Jam Terbang Santana di Java Jazz 2011

Gallery

Maret lalu, saya hadir di Jakarta International Java Jazz 2011. Kali ini, niat beli tiket special performance. Karena, yang main adalah Carlos Augusto Alves Santana. Saya, cukup kenal lagu-lagu dia, tapi suami saya, si Poento, seringkali terpukau mendengar Santana mencumbu gitarnya. Jadi, kali ini, giliran saya buat traktir pangeran tampan itu untuk menjadi salah seorang penonton dari pria yang nampaknya diciptakan Tuhan untuk mencumbu gitar ini.

Tapi sebelum saya masuk ke area Pekan Raya Jakarta tempat dihelatnya java jazz, perjuangan saya cukup panjang untuk mendapatkan tiket santana. Awalnya, saya tanya ibu dibjo harga tiket santana. Dijawab: santananya Rp 570 ribu. Tiket daily pass nya hampir 300ribu (saya lupa persisnya). Meh. Mahal amat. Hehehe..akhirnya saya tanya adek saya yang mahasiswi UI itu. Dia cerita kalo ada temennya yang jual tiket santana Rp 355 ribu, untuk penampilan hari Jumat. Gak pake lama, saya pesan sama temannya yang mahasiswa itu. – ini poin penting, karena di kaskus, gak ada juga yang jualan semurah itu- . sementara daily pass, hehe, dapet gratisan dari seorang teman. Lumayan ya ngiritnya? Tapi dong, yang bikin kaget, ada manusia yang rela beli tiket di tempat, atau pesen H-3, Rp 750 ribu buat Santana hari jumat, dan Rp 1 juta untuk Santana hari Sabtu. Dengan daily pass Rp 460 ribu. *tepoktangan*

Saya memilih hari jumat, meskipun itu konsekuensinya adalah harus ngebut dan datang malam karena pulang kerja, sebab saya suka artis-artis yang perform di hari itu. Ada Fourplay, Corrine Bailey Rae, Tompi, Suddenly September, Endah n Rhessa, dan The Groove. Selain itu, dengan datang malam, otomatis gak terlalu capek karena Cuma sebentar ada di area konser. Terakhir, konser, sudah seharusnya tidak memakan waktu libur saya yang harus dipake untuk leyeh-leyeh di kasur seharian. Semesta seperti bersatu untuk mewujudkan keinginan saya dengan meletakkan artis2 itu di hari Jumat. Puji syukur buat Tuhan yang baik. Hehehe..

Akhirnya, hari jumat itu, saya dan si rekan konser setia hadir di kemayoran persis jam 8 malam. Santana manggung jam 9 malam. Intip2 panggung lain sebentar, tapi apa daya, kami, dua orang buruh ini kelaparan berat. Akhirnya, meleburlah kami di lautan manusia pemakan segala. Stand-stand makanan ini gak jauh beda adanya dengan java jazz 2010, maupun java rockingland. Akhirnya saya memilih sate padang, yang harganya Rp 30 ribu seporsi. Mahal bener, untung enak.

Ada kejadian lucu waktu saya pesan sate. Sambil nunggu si pesanan datang, ada dua cewek ABG berdiri di samping saya. Mereka bisik-bisik. A: Gue laper banget. B: Iya, tapi tadi gue nanya, masak sate padangnya aja harganya 30 ribu. A: (Buka dompet) yaudah kita beli sate padangnya seporsi, trus minum 1 botol aqua aja gmn? B: Yakin lo? A: Iya, abis gimana?
Hehehe,,,saya senyum-senyum. Padahal baru aja saya bilang ke poento: “Anak ABG sekarang perasaan makin hari makin tajir aja. Semuanya bawa BB, tasnya, bajunya, sepatunya mahal-mahal. Trus dateng ke acara konser yang mahal juga, mana taun ini sering banget lagi. Perasaan dulu jaman SMA, kalo mau nonton konser, gue dtgnya ke Pensi mulu, tiketnya kan paling mahal 20 ribu.” Hehehe..

