalagi dia ini cenderung anak dengan pola belajar kinestetik. Gak bisa diem. Dan gak mau belajar sambil duduk anteng dirumah.

Kalo ditanya kepengenan saya sih, maunya duduk aja santai dirumah, belajar dari iPad, atau browsing-browsing, baca buku, nonton. Atau kita jalan-jalan ke museum, pameran foto, nonton bioskop, dan main di playground buatan aja yang ga banyak rumputnya. Bhahahaha..

Tapi, saya sudah jadi ibu. Bukan saatnya untuk egois. Kalo memang belajar dari alam, bisa membuat Abib jadi lebih cepet ngerti, membantu kinerja otaknya, dan menyambungkan sinapsis2 dengan lebih baik. Well, outdoor it is!

Bekasi Selatan-20130110-00027

Maka, saya akhirnya berkegiatan di lapangan rumput, di semak-semak penuh rumput, di pinggir danau, ketemu air banjir, main hujan, dan berjibaku dengan tanah plus lumpur. Abib bahagia, saya gatel-gatel. Namun, ternyata memang sangat efektif. Abib cepat belajar mandiri, dia jadi cepat paham bahwa tempat yang basah itu licin (karena dia sering jatuh), jadi harus pelan-pelan. Dia juga cepat mengerti wilayah yang berbahaya dan aman. Tubuhnya juga punya alarm, saat lagi gak enak badan, dia gak mau main hujan, sebab paham bahwa dia akan kedinginan.

Bekasi Selatan-20130311-00273

Yang paling menyenangkan adalah, anak saya, langit Habiby, tumbuh berani. Yess, dia jadi berani mencoba banyak hal baru, berani sama berbagai hewan yang baru ditemuinya-termasuk anjing GEDE. Ini juga tantangan buat saya dan suami, karena saya takut banget sama ulet, dan bapaknya takut anjing. Jadi kalo lagi jalan-jalan, dan di lapangan ketemu ulet, saya mundur teratur. Berusaha KERAS untuk tidak menunjukkan ketakutan. Begitu juga kalau ketemu anjing, saya yang menggandeng Abib dan Poe mundur hahaha…

Abib juga lebih cepat mengenal hewan, tumbuhan, cuaca, benda-benda disekitarnya. Plus dia juga tambah murah senyum dan mudah bergaul dengan siapa saja. Seneng sekali melihatnya. Nah, ajaibnya, seiring dengan waktu, rajin nemenin Abib jalan, lama kelamaan tubuh saya nampaknya membentuk imunnya sendiri. Enggak ada lagi bentol-bentol gede yang menghantui berhari-hari. Ya kalau gatal, masih. Tapi udah enggak parah.

Akhirnya saya juga jadi bisa menikmati jalan-jalan pagi/sore kami berdua. Sama nikmatnya dengan si Abib. Kadang plus gendong, kadang plus lari, kadang plus drama karena sudah sore dan anaknya gak mau berhenti jalan. Lambat laun saya menyadari bahwa, alam ini adalah sesuatu yang patut dinikmati. Saya gak tau sampai kapan mereka eksis dan semuanya berganti besi…

IMG-20130117-00224

Dengan ini, saya belajar lagi, bahwa yang paling sulit dari mendidik anak adalah menguatkan hati kita sendiri. Ya, hati harus kuat dan gak boleh menyerah untuk melakukan yang terbaik buat perkembangan si anak. Meyakinkan diri sendiri agar tetap calm dan assertive menghadapi apapun kejutan yang dilakukan si anak, menghadapi anak yang rewel dan mulai masuk ke fase terrible two, melawan kemalasan dan rasa letih diri sendiri, PLUS menyiapkan argumen kuat saat diserang opini orang lain yang merasa pola pendidikan saya itu gak bener.

Semua senang? 😀

dadabib

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s