Bali, Semoga Tuhan Berkati (Story)…

Gallery

“Disini apa-apa memang harus dijual mahal, karena biaya hidup tinggi,” kata seorang Beli yang jadi tour guide saya selama di Bali, Akhir Juli 2011 silam. “Karena banyak turis, jadi daya beli tinggi, maka harga jadi mahal ya, beli?” tanya saya.

“Bukan, karena kebanyakan warga Hindu memang menjalankan ajaran agamanya dengan biaya yang cukup tinggi…”

Oooohh…kok bisa? Itu yang terlintas di kepala saya. Ternyata, setelah menghabiskan waktu dengan Beli Sena dan Beli-Beli lainnya di Bali selama 5 hari, saya jadi ngerti. Iya, karena upacara keagamaan dan ritual harian sembahyang yang harus dikerjakan masyarakat Hindu di Bali, kini, mau gak mau berbiaya mahal. Karena, zaman udah berubah, gak ada lagi batu, kayu, bunga, buah dan kain-kain yang kini bisa diperoleh gratis, seperti zaman nenek moyang kita. Sementara ritual yang harus dikerjakan, saklek. Memang, menurut beberapa keterangan dari masyarakat Bali, tidak semua ketua adat saklek. Tapi kebanyakan, masih.

Misalnya, upacara ngaben. Fffuuuhh…dengernya aja saya sampa keringetan. Jadi, misalnya ayah kita meninggal. Anak lelaki sulung, pihak yang mendapatkan harta warisan terbesar berupa rumah itu harus menanggung semua biaya ngaben ayahnya, yang sungguh mahal. Sebab, minimal satu keluarga bisa menghabiskan Rp 50-55 juta untuk ngaben. Itu minimal.

Biaya yang dikeluarkan itu, selain untuk upacara sakral pembakaran mayat dan melarung abu nya, juga untuk membuat sesaji. Kemudian menjamu tamu selama dua minggu, yang wajib turut serta membantu prosesi, dan memadati rumah setiap hari. Juga untuk membuat peti mati dan sarcophagusnya, yang bentuknya menyerupai lembu atau wadah berbentuk vihara dan terbuat dari kayu dan kertas. “Makin tinggi bangunan sarcophagus itu, makin menunjukkan strata sosial keluarga yang melaksanakan ngaben itu,” kata supir yang menemani perjalanan kami.

Nantinya, si bangunan berbentuk lembu atau vihara itu akan dibakar beserta dengan jenazah. Pembakaran itu maksdnya biar mudah ngebebasin roh dari tubuh dan nantinya lebih mudah untuk reinkarnasi. Sebab, kalo gak ngaben, masyarakat Hindu percaya bahwa orang tersebut nantinya sulit bereinkarnasi.  Ngaben ini, buat kalangan berduit, atau kasta tinggi, harusnya emang dilakukan dalam waktu 3 hari. Tapi karena sekarang mahal, jadi banyak kalangan masyarakat yang nguburin dulu jenazah sambil ngumpulin uang. Nanti saat sudah terkumpul uangnya, baru dilaksanakan ngaben. “Kadang ada yang sampai 3 tahun dikubur dulu,” kata Beli Sena. Bagusnya, sekarang juga sudah ada beberapa kebijakan modern dari tetua adat (duh maaf saya ga tau istilahnya), bahwa ngaben boleh dilakukan secara massal. Jadi bisa patungan…

Beberapa warga menyaksikan prosesi pembakaran 3 buah peti jenazah berbentuk sapi yang berisi jenazah keluarga Raja Mengwi dalam Ngaben masal di Mengwi, Badung, Bali, Jumat (2/7). Sebanyak 134 jenazah warga setempat juga diikutsertakan untuk dikremasi secara bersama-sama dalam Ngaben akbar itu. FOTO ANTARA/Edoardo/nym/ss/pd/10.)

Disana juga, kalo yang masih mau hidup laksana orang Bali tradisional harus memiliki rumah yang sangat luas dengan pintu sejengkal, plus ukiran2 yang dipahat sepanjang dinding, sampe ke jendela. Waktu saya mampir ke Ubud, salah satu gallery nya masih memiliki dinding berukir macam itu. “Harganya Rp 250 juta perdinding,” kata salah seorang pelukisnya. Saya ngejengkang. Gila kali. Rumah kami di Bekasi aja Rp 290 juta. SATU RUMAH. Tapi yang macam itu, memang enggak wajib, itu Cuma KEINGINAN semua orang Hindu di Bali. Kemewahan yang boro-boro. Kenapa?

Karena selain ngaben, warga Hindu di Bali juga WAJIB memiliki bangunan batu tempat sembahyang di teras rumahnya. Pura-pura kecil ini, pasti ada di setiap rumah masyarakat Hindu di Bali, tujuannya agar memudahkan melaksanakan ibadah pagi dan sore setiap hari. Sebab kalo ke pura-pura besar seperti Besakih gitu, jauh, dan gak terjangkau kalo setiap hari. Kan mereka harus kerja, sekolah dll. Selain pura kecil di teras rumah, setiap keluarga Hindu juga punya pura keluarga untuk memuja Hyang Widhi dan leluhur keluarga.