Well, setelah makan, pas jam 9, kita siap melompat ke arena Bang Carlos di hall D2 AXIS Hall. Sambil ngantri masuk, saya merasa ada yang engga berubah dari Java Jazz tahun ke tahun. Pemberitahuan untuk apapun seringkali dadakan. Misalnya: Dilarang membawa botol minuman, baru diberitahukan di depan pintu hall. Alhasil, berceceran lah itu botol yang kosong maupun sudah penuh di depan hall. Jorok banget keliatannya. Belom lagi kerusuhan di pintu masuk dan keluar, karena petugas nya gak ada.

Setelah sampai di dalem hall, di sekeliling saya kebanyakan terdiri dari orang-orang yang usianya sudah diatas 40 tahun. Bawa anak, bawa keluarga. Konser ini minus ABG. Jarang. Anak muda yang hadir, keliatannya usianya sudah 25 tahun ke atas semua, kecuali yang ngintil sama emak bapaknya. Di dalem, saya juga liat ibu hamil dan suaminya. Hal yang membuat saya sadar bahwa ini sama sekali bukan konser metal. Hahaha…lalu, persis seperti konser-konser besar lainnya dan acara kepresidenan, lagu Indonesia raya dimainkan dan wajib dinyanyikan bersama-sama. Tapi di konser, reaksi yang keluar selalu beda dengan reaksi yang keluar dari wartawan kalo acara kepresidenan.

Biasanya, kita, wartawan istana, gak pernah mau disuruh berdiri saat presiden datang. Kita, baru mau berdiri saat lagu kebangsaan dinyanyikan, karena kita menghargai, menghormati bangsa, bukan presidennya. Di konser enggak, sebelum lagu Indonesia Raya dinyanyikan, sudah ada celaan keluar dari mulut MC. Belum lagi para penonton yang menyanyikannya dengan suara hina dina. Hehehe,,,,

Penampilan Santana akhirnya dimulai! Ia mengawali konsernya dengan mengisi background dengan nuansa etnik Indonesia dan Afrika. Sampe-sampe rasanya macam masuk ke wahana Rama-Shinta di Dufan jaman dulu. Ada slide wayang, candi, peta Indonesia klasik yang warnanya coklat, sampe patung-patung plus artefak. Akhirnya, teriakan dua pemain saxophone yang mengawali konser, dilengkapi dengan lengkingan gitar Carlos, yang memang ringan tangan dalam memainkan nada-nada tinggi. Penonton bersorak. Entah karena merasa permainan gitarnya keren, atau karena kangen,atau karena merasa amaze karena melihat si legenda bermain di depan matanya. Dengan topi mancing warna putih dan baju ber hoody, Santana, menggebrak panggung ditemani seorang drummer, Dennis Chambers, dua pemain perkusi yang salah satunya Paul Rekow, orang yang udah main sama Santana dari 1976, satu pemain gitar, satu bassist yang masih muda dan ganteng, Benny Rietveld, pemain keyboard, David K Matthews dan piano serta saxophone plus dua orang vocalist Tony Lindsay dan Andy Vargas, mereka memanaskan D2 dengan nuansa aransemen latin.

Sebelom memainkan lagu kedua, Santana, dengan gaya khas konsernya mengecup dan mengelus-elus gitarnya. Black magic women, dimainkan sebagai lagu kedua. Ini lagu kesukaan adik saya, yang skill permainan gitarnya, tipis-tipis lah sama santana *eh hehehe. Di lagu lawas ini, Santana juga sempat meminta penonton supaya leibih teriak, dan disambut dengan lengkingan panas dari mulut suami saya. Heddeh…

Setelah lagu ketiga, Virtuoso Gitar kelahiran 20 Juli 1947 itu menyapa penonton. Dia bilang: “Thank u for your heart, thank you for being here with us. It’s deeply to make u happy baby, expessially for the ladies. When the women are happy, everything’s happy,” kata dia. Setelah itu, dua orang vokalisnya bawain lagu maria maria. Di lagu ini, improvisasi mulai terasa dibanding lagu yang ada di albumnya. Ada gubahan baru di drum plus perkusi plus ditambah saxophone yang bikin lagu latin ini jadi sangat jazzy. Improvisasi teraduhai ada di lagu berikutnya, Foo Foo. Di lagu ini, musiknya terasa sangat kaya, dan banyak nada yang gak bisa ketebak munculnya. Boro-boro nada meleset.

