Cinta Itu Buta, Billy Corgan

Gallery

Love is blind, and it will take over your mind….(eve-love is blind)

Cinta itu buta. Begitu katanya, dan –kadang- saya  juga mengakui. Seringkali karena cinta, manusia jadi gak bisa berpikir logis.Saya rasakan itu jumat malam, kemarin. Saat, akhirnya, saya mendengar lagu today, bukan dari CD, bukan dari iPod, bukan dari iTunes, tapi dari mulut Billy Corgan sendiri. Hanya berjarak sekitar 20 meter dari idung saya…

Rasanya jantung saya mau copot dan mata saya berkaca-kaca. Sampai tak terasa bahwa saya sedang didesak-desak oleh ribuan penonton lain yang berpeluh dan menjerit, lengkap dengan baju basah kena gerimis plus sepatu penuh lumpur campur pasir. Sampai tak terasa juga bahwa saya harus berjinjit dan melompat demi tidak membuang kesempatan menatap langsung Billy dan teman-teman barunya. Yang terasa hanya senang, dan rasa gak percaya bahwa saya benar-benar dikasih kesempatan ada disana, di Java Rockin’ land 2010, menyaksikan band yang lagu-lagunya menemani saya tumbuh dari ABG sampai usia 26 tahun.

***
Saya memang masih anak kemarin sore, yang baru mulai dengerin smashing pumpkins dari sekitar tahun 1998, jaman SMP. Waktu itu, lagu hits-nya “ava adore” dari album adore yang rilis Juni 2008. Sejak saat itu, saya rajin ngikutin perkembangan terbaru soal band yang sebenernya udah ngeluarin album sejak 1988 (waktu itu umur saya sih masih 4 tahun..). Apalagi, waktu SMA, saya main sama teman-teman yang juga dengerin smashing pumpkins. Semakin-lah menggila rasa cinta saya sama suara-suara gothic yang liriknya dinyanyikan dengan suara cempreng2 basah khas Billy.

Agustus 2010, mereka main di Singfest. Dengan tiket 175 dolar Singapore yang bikin jantung saya berdetak kencang. Waktu itu saya pikir, oh My, dekat sekali mereka dengan saya disini. Kalo saya ga dateng, kapan lagi saya bisa nonton. Sayangnya, beberapa hambatan membuat saya benar-benar gak bisa dateng, dan melewatkan hari itu dengan rasa penuh penyesalan.

Gak lama, saya dengar kabar itu. Smashing Pumpkins main di Jakarta, di Java Rockin’ land, Oktober 2010. Saya lompat-lompat kegirangan. Ini benar2 hadiah. Setelah Jamiroquai, yang juga saya tunggu-tunggu sejak SMP, datang dan main di Sentul, 2009 lalu, sekarang giliran band dengan guitar-heavy sound ini yang akan menggoyang saya. Saya WAJIB nonton. Apalagi ditambah kenyataan bahwa harga tiketnya Cuma 300 ribuan.
***

Dan, begitulah, akhirnya saya berdiri berdempet diantara manusia-manusia beragam aroma, melompat dan berteriak kegirangan di main stage Java Rockin’ Land 2010, pantai Carnaval,Ancol.

Sebenarnya, konser yang udah saya nanti-nantikan sejak ABG ini gak cukup memuaskan saya. Malahan, gak cukup memuaskan juga buat penonton lainnya. Kenapa? Karena, saya ga mendengar sekalipun Billy menyapa saya eh ups maksudnya kita. Gak ada salamlekum, atau hai Jakarta, atau apalah, ngomong fuck you Indonesia juga boleh. Tapi ternyata gak ada. Dia dan teman-temannya seperti asyik dengan panggungnya, sama sekali gak komunikatif. Itu hal pertama yang terlintas di kepala saya sesudah lima lagu, tapi mereka tidak juga berhenti sekadar untuk ngajak ngobrol. Bener-bener beda dengan band yang juga main di main stage, sebelom mereka, data rock. Billy bahkan seperti gak mau ngenalin anak-anak baru di bandnya. Jadi, ibarat kopi, idealnya sebuah kopi kental biar melek semaleman itu 3 sendok kopi dua sendok gula, Billy Cuma ngasih setengah sendok gula buat konser pertamanya di Indonesia. Masih pahit..

