Buang Makanan? Jangan!!

Gallery

Iya, 3 menit belajar ekonomi. Saya SUKAAAA banget buku ini. Hehehe… Jadi, Abib itu anak yang demen banget dibacain cerita, atau diajak ngobrol. Dia seneng aja gitu berinteraksi dengan orang. Karena itu, saya manfaatkan betul kesempatan ini, untuk bacain buku2 yang menarik dan berpengetahuan. Dengan kata lain, saya emang agak males aja bacain dongeng-dongeng. Saya nya bosen. Hahaha..

Tapi ya, buku ini menarik. Bentuknya komik dan topiknya lengkap. Seru deh. Naah, one day, kita sudah sampe ke chapter 13 di buku ini. Judulnya: Sampah makanan kalau diuangkan jadi berapa yaa? Disitu ceritanya lagi pertemuan ibu-ibu di sebuah restoran. Kemudian, sisa makanannya masih banyak. Salah seorang ibu, lalu membungkus makanan2 itu untuk dibawa pulang. Tapi ibu-ibu lainnya bilang bahwa hal itu memalukan. Hahaha..persis ya kaya ibu2 disini.

Truuus, si ibu yang membungkus makanan itu menjelaskan bahwa hal itutidak memalukan . Karena, kalau sisa makaan itu tidak dibawa, nantinya hanya akan menjadi sampah, padahal masih banyak orang yang kelaparan. Hmm, actually buku itu ditulis oleh orang Korea, dan disitu dijelaskan bahwa di negaranya makanan yang akhirnya menjadi sampah dalam sehari jumlahnya sekitar 4 ton dan terus meningkat sampe 6,5 ton. Waw. Jumlah itu, kalau diuangkan mecapai 8 triliun won. Sambil marah2, dengan gambar yang kocak, si ibu menjelaskan “Uang sebesar itu bisa untuk membangun negara! Membuang makanan enak, memboroskan uang dan mencemari sungai. Liat hasil perbuatan kalian!!!” hehehe..

setelah komiknya, ada penjelasan tambahan. Bahwa dalam satu hari, sampah makanan yang dihasilkan penduduk Korsel mengalami pertambahan sebanyak 0,68 kg. Jumlah itu aja, masih jauh lebih besar ketimbang sampah makanan yang dihasilkan USA atau Jepang yang hanya 0,3 kg per hari. Jadi, masih menurut itu buku, kalau penduduk Korsel mengurangi sampah makanannya, maka mereka akan mengurangi biaya pengeolaan sampah sebanyak 7 miliar won, yang notabene bisa digunakan untuk membangun lahan untuk mengubur sampah.

Bagus kan ceritanya? Hehe..Usai saya bacain ke Abib, yang cengengesan mulu itu, saya jadi keingetan soal sampah makanan waktu ke Saudi beberapa tahun lalu.

Jadi, waktu itu, saya dan keluarga nginep di hotel Grand Makkah. (Katanya sekarang tu hotel udah ga ada ya, karena perluasan halaman masjidil Haram?) disana, selain rombongan kami, ada beberapa jamaah dari rombongan lainnya. Biasanya kami ketemu saat waktunya sarapan-makan siang dan makan malam, yang emang disediakan di restoran hotel.

Acapkali makan, mama selalu mengeluh melihat piring-piring bekas jamaah dari rombongan lain, yang bececeran di meja. Bukan karena bececeran, tapi karena sisa makanannya selalu banyak. Jadi, karena temanya prasmanan, nampaknya para jamaah itu gak mau sampe kehabisan, atau repot-repot menambah. So, sejak awal, mereka menimbun makanan2 itu di piringnya. Sayang disayang, makanan itu gak mampu dihabiskan. Maka, ditinggalkan begitu saja.

Grrr…gimana gitu ya, ngeliatnya. Soalnya, kita semua, sebagai jamaah kan disana lagi beribadah. Tapi kok nyatanya, ibadah ya ibadah aja. Dateng ke kabah, tawaf dll, tapi that’s it. Gak sampe ke aplikasi perbuatan sehari-hari. Dimata saya, hal itu cacat banget. Padahal, kalo di rombongan kami, ustadz udah menjelaskan bahwa di agama, perintah untuk menghabiskan makanan juga ada di beberapa hadist. Nabi cukup keras mengingatkan agar jangan suka menyisakan makanan.