Setelah itu, lagu yang dimainkan Carlos adalah lagu yang berhasil membuat emak-emak berubah jadi liar. Mungkin teringat masa mudanya di era woodstock taun 60-70an. Corazon espinado. Saya, dari ikut menikmati lagu, ngakak liat emak-emak goyang samba, sampe ngeri sendiri. Hehehe..tapi saya suka, apalagi saat ditengah lagu, ni corazon mendadak berubah jadi reggea. Habis itu, saya juga dibuat heran dan ngangguk-ngangguk, karena seluruh anggota band ninggalin si drummer, dengan Zidjian set nya, main solo sendirian, hampir 10 menit. Sampe tolol dia ngegebuk, nginjek dan nendang set nya. Ini oke…

Suasana baru dateng lagi di lagu Jingo. Setelah membuat emak-emak mendadak striptease, kemudian membuat drummernya mau mampus, konser gila ini menghadirkan suasana bakar annak macan ke panggung. Dinginnya AC mendadak tidak terasa, dan berganti dengan api unggun babi guling di Afrika.

Setelah itu, haha, bapak-bapak tua ini mulai dengan ceramahnya. Semua suasana etnik fantastik tadi langsung beeubah ke seminar MLM atau acara seminar mario teguh dan semacamnya. Karena Carlos tiba-tiba berhenti main gitar dan bicara. “We want to touch your heart, remind u gently, u’re significant, meaningful, create miracles, making difference, b’coz u’re made with 2 things: LIGHT and LOVE. Everybody here in Jakarta, I invite u, take sometime everyday to visit ur LIGHT and your LOVE, and let feeling of u and your family with this beautiful city.” WTF? Hahaha…

Selanjutnya, Dia duduk ambil posisi di pojok kanan, dan mulai mainin lagu selanjutnya: europa. Yang bener2 sukses membawa gue ke alam budak negro. Karena dia maininnya sambil terus nunduk, suasana sendu, dan mellow tanpa perkusi. Sampe akhirnya masuklah full band. Barulah suasana apartheid ga terlalu terasa lagi. Disini gue sadar bahwa saat Sanatana main musik, sepertinya nada yg keluar dr gitarnya itu adalah nafasnya. Tiap kali suaranya lirih, ia mendongakkan kepala seolah2 mencari udara. Tiap bunyinya riang, ia tersenyum. Setiap bunyinya mendayu, dia memandang lurus, breathe normally. Mungkin, ini yang disebut, jam terbang tinggi. Ya gak heran juga, 10 grammy awards, 3 latin grammy awards, rasanya gak main-main.

Di lagu selanjutnya, batuka. Rasanya kaya ada pertempuran perkusi vs gitar. Gak ada bunyi yang gak kedengeran. It was catchy, though. Tiba2 dari musik latin, dia langsung putar haluan grip nya ke rock. Dan balik lagi ke latin lewat saxophone. Dilanjut rock and roll sunshine of ur love. Sayang, suara vokalisnya yang tatoo-an ini gak nyampe. Jadi lagunya ga maksimal. Yak dan ternyata ini jadi semacam openingnya lagu yang dihapal semua orang: SMOOTH. Sayang, skali lagi, si vokalisnya ga bs kaya rob thomas. Jadi suaranya ga dapet. Tapi disini soundnya agak mendem. Padahal dia mainin swingnya baguuuuus bgt. Nampaknya macam dihantam suara drum. Etapi ya, disini mereka mainin smooth jadi latin banget. Yang gue rasa, kalo Venna Melinda denger, dia pasti gak tahan dan langsung lari kepanggung buat goyang. Hahahaha…

Konser ini memuaskan. Permainannya, suasana yang dibawa, dan durasi. Bayangin, di jadwal, seharusnya santana selesai jam 22.15, kenyataannya doi selesai jam 22.45, belom ditambah encore. Dan dia beneran ngasih encore setelah semua orang teriak. Yang dimainin : Soul sacrifice. Sehabis itu, Tiba2 dia bkn suasana mencekam, gambar burung merparti jadi background, suasana kaya gereja italia, gelaaaaaaapp. Ok, in to the night. Ditambah lagi, love peace and happiness yang digabung sama freedom. Encore macam apa ini seperempat konser. Hahahaha…

