Makan Enak, Tidur Nyenyak, Jangan Korupsi.

Gallery

“Kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego dan superego” (Sigmund Freud)

**

Dulu, saya belajar teori psikoanalitik Freud ini pas jaman kuliah. Dan rasanya susah lupanya, karena saya lumayan suka deh mata kuliah psikologi. Selain, yaah, karena saya juga tinggal sama dua orang manusia dari fakultas psikologi.

Kalo mau baca lengkapnya penjelasan soal struktur kepribadian ini paling enak di psychology for dummies disini.

Poin pentingnya adalah, kita punya 3 struktur kepribadian. Pertama, ID. Ini dia yang disebut nafsu. Hasrat yang didorong oleh prinsip kesenangan dan harus didapatkan. Kedua, EGO. Ini adalah pengendali ID, sikap rasional. Misalnya kita tetiba punya dorongan untuk beli ferrari, kemudian part lain dari kita menyadarkan “Hoy, gak ada duitnya” lalu terjadilah pertengkaran batin. Saat dorongan ID semakin kuat dan kekeuh kemudian mulai gak rasional, sampe bisa mengatakan “Ya bisa lah nyolong aja”..

Saat itulah hadir part ketiga, SUPEREGO. Dia ini yang penting dalam ‘mengkalemkan’ si EGO yang rasional dan meredam hasrat ID, dengan nilai moral. Dengan perasaan. Kebanyakan memang mengingatkan akan pesan-pesan yang pernah ditanamkan keluarga tentang kebaikan. Harusnya, saat superego sudah muncul, maka pertengkaran antara ID dan EGO akan selesai. Demikian disebut keseimbangan…

Idealnya begitu, tapi mungkin gak semua manusia bisa mencapai keseimbangan antara ketiga unsur tersebut. Dampaknya ya anxiety. Nah, kecemasan yang tidak diberikan substitut, terpendam, dapat menimbulkan defense mechanism dalam berbagai tindakan, yang biasanya tidak ideal….selanjutnya masuk ke bab psikologi abnormal. Baca aja sendiri, saya kan bukan dosen. Hehe..

**

Nah, dari intro yang panjang itu, saya sebenarnya mau cerita soal si SUPEREGO.

Struktur kepribadian yang tugasnya sebagai pengontrol moral ini, kerap menimbulkaan rasa bersalah kalo kita dikuasai ID dan si EGO udah kalah. Karena pada dasarnya, gak akan ada orangtua yang menanamkan nilai-nilai buruk pada anaknya secara disengaja kan? Misalnya ngajarin anaknya curang, ngajarin anaknya nyuri, ngajarin anaknya pake narkoba, ngajarin anaknya membunuh dan lain-lain.

Makanya pas udah gede, kita yang tumbuh dan belajar dari lingkungan, seharusnya bisa tetap terkendali dari ajaran-ajaran yang udah ditanamkan di kepala sejak lahir itu. ajaran-ajaran yang akhirnya menjadi SUPEREGO buat ID dan EGO kita.

Tapi kadang, situasi yang ideal tidak mudah didapat…

Kaya pagi ini, saya baca artikel di koran Republika yang ditulis oleh kawan saya; Teguh Firmansyah. Judulnya catchy banget: “Mama, Darah ini tak bisa hilang”. Tulisannya ada di halaman internasional. Tapi sayang saya gak bisa bagi-bagi link dari Republika nya, karena republika e-paper harus berlangganan. hehehe.. Tapi ada sih artikel lengkapnya di laman The Guardian ini, boleh kakaaaak…

Saya ceritain intinya aja ya? Jadi artikel ini bercerita soal kesedihan Libby Busbee yang kehilangan putranya, William Busbee, karena bunuh diri. Penyebabnya? Dugaan paling kuat karena tekanan kejiwaan yang dialami si William selepas pulang dari perang Afghanistan. Soalnya, saat baru pulang dari Afghan, William suka bertingkah aneh. Dia sering banget cuci tangan, dan bilang “Mama ini gak bisa dibersihin”. Maksudnya adalah darah. Jadi dia selalu ngerasa ada darah di tangannya, yang gak mau hilang meski udah berulang kali dicuci.

