HUGO: The World is A Machine. All Of Us Were Made For A Purpose

Gallery

Semalam saya nonton HUGO.

Di DVD. Iyalaaah…hehehe..masa di bioskop, abib mau dikemanain? Okey, the point is: filem yang menang 5 kategori di academy awards ini SUNGGUH CAKEP. Hm, sebenarnya filem ini mengantongi piala dari kategori  best cinematography, best art direction, visual effects, sound editing dan sound mixing. Begitu juga di ajang award lainnya, yang menominasikan dan memenangkan HUGO. Semua ada di kategori art, cinematography. All visual.

Tapi, saya bukan @evaephaepaaa yang selalu melihat felem, buku, iklan dan semua hal dari angle design. Saya, seperti biasa, melihatnya dari mata galau. *eh hahaha maksudnya dari segi cerita. Film ini memang punya gambar dan efek yang sangat cakep, tapi sesungguhnya, ceritanya juga enggak kalah cakep…

“I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason.  

I always believed that the world is a machine. All of us were made for a purpose.”

Hugo Cabret.

Film tentang seorang anak berusia 12 tahun, yang merasa amat kesepian sejak bapaknya meninggal. Semasa hidupnya, ayah Hugo, bekerja di Museum. Karena itu dia sangat terampil membetulkan benda2 tua yang rusak. Suatu hari, ayahnya-yang diperankan sama si ganteng Jude Law- ini membawa pulang ‘robot’ yang dinamakan automaton. Robot yang biasa digunakan oleh pesulap, dan bisa menulis.

Robot ini, bukan diprogram komputer kaya robot jaman sekarang, (iyalah itu film kan settingnya taun 1930)tapi pake mesin yang bentuknya semacam untuk menggerakkan jam besar. Nah, automaton itu dibawa pulang dalam keadaan rusak, maka berdua anak beranak itu berusaha memperbaikinya. Saat sedang seru2nya memperbaiki automaton, tetiba Hugo dijemput seorang paman yang pemabuk dan membawanya untuk tinggal di dalam jam besar di stasiun. Karena ayahnya meninggal, di museum yang terbakar.

Sejak hari itu, Hugo hidup sendiri di ruangan dalam jam besar itu. sambil tetap berusaha memperbaiki si automoton, karena menganggapnya sebagai mesin peninggalan terakhir bapaknya. Saat itulah ia merasa, entah kenapa, tujuan hidupnya adalah memperbaiki robot itu. Apapun dia lakukan untuk tetap memperbaikinya, hari demi hari. Dia selalu yakin, ada alasan spesial, mengapa automoton ada dirumahnya, dibawa oleh ayahnya, dan kemudian menjadi tanggung jawabnya.

Ternyata bener.

Robot yang berhasil diperbaiki Hugo mampu mengubah kehidupan seorang kakek2. Old legend, bernama George Melies. George, seorang pesulap dan sineas terkenal dengan ratusan filem, yang menghabiskan masa tuanya sebagai pemilik toko mainan. Karena bangkrut, dan seluruh pita film nya dijadikan heels. Heu..part itu sedihnya bukan main. Gak kebayang deh.

Bertemunya Hugo dengan kakek2 yang cranky ini, ternyata memutar balik keterpurukan hidup keduanya.

“Mama Jeanne: Georges, you’ve tried to forget the past for so long, but it has caused you nothing but unhappiness. Maybe it’s time you tried to remember.”

Bagaimana bisa? Ya monggo ditonton aja sendiri. Yang jelas felem ini cakep, dan bikin saya jadi inget ini:

God Works in a mysterious way.

Sebenernya tujuan idup kita itu apa? Apa yang harus dikejar? Karena tuhan pasti menciptakan kita untuk sebuah alasan. Tapi, kalau sudah tertulis, apa kita masih harus tau, dan kenal apa alasan kita dilahirkan? Apakah masih harus dikejar? Apa justru kita harus pasrah aja jalanin hidup sehari-hari tanpa mikirin, mau jadi apa nantinya…

Dulu, saya sempet ngobrol2 sama 3 orang sahabat yang mantan pecandu narkoba. Mereka bertiga, ajaibnya, mengakui bahwa alasan penting mengapa seseorang menggunakan narkoba adalah: gak punya tujuan hidup. Komentar 3 orang mungkin belum cukup untuk mewakili banyak suara pengguna narkoba. Tapi itu cukup untuk sebuah studi kasus.

Bahwa, “broken family” bukan satu2nya alasan seorang anak menjadi junkie.

Dua dari sahabat saya itu, punya keluarga yang sangat bahagia. Gak pernah ada masalah dan semua berjalan baik2 saja. Tapi bertahun-tahun mereka ‘make’. Namun, mereka sepakat, bahwa saat itu mereka ENGGAK pernah punya cita2. Gak ada sesuatu yang mau mereka kejar. Mereka Cuma menjalani hidup dari hari ke hari. Maka, saat temen2nya mulai mengenal penyalahgunaan narkoba, gampang aja buat mereka ikut2an.

Sementara si Poento. Semasa mudanya, dia kerap dikelilingi junkie. Enggak pernah ada kepengennya untuk mencoba. Kalo saya tanya kenapa, dia bilang, “Karena gue punya cita2. Jadi gue bisa mikir panjang.” Simple ya. Jadi, ‘pertemuan’ masa ABG dengan tidak punya tujuan hidup, adalah komposisi yang PAS untuk kemungkinan seorang remaja menyalahgunakan narkoba. Tricky…

Maka, kesimpulannya sih menurut saya, persis kaya yang hugo bilang. Iya, dia percaya Tuhan sudah menuliskan takdirnya, kelahirannya di muka bumi ini, ada alasannya. Karena itu, dia berusaha mencari tahu. Takdir apa yang telah dituliskan Tuhan untuk kehidupannya yang pahit. Apa tujuan Tuhan meninggalkan automaton, sebelum wafat ayahnya.

Jadi, nampaknya, untuk menjalani kehidupan ini, seorang manusia harus punya tujuan. Punya cita2. Punya suatu hal baik untuk dikejar. Setelah proses mencari tahu berakhir, maka, harusnya, kita semua udah punya suatu hal untuk dikejar sampai tercapai.

Tentu saja, dengan gigih, berani, cara yang baik dan gak pernah berhenti…

“Maybe that’s why a broken machine always makes me a little sad, because it isn’t able to do what it was meant to do… Maybe it’s the same with people. If you lose your purpose… it’s like you’re broken.” (HUGO)

Semoga Passion segera menemukan jalannya… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s