Kejar Passion di Sebuah Ajang Harian…

Gallery

Saya masih ingat waktu itu saya panas2an di Banjarmasin, di sebuah sekolah dasar, demi menunggu orang nomor dua di republik ini melakukan kunjungan kerja di awal2 masa pemerintahannya.

Isinya standar. Buat jadi berita, gak cukup bermutu. Tapi ternyata cukup bermutu buat mengingatkan saya. Jadi begini ceritanya, waktu itu ada seorang anak yang bertanya-saya rasa ini juga settingan-“Pak, saya sangat mengagumi bapak dan menyukai ekonomi. Boleh bagi tips agar bisa menjadi orang hebat spt bapak? Pernah jadi menko perekonomian, gubernur BI dan sekarang jadi wapres?”

Pertanyaan biasa. Tapi saya jadi memperhatikan karena bocah perempuan itu bertanya sambil terisak-isak haru bahagia karena menatap idolanya, di hadapan kedua bola matanya sendiri, dalam jarak sentuh tak lebih dari 50 meter. Semua wartawan mulai memerhatikan situasi ini, karena menjadi menarik buat bikin tulisan ringan tentang tangisan anak manis itu. Saya juga mulai mempersiapkan handphone buat mencatat. Tapi ternyata, jawaban pak boed membuat saya berhenti mencatat. Karena terkesiap.

Mau tau dia bilang apa? Dia bilang: “Caranya hanya dengan berusaha melakukan yang terbaik. Saat kamu sekolah, menuntut ilmu, belajarlah dengan baik, dan sepenuh hati. Kerjakan semua dengan maksimal, sejauh kamu bisa berusaha. Jangan berpikir untuk mengejar sebuah jabatan, karir atau harta. Karena jabatan, atau penghargaan akan datang dengan sendirinya kalau kamu melakukan hal itu dengan sepenuh hati dan optimal,” …yah kira2 begitu. Dan saya senyum.

Kata2 itu melekat terus di kepala, begitu juga wajah sumringah pak boed saat mengatakannya.

Dan sontak berubah jadi gemuruh di dada saat nonton 3 idiots. Filem india yang saya pikir akan sangat cheesy dan Cuma filem biasa. *tipikal bocah songong*

Satu pelajaran dari situ, persis kata2 pak boed. Gelar, kaya raya, jabatan, itu bukan tujuan hidup.

……

Di filem itu, ranchodass, masuk kuliah dengan perilakunya yang nyeleneh. Dengan tingkah laku dan kata2nya, dia selalu berusaha memprotes tindakan si rector kampus yang mendoktrin mahasiswanya untuk menjalani aktivitas pendidikan hanya demi nilai bagus, agar nantinya dapat kerja di tempat bergengsi dan punya gaji besar. Seolah, Cuma itu saja tujuan hidup. Titik.

Rancho, selalu berhasil melakukan hal-hal yang mengejutkan. Apalagi, ternyata dia-lah mahasiswa paling pandai di kampus itu. Bersma dua sahabatnya, farhan dan raaju, dia maju mendobrak stigma gelar, harta, jabatan adalah satu2nya alasan seseorang sekolah sampai kasta tertinggi. Dari filem itu, banyak hal yang mengajak saya meneguhkan hati. Bahwa melakukan segala hal, memang harus dengan sepenuh hati.

Kalau sudah begitu, sudah pasti akan dilakukan dengan optimal. Bukan, bukan dengan tujuan sesimple harta, tapi untuk tujuan yang lebih bermartabat. Kuliah pontang panting, demi pendidikan. Belajar giat, karena memang ingin tahu, ingin mengerti dan ingin memberikannya lagi kepada orang2 yang belum tahu. Bekerja dengan hati, melakukan sesuatu yang memang disukai, dicintai, sepenuh jiwa, yang akhirnya bisa menghasilkan mahakarya yang berguna buat banyak orang. Meskipun gak jadi miliuner.

Apapun yang kamu suka, jadikan itu profesimu…

Do the work that you talented in..

Sufficient, then succed will come to you..

Jadi mirip ya dengan yang pak boed bilang di tengah terik lucunya matahari Kalimantan hari itu?

Mirip juga dengan buku mungil yang saya baca kemarin. Judulnya, your job is not your career, besutan rene suhardono. Buku yang menyenangkan.

…karier merupakan totalitas kehidupan professional sejak mata terbuka di pagi hari hingga kembali terlelap tidur. Tidak semata terkait dengan cara-cara memperoleh penghidupan. Karier berhubungan erat dengan passion, tujuan hidup, values dan motivasi dalam berkarya untuk  memberikan kontribusi kepada lingkungan (keluarga, perusahaan, negara, mahluk lain, dan alam semesta). Tujuan karier tidak lain adalah kebahagiaan dan ketercapaian. Dan tidak ada cara yang lebih tepat- dan nyaman (paling tidak untuk diri sendiri) apabila karier kita dikendalikan oleh passion kita. Your career is yours. Your career is you….

Gitu potongan dari buku itu yang membuat jantung saya makin terpacu.

…..

Yah, semoga aja Tuhan masih terus kasih saya kesempatan untuk menikmati karier. Bukan sekadar pekerjaan yang saya lakukan hanya demi gaji agar saya bisa makan dan beli ini itu. Menikmati passion dan suka cita setiap hari akan sebuah ajang harian, sepenuh hati, sepenuh jiwa…

Amin.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s