Bukan Salah Liem

Gallery

Kabar kematian Liem Soei Liong kemarin dulu itu menyentak saya. Enggak sih, bukan karena kaget dia meninggal. Toh sudah tua juga, jadi tidak lagi mengagetkan.

(fotonya nyomot dari sini)

Tapi, karena kabar kematian itu di running berhari-hari di berbagai media. Media cetak, online, tivi. Jadi, saya setel tivi, lagi membahas sejarah dan kisah hidup Liem. Saya buka twitter, di linimasa pun penuh dengan berita Liem. Mendadak saya heran. Siapa sih manusia ini, lahir di Cina, mati di Singapura, kantor utama di Hongkong, tapi dipertimbangkan untuk menjadi pahlawan pembangunan Indonesia.

“Bayar berapa sih buat dipilih jadi pahlawan nasional?” kalo kata Poento. Hahaha…

…lumayan sih, dibayar pake indomie, sambel indofood, bumbu nasi goreng instan yang pasti pernah dipake anak kos se Indonesia, bank capek antre karena semua orang punya rekeningnya, stasiun tipi paling oke yang isinya sinetron soal naga dan burung garuda, sampe minimarket yang tersebar di seluruh Nusantara….

Kesel sih enggak, Cuma heran.

***

Tapi akhirnya saya sadar, saya gak berhak menghakimi Liem. Atau genk nya. Atau pengusaha-pengusaha besar lainnya di Indonesia, yang didominasi oleh warga keturunan Cina (atau Tiongkok, kalo kata SBY). Bukan salah mereka, jika menguasai dagang berdagang, dan menyisakan orang asli Indonesia, seperti saya,  bergulat dengan peliknya hidup kini.

Jadi, saya sadar akan hal itu karena tiap sore ngajak abib jalan2 keliling komplek.

Tiap sore jam 4, saya ngelewatin sebuah warung yang letaknya di jalan utama komplek tempat tinggal saya. Disitu, anak2 cowok berseragam SMA nongkrong rame2. Tiap hari, dari pulang sekolah jam 2, sampe magrib. Ngobrol, makan, ngerokok2, ketawa-ketawa, seru banget. Been there, done that. Dan di usia saya yang 10 tahun diatas mereka ini, saya sadar bahwa kegiatan itu, useless banget kalo dilakukan TIAP HARI.

Sementara, saya inget buku Battle Hymn of The Tiger Mother, yang ditulis sama Amy Chua. Seorang ibu Cina, yang tinggal dan membesarkan anak2nya di Amerika. Disitu, dia cerita, betapa kerasnya dia mendidik kedua putrinya. Boro2 nongkrong, main kerumah temennya aja gak boleh. Dia bilang: Anak cina, harus nomor satu di setiap bidang. (Resensi lengkapnya bisa ngintip disini)

Saya baca buku itu sambil geleng2. Enggak bakalan sih saya mendidik anak saya dengan cara dia, tapi setidaknya saya punya gambaran. Begitulah pendidikan manusia2 yang jumlahnya BUANYAK banget dan tersebar di seluruh dunia itu. Keras, getir, disiplin layaknya pendidikan militer. Gak ada reward, yang ada Cuma punishment. Itu dia pendidikan pertama yang diterima oleh orang-orang yang sekarang memegang tampuk kerajaan bisnis di berbagai negara di dunia.

No wonder….

Karena itu, saya rasa, kita gak berhak marah saat tanah kita, harta kekayaan kita, diambil oleh mereka. Toh, memang mereka yang punya etos kerja, punya kedisiplinan, dan punya tekad lebih kuat ketimbang kita. Well, let’s singkirkan fakta bahwa banyak anak2 muda cina yang juga nongkrong di mol, di klub atau di warung rokok juga, mungkin. Mereka udah generasi entah keberapa, yang tinggal menikmati hasilnya.

Sementara kita? Masih sampe generasi saya aja, belom jadi apa2. Mostly: BAWAHAN-nya orang Cina. Hehehe..

Persaingan sudah sedemikian ketat, tapi kita masih aja santai. Ya habislah kita sampe ke tulang rusuk.

Nyesel? Iya. Kalo saya sih jadi nyesel. Malu rasanya, jadi saya. Bisanya Cuma marah2, karena merasa tanah kita diambil, gas, minyak, sayur, pulau dirampok habis2an. Tapi gak pernah berusaha melakukan apa2. Kemana aja gue waktu muda? BAGAIMANA BISA SEORANG LIEM BIKIN BANK DI USIA 38 TAHUN?????

***

Hidup, memang bukan Cuma perkara materi. Tapi menghabiskan waktu buat hal yang useless, SETIAP HARI, rasanya bukan hal yang bener. Mungkin kalo sekali-sekali gak apa-apa, anak muda kan juga harus bergaul. Hehe..

Mungkin memulai misi pengejaran cita-cita harusnya dilakukan sejak dini. Sedini mungkin. Biar kita bisa mempertahankan harta kekayaan yang Tuhan anugerahkan buat kita ini. Rasanya, itu salah satu perwujudan dari rasa bersyukur.

Pernah gak diomelin orang tua seperti ini: “Itu tas nya jangan digeletakin sembarangan dong, kan udah mama beliin. Nanti kotor. Kalo punya barang itu dijaga, itu bentuk rasa syukur. Biar sama Allah dikasih terus.”

Kalo mama saya sih, ngomelnya suka panjang. Haha. Biasanya ditambahin lagi: “Coba kamu kasih kado ke orang, trus orang itu menerimanya ogah2an. Besoknya kamu liat barang itu gak pernah dijaga, dibiarin sampe lusuh. Pasti kamu juga males kan ngasih hadiah lagi buat orang itu?”

Jangan-jangan begitu juga yang terjadi sama Indonesia. Tuhan kasih hadiah harta berlimpah buat kita, orang Indonesia. Lalu, kita biarkan begitu aja sampe bulukan. Sekarang kita baru sadar bahwa, semua yang dulu kita punya sudah hampir HABIS.

Lalu saya berpikir dan begidik, Jangan-jangan nanti Tuhan males ngasih lagi buat kita, manusia2 yang gak bisa menjaga hadiah dariNya.  Dan kemudian…

Hiii…

*ketokjidat *ketokmeja  jangan sampe ah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s