Bahkan, di setiap desa, umumnya juga punya tiga pura utama yang disebut Pura Tri Kahyangan. Maksudnya tu sebagai Pura tempat pemujaan Sang Hyang Widi Wasa dalam tiga perwujudan kekuasaan-Nya. Kalo kata Beli Sena, Pura desa buat memuja Dewa Brahma, Pura puseh buat memuja Dewa Wisnu dan Pura Dalem buat memuja Dewa Shiwa. Sebenernya sih Pura desa ini juga bisa jadi bale-bale tempat musyawarah desa.

Selain kategori Pura Desa, ada lagi kategori yang lebih besar yaitu Pura Kahyangan Jagat. Ini tempat masyarakat umum memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa dan juga roh leluhur.  Yang masuk kategori ini, salah satunya itu Pura Luhur Uluwatu dan Pura Besakih. Malahan nih ya, katanya, ada kategori Pura Swagina. Artinya, Pura ini adalah tempat pemujaan buat kelompok masyarakat dengan profesi atau mata pencaharian tertentu. Contohnya ada Pura Melanting buat pedagang, dan Subak buat petani.

(Foto: Tourbalijava.com)

Banyak kan? Kebayang gak berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun dan melakukan maintanance pura-pura itu? kata Beli Sena, pura2 kecil depan rumah yang wajib dimiiki setiap keluarga Hindu, minimal dibangun dengan biaya Rp 30 juta. Perawatannya juga enggak mudah, karena batu kan lama kelamaan lapuk. Belum lagi kain-kain dan sesaji yang harus sering diganti.

Eniwei, sesaji atau biasa disebut upakara atau Banten ini juga harus dibuat setiap hari, pagi dan sore. Dengan bahan daun pisang, bunga-bunga an, orang Hindu akan meletakkan makanan yang mereka makan pagi/sore ini. “Jadi, kalo nemu sesaji yang isinya hanya biskuit atau sebatang rokok, berarti si empunya tempat baru sarapan itu, pagi ini,” kata Beli Sena sambil nyengir. Sesaji macam ini gak Cuma dirumah, tapi juga di  mini market, restoran, hotel, dll. Tujuannya, menolak bala. Kata Beli, biayanya memang tidak mahal kalo membuat sendiri, tapi kalo malas bikin, ya jadi mahal.

Beli Sena juga cerita kalo di Bali selalu ada upacara adat setiap 210 hari sekali. Saat itu, semua orang di desa harus turut upacara selama sepekan. Tidak boleh masuk kerja, tidak boleh masuk kuliah, tidak boleh sekolah. Semua harus ikut ke Pura, berbondong2 dan mengenakan pakaian adat. Misalnya, galungan. Hari kemenangan Dharma melawan Adharma, yang diadakan sekitar 210 hari sekali pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan. Terus hari raya Kuningan, yang juga diperingati 210 hari atau 6 bulan sekali dalam kalender Bali, yang 1 bulannya: 35 hari. Ada juga hari raya Pagerwesi yang juga jatuh tiap210 hari pada Rabu Kliwon Shita.

Itu hari-hari raya itu, belom termasuk hari raya nyepi setiap tahun baru saka, hari saraswati yang disebut hari ilmu pengetahuan, then hari raya Siwaratri, dan hari raya Tumpek Landep. Hari raya, tentu berbeda dengan upacara. Setiap 15 hari sekali, ada upacara Kajeng Kliwon, ada juga upacara Mekotek/ngerebek yang dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan, kalo bayi lahir juga ada upacara Tutug Kambuhan dan kepus puser. Trus ada upacara Bhuta Yadnya, Buda Cemeng Klawu, aaaaahhh…kalo saya sebutin satu2 bisa jadi thesis ni tulisan. Pokoknya jumlahnya ada ratusan ritual. No wonder ya, Bali memang happening banget. Upacara dan hari raya macam ini emang terbukti menarik minat turis. Tanpa tau, bahwa masyarakat Hindu sendiri kadang merasa kesulitan.

“Ya upacara banyak, tentu biaya yang keluar juga banyak, tapi tiap upacara kita tidak boleh kerja, bagaimana mencari uangnya?” kata Beli supir travel kami, sambil mendesah pelan. Iya yah, tiap upacara berlangsung, mereka harus bolos. Yang travel guide, yang supir, yang pedagang, siapapun. Lalu gimana cara mereka bayar biaya upacara2 itu? hutang. Hmppfff…

Saya jadi kasian dengernya. Bukan, bukan kasian karena mereka beragama Hindu. Tapi kasian karena kebutuhan mereka yang BANYAK itu tidak dipenuhi pemerintah. Padahal Hindu kan agama yang diakui di Indonesia, kok gak diperhatikan sih kebutuhannya?

Saya baca berita di Media Indonesia, ada artikel ini:

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengimbau agar pelaksanaan upacara ritual Hindu (yadnya) di Bali tidak harus berbiaya mahal yang mengesankan nuansa layaknya sebuah festival.

