Belajar Bersyukur (lagi)

Gallery

Barusan buka2 facebook karena liat2 foto yang di posting sama @panicihuy. Foto-foto hasil dari reunian kami berempat di Fab Cafe Grand Indonesia dan @bungtje di Belanda sana, lewat skype. Hehehe..

Disitu Mbak @cameliawiguna cerita soal kandungannya. Dengernya deg2an banget. Sebenernya dia juga udah pernah posting notesnya soal itu disini. Ni dia:

Agak sulit untuk berjalan tegak dengan kepala tetap rasional ketika dihadapkan pada sejumlah permasalahan yang tak kunjung habisnya dengan kehamilan ini.

Saya dan suami sebenarnya sudah berhenti berupaya untuk mendapatkan anak ini setelah hampir setahun sejak keguguran anak kami. Obat-obatan yang diberikan dokter kandungan tidak benar-benar memberikan dampak nyata. Seminggu setelah meminum obat penyubur, saya malah masuk rumah sakit karena vertigo dan tekanan darah tinggi.

Suatu malam, suami saya mengatakan “Tidak bisa memaksakan diri untuk hamil dengan berbagai cara yang hanya akan membahayakan kesehatanmu.”

Jadi, hari-hari setelah kami berhenti menemui dokter kandungan, saya berdoa pada Tuhan, memintaNya kalau memang Dia menghendaki memberikan kami anak, maka itu akan terjadi tanpa intervensi. Kalau tidak, ya, meski kecewa, kami akan tetap menerimanya dengan tulus.

Sejak bulan Maret 2011, saya berhenti menemui dokter dan memulai program untuk menyehatkan diri dengan berolahraga, diet ketat untuk menurunkan kadar kolestrol dan mengonsumsi vitamin-vitamin. Berat badan turun lebih dari lima kilogram dalam jangka waktu tiga bulan. Saya merasa jauh lebih fit.

Bulan Juli 2011, kami merencanakan liburan keluarga. Saya mengambil sudah mengambil cuti ketika saya menyadari bahwa saya terlambat haid. Meski sudah pahit hati melihat alat tes kehamilan, saya katakan pada suami saya bahwa saya akan tes saja, agar tidak menjadi beban selama liburan.

Tidak banyak berharap ketika saya melakukan tes itu di kamar mandi. Jantung sungguh berdebar keras ketika saya melihat tak hanya satu garis seperti biasa, melainkan ada garis kedua yang berwarna merah muda muncul di alat tes kehamilan.

Masih agak tak percaya, sore itu kami pergi ke dokter kandungan yang memastikan bahwa saya memang hamil meski janin belum terlihat. Kami memutuskan untuk membatalkan liburan untuk membiarkan tubuh beristirahat mempersiapkan rahim yang baik bagi anak kami.

Lovenox Pertama Saya

Beberapa hari setelah menyadari kehamilan, saya dan suami pergi menemui dokter hematologi kami, Dr. Aru W. Sudoyo. Kami dulu kehilangan bayi karena masalah kekentalan darah yang tidak disadari dan berupaya untuk tidak sampai terjadi lagi.

Dokter Aru menyarankan mulai menggunakan Lovenox, seminggu tiga kali. Lovenox, suntikan pengencer darah ini tidak murah. Ketika saya membeli di rumah sakit, harga per ampulnya mencapai Rp 240 ribu. Ketika saya membeli dari produsen, harganya lumayan berkurang Rp 180 ribu.

Malam itu, dokter mengajarkan suami saya bagaimana cara menyuntik Lovenox di lemak perut. Tidak terlalu menyakitkan waktu itu. Namun ketika kehamilan bertambah besar, rasa sakit tidak terhindarkan.

Setelah bulan ke tujuh kehamilan, ketika perut mulai membiru-biru dan hasil tes darah membaik, dokter memutuskan mengurangi dosis suntikan menjadi hanya dua kali seminggu. Sungguh melegakan.

Masalah Bayi

Satu hal yang sungguh menyedihkan adalah ketika memasuki minggu ke 32 kehamilan saya. Dokter kandungan mengatakan bahwa ada masalah dengan aliran darah di tali pusar, SDAU nya tinggi. Tak hanya itu, dokter kandungan saya, Reino Rambey, juga mengatakan tekanan darah pada bayi cukup inggi.

Ketika kami melaporkan pada dokter hematologi, sarannya hanya satu, dosis suntikan Lovenox dinaikkan menjadi tiap hari. Tidak hanya sakit yang terbayang di kepala. Dengan masa kehamilan yang masih lebih dari sebulan, di kepala kami sudah mulai menghitung-hitung biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar Lovenox ini.

Masalah bayi ini sempat membuat kami ragu untuk mengikuti acara Natal sektor yang diselenggarakan di Cisarua. Tapi lalu saya dan suami berpikir bahwa kami tak mau seperti orang yang kekurangan iman. Tuhan sudah memberi, Dia juga yang akan menjaga bayi kecil kami ini. Maka kami tetap pergi dan menjalani hidup seperti biasa.

Melahirkan Lebih Awal?