Tapi ternyata, hal itu sudah menjadi KEBIASAAN orang Indonesia. Ehem, itu sih menurut para pekerja di Hotel yang saya ajak ngobrol. Kebanyakan dari mereka adalah TKI dari Jawa. Katanya, jamaah umroh maupun haji dari Indonesia kebanyakan berlaku demikian. Seneng ngambil banyak makanan tapi gak mau menghabiskan. Bahkan banyak yang membungkus dalam tisu, tapi kemudian ditiggal begitu aja di kamar. Kemaruk, katanya. Hehe..

No wonder, kalo dateng kondangan juga hal seperti itu sering ditemui ya? So, kalo memang benar, menyisakan makanan adalah ‘hobi’ orang Indonesia, kira2 berapa ya sampah makanan sisa yang dihasilkan penduduk Indonesia per hari nya? Apakah lebih banyak dari sampah penduduk Korea Selatan?

Setau saya, data terakhir KLH menunjukkan bahwa timbunan sampah nasional itu jumlahnya mencapai 176 ribu ton per hari. Sebagian besar asalnya dari sampah rumah tangga. Meskipun memang ga ada data akuratnya, sampah itu sisa makanan atau bukan. Ya wajar sih, penduduk kita lebih banyak dari penduduk Korsel. Eh? Wajar? Ya enggak juga siiih…karena itu banyak!!

Di laman antara, pernah ada berita ini. Yang intinya juga sama, yakni makan tak bersisa, sebenernya bisa membantu menyelamatkan dunia. Lumayan ekstrem, karena data terakhir para peneliti di Chicago memperkirakan, 30-50 persen makanan yang dihasilkan di dunia, berakhir tanpa dimakan. Kata The Natural Resources Defense Council AS, setiap penduduk di AS rata2 membuang 33 pound (1 pound= 0, 4536 kg) makanan setiap bulan atau senilai 400 pound makanan. Artinya, dalam satu tahun, setiap orang di AS membuang hampir 400 pound makanan, yang sama beratnya dengan seekor gorila jantan dewasa.

Yeah well, rasanya si mas tukang bersih2 hotel lumayan sok tau. Hehe, karena membuang-buangmakanan bukan Cuma hobi orang Indonesia. Tapi hobi penduduk DUNIA. Itu baru data dari Korea dan AS, di beberapa web lain ada data dari Dubai, Australia dan beberapa negara lainnya. Tak hanya uang, energi pun bisa dihemat dari aksi tidak membuang-buang makanan.

Katanya, beberapa organisasi sosial di Australia sampe pernah mencoba mengatasi hal tersebut dengan mengambil dan mendistribusikan bahan makanan layak dimakan. Jadi, ada relawan berkeliling restoran menjemput makanan yang bersisa setiap hari, maupun memilih bahan makanan yang masih bisa diolah di tempat sampah. Kemudian mereka mengantarkan makanan tersebut ke rumah-rumah panti jompo, orang-orang terlantar maupun mengolahnya menjadi kompos dan pupuk organik. Mungkin bisa diintip di situs http://www.givenow.com.au atau di http://www.secondbite.org ck ck ck…*geleng2kepala

Makanan, dan membuang sisa makanan yang MASIH bisa dimakan itu, HAL KECIL. Ya setidaknya, gak pernah kan terlintas di kepala kalo ternyata ujungnya sedahsyat itu… Saya, jadi maluuuuu banget bacanya. Menohok. Heu.. Ya, rasanya, gak pernah ada kata terlambat buat berubah. Kalo di buku 3 menit belajar ekonomi, dikasih tips. Pertama, sediakan makanan secukupnya saja. Kedua, jangan pernah menyisakan makanan. Ketiga, saat makan di restoran pun, pesanlah makanan secukupnya saja. Jika berlebih, bungkus dan dihabiskan dirumah. Selain itu, di beberapa web ada kok tips menghemat bahan2 makanan, such as : http://lovefoodhatewaste.com

Tapi poin pentingnya juga, sebenernya gak usah pake gengsi lah. Saya setuju sama blogger satu ini. Hemat seperti itu bukan pelit. Itu namanya ‘elegant economy’, yaitu berusaha menghemat melalui modifikasi yang masih punya nilai manfaat. Lagian ya, pernah gak ngeliat ini secara langsung:

Saya pernah. Dan waktu itu, saya masih liputan di Bekasi. Sayang saya gak motret. Tapi, the fact is, gak jauh dari tempat tinggal saya ini, masih ada orang busung lapar. Ya kan? gak usah jauh-jauh ke Papua atau ke Afrika… Masa saya masih buang2 makanan juga? *helanafas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s