Green ‘expensive’ Lifestyle

Gallery

Wawww…awalnya saya kagum banget denger ada pameran sepeda yang namanya Inabicycle 2011 di JCC, akhir Mei kemarin. Yang kebayang di kepala adalah, lokasi pameran yang padat dengan sepeda beraneka bentuk, dan kena diskon besaaaar!!!

Ternyata, Cuma sekumpulan sepeda type baru, dengan beraneka bentuk, warna dan –tentunya- harga. Hmm..poin terakhir itu, adalah penekanan utama saya. Karena, biarpun namanya pameran, harganya tetap gak jadi murah. Eh, mungkin diskon juga sih, tapi saya aja kali yang belom biasa mendengar sebuah sepeda dengan kisaran harga 3-104 juta. Ehem,…

Buat saya, yang terakhir kali main sepeda dengan merek federal dan harganya selalu dibawah sejuta, dengan hitungan inflasi yang gak keruan plus biaya impor yang tinggi dll, sepeda seharga 1-3 juta masih okelah buat dibeli. Tapi diatas harga itu, kayanya udah keterlaluan deh, di mata saya. Padahal, idealnya, menggunakan sepeda, merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan kan? Mengurangi emisi gas buang dari kendaraan bermotor, yang ujungnya berdampak baik buat kesehatan badan karena berolahraga, dan menghirup udara yang lebih baik, kalo makin banyak orang menggunakan sepeda.

Kenyataannya? Its just a matter of trend.

Green lifestyle sebagai trend, adalah industri. Dan yang namanya industri adalah produksi barang secara massal, sesuai permintaan yang melonjak, dan harga bisa melambung setinggi2nya. Gak cuma pada sepeda, tapi juga berlaku ke hal2 lainnya yang mengumandangkan gaya hidup peduli lingkungan. Ya memang sih, buat bikin kendaraan ramah lingkungan macam prius, atau hunian asri yang berkonsep green living, pasti menimbulkan peningkatan biaya. Untuk produksi dan fasilitas yang lebih, ketimbang kendaraan atau hunian yang ga peduli lingkungan. Meskipun saya juga gak bisa ngebahas detail, karena gak ngerti2 banget.

Tapi, rasanya, orang jadi males buat beli sepeda yang harganya 11-12 sama motor. Atau beli tisu recycled yang harganya jauh diatas tisu biasa. Atau bawa kantong sendiri buat ngurangin plastik, while harga nya juga jadi mahal. Padahal, seharusnya, green lifestyle, justru bisa mengiming2i orang dengan harga yang lebih murah ketimbang gaya hidup sekarang yang semakin gak peduli lingkungan.

Sedih kan rasanya, tiap kali musim mangga, sejak panas-hujan gak jelas, efek dari perubahan iklim ini, saya belom pernah lagi ngerasain mangga harum manis yang manis beneran. Bahkan, rambutan dan mangga gedong pun jadi sulit berbuah. Sedih juga kan rasanya, menerima kenyataan bahwa sekarang, jam 8 pagi aja matahari udah terik, udara udah kotor, suasana udah terlampau crowded.

Memang ada yang harus dilakukan oleh kita. Membatasi penggunaan kendaraan bermotor, membatasi penggunaan plastik, mengurangi penggunaan energi yang tidak terbarukan, mengurangi penggunaan kertas demi menjaga keberlangsungan pepohonan. Tapi, semua itu, sekali lagi, gak dapet dukungan apapun dari para pengambil kebijakan. Gak ada dukungan supaya amsyarakat lebih aware akan hal2 tersebut.

Misalnya dengan memberikan kebijakan perekonomian yang stabil, subsidi buat perumahan-kendaraan-atau apapun yang berkonsep peduli lingkungan, atau minimal sosialisasi dari yang paling kecil: buang sampah di tempatnya, dan memisahkan sampah.

Jadi bagaimana orang mau peduli, kalo semua harganya lebih mahal?

Geregetan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s