Minggu ke 33, ketika kami menemui dokter kandungan, tekanan darah di kepala bayi tidak membaik, meski dosis suntikan sudah dinaikkan. SDAU nya membaik.

Dokter kandungan menulis surat lagi untuk dokter hematologi.

Jadi minggu ini, kami menemui dokter hematologi lagi. Tidak hanya dengan surat dokter kandungan, tapi juga dengan hasil lab terbaru bahwa HB saya turun menjadi 9 dan kadar zat besi turun drastis hanya 8, normalnya 13 – 150.

Bila biasanya Dokter Aru banyak bercanda, ketika kami menemuinya semalam, wajahnya sungguh serius. Dia membaca hasil laporan dokter jantung, membaca surat dokter kandungan dan membaca hasil laboratorium.

Hampir 15 menit dia membiarkan saya menunggu di meja periksa ketika dia sibuk mengirimkan pesan lewat Blackberry-nya.

Setelah selesai memeriksa denyut nadi dan jantung, dia menerangkan bahwa dia mengonsultasikan keadaan saya dengan seorang dokter kandungan senior yang akan menjadi ketua asosiasi dokter kandungan mendatang.

Kesimpulannya, tak ada lagi yang bisa dilakukan. Semua upaya sudah maksimal, dosis tidak bisa dinaikkan lagi. Dia menyarankan untuk menunggu seminggu dengan mempertahankan dosis obat yang sama dan melihat perkembangannya. Bila tak berubah, saran yang dia sampaikan dalam surat pada dokter kandungan adalah “diselesaikan lebih cepat” atau dilahirkan awal.

Ah, sungguh saya tidak menyukai ide itu. Saya membaca di berbagai artikel bahwa bayi-bayi prematur biasanya memiliki banyak masalah kesehatan di depan.

Mengenai masalah HB, dia memberikan obat tablet untuk meningkatkan kadar zat besi yang diharapkan meningkatkan HB. Efek domino. Kalau kadar besi meningkat, HB diharapkan meningkat. Bila HB meningkat, maka kerja jantung diharapkan tidak terlalu berat sehingga denyut jantung tak secepat sekarang. Kalau obat tablet tak berhasil, maka akan dicoba dengan obat yang disuntikkan langsung intravena.

Hari ini saya menelepon dokter kandungan saya. Setelah mendengar perkembangan terakhir, dia meminta saya menemuinya segera minggu ini. Dia ingin membaca dulu hasil lab dan rekomendasi dokter hematologi baru kemudian memutuskan. Tapi dia menyatakan bahwa memang sudah dimungkinkan untuk dilahirkan sekarang, meski tetap ada resiko.

Pilihan

Saya tahu bahwa sungguh beresiko untuk membiarkan bayi saya di kandungan dengan keadaannya sekarang. Tapi saya berpikir bahwa kalau dipaksa lahir prematur dengan operasi pada usia kehamilan 34 minggu — bayi biasanya lahir pada usia kehamilan 38 sampai 40 minggu — anak saya mungkin akan menghadapi resiko masalah kesehatan dengan paru-paru yang belum matang.

Sungguh membingungkan. Tapi dalam keadaan seperti ini, anak kami tetap aktif. Dia rajin berputar, menendang dan mendorong perut saya. Sesuatu yang dikatakan dokter pertanda yang baik. Dia menyarakan saya untuk segera ke rumah sakit bila sampai gerakan bayi berkurang secara signifikan.

Maka sekali lagi, saya mau mengingat bahwa Tuhan menguatkan iman kami. Bayi ini diberikan ketika kami kehilangan harapan. Kekuatiran sungguh tak beralasan. Dia yang memberi, Dia yang menjaga. Kalaupun  Dia mau mengambil, kami tak punya hak untuk melarangNya.

Kami hanya bisa berdoa untuk bayi kecil kami dan beriman bahwa apapun yang terjadi, itu memang dalam rencana indahnya untuk keluarga kami.

Jadi bayi kecil, bertahanlah. Kami berjuang melawan kekuatiran kami dengan iman. Berjuanglah untuk bertemu kami sebagaimana kami berjuang untuk mempertahankanmu.

…………

Ffuuh…agak panjang ya? Tapi mendebarkan. Sebelum baca tulisan mba camel itu, saya baru banget abis baca tulisan di The Urban Mama, soal kehamilan juga. Ini dia.

Membaca dan mendengar kisah2 macam itu, saya jadi malu. Heu. Bersyukur banget waktu hamil, saya baik2 aja. Enggak ngidam, enggak mual, enggak sakit apa2. Meskipun sempet anfal dan tergeletak di UGD semaleman karena bengek pas hamil 5 bulan, tapi kemudian semua baik2 aja.

Jadi malu saat saya kesel karena saya enggak bisa melahirkan normal. Hehe..padahal mah Cuma begitu doang. Hehehe

Semoga Tuhan melindungi mba Camel dan putranya. Semoga pada akhirnya, semua akan baik2 aja ya mbaaak…

Semoga saya, masih bisa terus ditegur lembut seperti ini, sama Tuhan. Biar saya bisa terus bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s