It wrapped at 11 pm. And it was Awesome! The hell lah bahwa santana kini dibilang sudah kehilangan greget, proses pencariannya sudah selesai, eksplorasi permainan gitarnya sudah rampung, konser ini tetap asik. Buat saya yang awam, anak muda bau kencur, konser ini menyenangkan. Musiknya rapi, aliran nadanya masih susah ketebak. Liukkan nada tinggi dan melengking itu, buat saya, tetap layak dibayar. Yah, atleast, sebelum si legend yang baru aja menikah lagi itu mati, saya udah sempat liat konsernya yang full improv itu.

Selesai santana, Poento sebenarnya ajak saya duduk aja di D2 dan nunggu artiis selanjutnya yakni si bintang muda kulit hitam yang manis dan punya suara ciamik itu: Corrine Bailey Rae. Tapi saya emoh, saya haus. Dan saya pengen lihat fourplay. Di java jazz sebelumnya, saat fourplay sempat dateng, saya yang ga sempat nonton. Akkhirnya kita melesat dan cari minum, duduk sebentar, kemudian berdiri lagi dan masuk ke A3 BNI hall. Saat berdiri lagi itulah, kita sadar bahwa sebenernya sudah lelah. Tapi semangat muda para ABG yang baru usai menyaksikan sondre lerche, ikut membangkitkan semangat kita. Cieee…akhirnya duduklah menunggu fourplay.

Saat dimulai, Band yang terdiri dari 4 orang yang udah tua2 ini sebenernya masih memukau. Apalagi waktu si bassist, Nathan East mulai bersiul mengikuti alunan nada yang keluar dari keyboard yang dimainin Bob James. Itu kocak dan gokil. Semakin tinggi nadanya, semakin susah Nathan bersiul. Tapi itu performance yang cukup menghibur di jelang midnite itu. Sayangnya, di stage A3 yang luas ini, ada 2 buah panggung. Untuk fourplay, hanya 1 panggung di pojok kanan yang dipakai. Jadi ruangan semacam dibelah dua. Alhasil, banyak dari kita yang nontonnya miring-miring. Aneh, dan gak nyaman.

Akhirnya, saya dan poento Cuma bertahan 45 menit didalam, terus cabut. Tadinya masih mau intip-intip yang lain, tapi apa daya, kaki tak sampai. Capek, maksudnya! Hahaha…maklum body mulai jompo. Akhirnya kita memutuskan untuk balik lagi ke hall D dan ntn corinne. Malam itu dia tampil dengan terusan halter neck, celana, dan rambutnya yg keriting dibiarin megar gt aja. Cantik. Krn udh separo, lagu awal yang kami denger adalah is this love nya bob marley. Dia nyanyiin dengan enak bgt, dan berubah dari reggea ke jazz, acid. Smooth banget.

Cewek yang lahir taun 1979 ini, gak keliatan kaya udah 5 taun diatas gue. Dia keliatan macam 5 taun dibawah gue. Soalnya, dia itu ekspresif banget, dan suaranya yang juga kedengeran lembut banget. Apalagi ditambah sebagian besar penontonnya yang masih ABG. Lengkaplah, saya merasa kembali lagi ke jaman SMA-Kuliah. Sayangnya, meski berada di ruangan yang sama dengan Santana, sound untuk corinne gak bagus. Karena beberapa kali, suaranya yang mendayu itu terpendam jeritan alat-alat musiknya. Jadi, saat full band main, kita gak bisa dengar jelas suaranya. Entah masalah ada di band yang tidak bisa menyesuaikan dengan suara soft corinne atau memang sound nya aja.

Saya gak lama duduk di belakang ruangan besar itu. Cuma 6-7 lagu. Tapi sumpah, Corinne, adalah penutup konser yang tepat sebelum pulang dan merebahkan kepala di kasur empuk. God gave u such a gift, lady. It was a nice moment. Thank u java jazz 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s