What Does Matter, His Heart Stop.

Gallery

“SEMANGAT OLAHRAGAAAAAAA!!”

Gitu teriakan si Poento kemarin, sehabis mendengar kabar duka, tetangga depan rumah meninggal dunia. Karena, sakit jantung. Kematian mendadak, di tengah jam kantor. Padahal, paginya masih ceria segar bugar. Padahal, si om depan itu orangnya masih muda, kurus, dan rajin bangun pagi. Jadilah, berita duka yang mengagetkan itu semakin membuat daddy nya Abib, yang sekarang tiba2 80 kg itu, panik. Hehehe..

Ya wajar sih dia panik. Karena biar gimanapun, enggak salah kok menjalani pola hidup sehat. Tapi nyawa? Kayanya itu hak prerogatif Tuhan ya…

Saya jadi inget film 50/50.

Felemnya si ganteng Joseph Gordon-Levitt. Filmnya bagus, santai, dan –kalo saya, sebagai si a whole lifetime penyakitan- proses identifikasi diri sangat mudah terjadi. Menghibur. Nah, ceritanya di felem ini, si tokoh utama, Adam, kena kanker di tulang belakang. Ini first line-nya.

Adam: A tumor?
Dr. Ross: Yes.
Adam: Me?
Dr. Ross: Yes.
Adam: That doesn’t make any sense though. I mean… I don’t smoke, I don’t drink… I recycle…

See? Yeah well, gak semua orang kena penyakit, karena apa yang udah dia lakukan. Kalo emang harus sakit, ya sakit. Kalo emang belom waktunya mati, ya belom. As simple as that. Kasarnya, mau2 Tuhan-lah.

Saya punya cerita. Jaman kuliah dulu, saya punya temen. Cowok. Orangnya tinggi, besar, dan sehat. Dia gak ngerokok, gak pernah mabok, boro2 penyalahgunaan narkoba. Then, dia kena kanker. Entah darimana, entah kenapa, gak ada angin, gak ada ujan. Sejak hari dia divonis kanker, hidupnya berakhir. Dia mulai menjalani kehidupan as a ‘rockstar’. Rokok, mabok, dan berubah jadi junkie. SAMPAH. Akhirnya dia meninggal. Bukan, bukan karena kanker. Bukan juga karena drugs. Tau kenapa? Kecelakaan motor. That’s it. Sia2 kan idupnya?

Tapi ada juga temen lain yang kena kanker dari SMP. Ya dia ngerokok, dan suka minum2 waktu masih ABG. Tapi dia tetap menjalani kehidupannya, dan berubah jadi jauh lebih baik. Sampe akhirnya dia menikah, dan sekarang udah punya dua anak sekarang. Belom, dia belom mati. Sembuh? Enggak. Dia Cuma yakin, bahwa mati-idupnya dia itu urusan Tuhan. Dia percaya, yang bisa dia lakuin Cuma usaha.

Saya juga penyakitan. Seumur idup penyakitan, dari bayi sampe sekarang. Asal mula nya asma, penyakit yang saya dapetin karena menurun dari kakek, kemudian merembet jadi banyak penyakitnya. Saya juga pernah ngerasain between life and death, waktu 2007, baru lulus kuliah. Kehabisan nafas dan harus ‘dipaksa’ bernafas. Ceritanya bisa enggak habis2 kalo saya bahas disini. Hehe..tapi intinya, saya alhamdulillah, masih terus dikasih dan dikasih kesempatan buat hidup sama Tuhan. Jadi saya pun berusaha untuk tetap ‘hidup’ kemudian mencari dan menemukan alasan-alasan buat bertahan hidup. Sebagai bentuk rasa syukur atas kemurah hatian Tuhan, akan kehidupan saya ini.

Semua mahluk Tuhan pasti mati. Saya percaya. Jadi, saat masih hidup, saatnya kita menjalani sesuatu yang terbaik. Terbaik buat diri sendiri, juga terbaik buat orang lain. Karena kata Nabi, sebaik2nya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain. Ya kan?

Dan kalo nanti akhirnya mati, saya setuju sama kata2 Alan, temen chemo-nya si Adam di 50/50. Saat itu, mereka menjalani chemo bertiga. Dan salah satu diantara mereka, Mitch, meninggal. Saat Adam nanyain, kenapa Mitch meninggal,  Alan bilang: “What does matter, his heart stop”. Iya, my heart stop. That’s all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s