Sebab, ujarnya, esensi dalam upacara agama adalah keikhlasan dan kekhusukan ritual. “Jangan sampai begitu selesai menggelar upacara (ritual) malah menanggung utang,” ujar Gubernur dalam pengarahan kepada puluhan Pemangku (pemimpin upacara di Pura) Dang Kahyangan Jagat se-Bali di Denpasar Senin (14/6).

Menurut Gubernur, upacara keagamaan yang bernuansa festival atau jor-joran bisa mencitrakan agama Hindu sebagai agama yang sulit, mahal, dan memberatkan umatnya. Padahal, hakikatnya upacara agama atau yadnya adalah salah satu wujud srada dan bakti umat Hindu kepada Sang Hyang Widhi Wasa.  “Karena itu yadnya hendaknya dilaksanakan berdasarkan tingkat kemampuan masyarakat,” papar Mangku Pastika.

Dalam masyarakat Hindu dikenal tingkatan upacara mulai dari nista (sederhana), madya, hingga utama. Jangan sampai masyarakat memaksakan diri melaksanakan yadnya di luar kemampuan hingga menyisakan utang.”

Lah? Harusnya kan pemerintah murahin biaya atau memfasilitasi dong, itu kan ritual agama. Kenapa gak bisa keluar kebijakan yang adil untuk masyarakat penganut agama Hindu. Inget loh, Bali itu asset berharga kita. Pemasukan utama Indonesia dari sektor periwisata. 76,19 persen PAD Kabupaten Badung Bali, Berasal dari sektor pariwisata. Inget juga, pada 2011 sektor pariwisata dari Bali masih menyumbang 8 miliar dolar AS buat Indonesia. Ya iyalah, 7,7 juta pengunjung, men.

Berdasarkan data kantor Bank Indonesia Denpasar, menjelaskan peningkatan kinerja roda perekonomian Bali utamanya dipicu oleh industri pariwisata mendorong perekonomian Bali tumbuh positif dengan angka pertumbuhan pada triwulan II/2011 sebesar 6,42%.

Angka 6,42% tersebut, tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 6,01% (year on year). Pada sisi penawaran, sektor pariwisata memberikan andil terbesar yang utamanya didorong oleh meningkatnya aktivitas perdagangan dan industri pariwisata.

Bahkan nih ya, Visa kunjungan (Visa On Arrival/VOA) dari turis asing yang datang ke Bali selama Juni 2011 terhimpun sebesar 4,7 juta dolar AS. Angka penerimaan itu tertinggi loh, selama tahun ini. Besarnya penerimaan itu menyebabkan pemasukan negara dari salah satu sektor pariwisata mencapai 25,6 juta dolar AS selama Januari-Juni 2011.

Dalam laporan statistik ekonomi keuangan daerah Provinsi Bali disebutkan bahwa penerimaan dari orang asing yang berpelesiran itu bertambah banyak sesuai pertumbuhan kedatangan masyarakat internasional ke Bali. Penerimaan VOA kali ini dibayarkan oleh sekitar 1.027.636 orang yang memenuhi kewajibannya saat menginjakkan kakinya di Bali sebab tidak semua wisatawan mancanegara yang datang ke daerah ini membayar VOA. Sebagaimana di laporankan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali menyebutkan bahwa wisatawan mancanegara yang datang langsung dari negerinya ke Pulau Dewata itu, baik melalui darat maupun laut sebanyak 1.271.470 orang.

Turis asing yang ke Bali membayar VOA rata-rata 25 dolar AS sekali kunjungan. Selama Mei 2011 tercatat sebanyak 170.750 orang dari sekitar 204.489 orang masyarakat internasional yang berlibur selama periode tersebut. Jumlah kunjungan turis asing ke Bali saat ini masih cukup stabil. Bahkan, mengalami kenaikan yang cukup berarti selama bulan Juni 2011 tercatat 240.154 orang karena selama bulan itu ada kegiatan seni budaya tahunan di Bali.

See? Kebudayaan masyarakat Bali yang ‘mahal’ itu ternyata juga magnet buat pendapatan negara. So, bukannya harusnya pemerintah ngedukung yah? Jangan Cuma mau untungnya doang….Lagian Si Beli tu cerita, dia Cuma ikut serta yang wajib2 saja, sudah berat biayanya. Itu bukan yang ritual mewah-mewah. “Gak semua saya kerjakan, itu aja sudah berat,” kata dia. Harusnya ada penyelesaian buat hal-hal semacam ini. Apalagi mengingat bahwa “mengeluh” adalah sesuatu yang “diharamkan” bagi masyarakat Hindu. Bagus memang. Tapi kan jadinya kasian…

Itu dia alasan kenapa di Bali gak ada barang murah. Itu juga alasan kenapa disana, jualan mahal, travel mahal, tapi orangnya begitu2 aja. “Paling enak memang orang agama lain hidup di Bali, bisa naikin harga sampe tinggi, tapi gak perlu keluar biaya sebanyak orang Hindu,” kata Beli Sena. Ah, itu becandaan yang getir loh…

Mau tau becandaan dia yang lebih getir?

Dia bilang..”Jadi orang Bali memang harus kaya, agama kita biayanya mahal…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s