Kepahitan itu masih ditambah dengan minus-nya 1979, zero, cherub rock, lagu-lagu yang paling ditungguin semua orang. Bahkan, dia juga gak nambahin lagu saat selesai main. Waktu bunyi raungan gitarnya berhenti,  Billy Cuma bilang “Thank You” lalu cabut dan gak balik-balik lagi. Kita, penonton setia, masih teriak “We want more” sampe tenggorokan perih,tapi ternyata yang nongol malah crew, sibuk ngangkutin alat. Panggungnya bener-bener bubaran. Nanggung senanggung nanggungnya. On time. Main dari jam 11, selesai jam 12.10. Sikap itu benar-benar perwujudan dari motto “Kerja sesuai argo”..

Terakhir, kekecewaan saya juga buat sound penyelenggara. Saya lihat, meski sambil nyempil-nyempil lewat leher orang-orang tinggi di depan saya, mereka berempat main rapi sampai ke distorsi-distorsinya. Tapi yang sampe ke telinga saya, pecah dan kadang-kadang tenggelam. Buat Sound yang menyebalkan ini, saya rasa Billy juga sempat kesel dan seolah sengaja bikin suara gitar elektriknya makin melengking dengan cara menggesekkan senar gitarnya ke speaker.

Waktu panggung gelap dan mereka gak muncul lagi, jeritan “Fuck You Billy”, dan makian-makian dalam bahasa Indonesia terus terdengar,seiring dengan bubarnya kerumunan. Semua orang meninggalkan main stage dengan wajah kecewa, bahkan banyak yang terduduk lemas sambil menyesali konser malam ini, yang nampaknya benar-benar sudah dinanti puluhan tahun. Saya sendiri, meninggalkan venue setelah sempat ngarep sekitar 15 menit-an. Juga dengan perasaan kecewa yang sama..

Namun, setelah saya menghilangkan dahaga dan perih kerongkongan akibat berteriak satu jam lebih, saya sudah bisa senyum lagi. Rasa senang yang muncul waktu lagu today dimainkan sudah kembali lagi di hati. Gimanapun, saya udah bisa lihat live-nya smashing pumpkins. Wasn’t that awesome? Meskipun smashing pumpkins yang nongol bukan Billy, D’arcy, Iha, Melvoin dan Chamberlin, yang memperkenalkan lagu today ke saya lewat kasetnya, meskipun memang ada kekecewaan, but heyy..c’mon, itu tadi smashing pumpkins man!

Byrne, drummer barunya, masih 20 tahun, tapi jam sessionnya berdua Billy lumayan apik. Bassis-nya, Nicole, saya rasa gak jauh beda sama d’arcy. Gitaris cabutannya, Jeff, juga kelihatan selalu bisa ngimbangin nada muram gothic-nya Billy yang  selalu seenak jidat. Dan Billy? Haha.. saya sampe ga bisa mingkem waktu dia mainin instrumental nya star spangled banner sendirian.

Dengan panggung yang simple, ditambahin 2 kincir angin disko, rasanya bener-bener membantu kamera pocket dengan kapasitas terbatas milik saya.  Lagipula, meskipun mereka gak mainin Zero, 1979, cherub rock, everlasting gaze atau perfect, tapi toh ada Ava adore. Lagu yang bikin saya kenal mereka. Ada juga a song for a son, love is a vampire, dan lagu kesukaan sahabat saya, niar, tonight tonight. Buat saya itu cukup-lah. Saya gak perlu encore, saya gak perlu 1979, saya benar-benar bersyukur bisa diikasih kesempatan sama Tuhan buat nyanyi bareng smashing pumpkins dan ribuan manusia lainnya, di Jakarta.

Ya begitu dia cinta. Buta. Ga punya mata. Cuma punya rasa.

Akhirnya saya pulang, tidak bawa kekecewaan sama sekali. saya pulang dengan hati senang. Meskipun gak sampe 22 tahun, tapi 12 tahun juga bukan waktu yang sebentar kan buat menunggu sesuatu? Jadi rasanya tetap senang saat yang ditunggu akhirnya datang, saat jarak yang ribuan kilometer bisa berubah jadi hanya 20 meter-an, saat suara yang biasanya didengar Cuma lewat media rekaman berganti jadi suara langsung dr speaker yang terhubung dengan mic di mulutnya, mulut seorang Billy Corgan, musisi ambisius dan persecution complex yang mampu bersaing dengan Kurt Cobain.

Sampai hari ini, setiap mengingat nyala merah dan hijau lampu main stage Java Rockin’ Land 2010, jantung saya masih berdebar kencang. Peduli setan dengan komunikatif, encore, 1979, sound, atau ganti personil,

…smashing pumpkins tetap memiliki hati saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s