Datanya, memang banyak serdadu AS yang bunuh diri. Bahkan makin meningkat.  Psikiater marinir AS, William Nash, bilang penyebab utamanya karena perbuatan tentara atau kesalahan yg mereka lakukan. Rasa bersalah ini sangat berpengaruh pada kerusakan jiwa dan otak mereka…

See, betapa besar dampak dari rasa bersalah. Dari si SUPEREGO. Hmm…dari tiga struktur kepribadian yang gak seimbang.

**

Mungkin begitu juga rasanya kalo korupsi?

corruption (2)

 

(Gambar ngambil dari sini )

Eh, gitu gak sih?

Saya dulu waktu kerja, dan sekolah, pernah bolos. Hehe. Sadar gak sadar, pasti selalu ada rasa bersalah. Waktu bolos sekolah, dalam hati ada rasa bersalah sama mama, yang udah ngebayarin biaya sekolah. Waktu bolos kerja, dalam hati ada rasa bersalah sama kawan2 di lapangan yang pada capek2 kerja, sementara saya santai2 aja.

Bolos itu KORUPSI, kan? Heu..shame on me. Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi, kan udah kejadian. Hehehe…

Nah, karena saya pernah korupsi, dan merasa bersalah. Maka saya asumsikan, pasti orang-orang yang pernah melakukan korupsi sampe miliaran, triliunan rupiah itu. Korupsi yang merugikan negara, rakyat, dan banyak pihak itu, pasti, sadar gak sadar, merasa bersalah juga. Ya kan? Iya dong..

Nah, cara paling mudah untuk menghilangkan rasa bersalah tentu dengan mengakui kesalahan kemudian bertobat dan tidak mengulanginya lagi. Namun rasanya mengaplikasikannya gak semudah itu, ya? Karena udah pasti ada kepentingan-kepentingan lain, ada penegakan hukum yang tidak adil, ada banyak mulut yang harus dikasih makan, dan sebagainya.

Ujungnya, setiap individu, pasca melakukan tindakan sedemikian pasti mengalami anxiety.

Dan hidupnya pasti gak enak. Heu..

Emang enak, hidup dihantui kecemasan?  yah macam para marinir AS itulah.

Buat saya, seharusnya idup itu simple. Perkara makan enak, tidur nyenyak. Gak takut diperkarain sampe gak enak makan, gak takut harta dicolong orang (karena yang dimiliki gak terlalu banyak dan bukan hasil korupsi) sampe gak bisa tidur.

Semoga saya bisa tetap begitu ya…

Well, ini sebenarnya doa saya buat diri sendiri. Mengingatkan diri sendiri. Saya bukan Tuhan yang bisa tau masa depan. Saya juga gak bisa menjamin apakah saya akan berubah atau gak. Tapi semoga enggak. Aaamiin

Karena saya Cuma kepengen bahagia. Dan seharusnya bahagia itu sederhana. Makan enak, tidur nyenyak. Gak diteror rasa bersalah.

**

Hmmm, saya jadi ingat dulu teman liputan saya pernah ngobrol sama si suami. Dia bilang: “Apa sih rasanya kerja di lingkungan sarat korup, tapi tetap bersih?” suami saya Cuma nyengir. Kemudian si teman saya itu lanjut bilang “Bodoh. Posisi lo kan kaya lagi naik motor di lampu merah. Saat jalanan didepan rada kosong, tapi lampu masih merah, elo pasti akan didesak agar maju berbarengan dengan motor lain yang melanggar. Diklakson, dimaki, dan dipaksa biar maju juga, jadi gak menghalangi jalan mereka. Ya kan? Trus lo mau ngapain coba?”

Kalem, suami saya bilang. “Kalo gak berhasil ngalangin yang mau lewat, ya minggir aja. Tunggu sampe lampunya ijo baru jalan. Biarin aja yang lain jalan duluan…”

…..

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s