Cinta Tanpa Reserve…

Gallery

“Gue sih mendingan buat ngasih makan anak yatim deh…”

Saya terdiam waktu seorng teman bicara begitu, saat saya bicarakan soal manisnya kucing-kucing saya. Ada dentuman dalam dada.

Sedih.

Sekarang saya tanya,

Seberapa sering kita merasa dipercaya?

Seberapa sering kita percaya sama orang lain?

Seberapa sering kita merasa disayangi secara tulus, tanpa tendensi, tanpa ambisi, tanpa maksud lain, tanpa kepentingan, tanpa reserve? Cuma sayang,,,

Kalo saya, gak banyak. Gak sering. Bahkan sangat jarang…

…..

Dari usia yang masih sangat kecil, ibu dan ayah saya sudah ngajarin untuk menyayangi semua jenis binatang. Mereka biarin saya melihara binatang dari unggas, mamalia, ikan, apapun yang saya mau. Mungkin kalo saya punya halaman yang luas, mereka akan izinin saya melihara kuda poni…:)

Dari situ saya belajar, bahwa kasih Tuhan ada dimana-mana. Termasuk di dalam diri hewan yang sering dianggap sepele dan gak lebih dari sekadar mahluk yang hidup tanpa arti. Karena, tanpa pernah saya ajarin, peliharaan saya selalu tau kapan saya sedih, kapan saya gembira, kapan saya capek, dan kapan saya benar-benar butuh tatapan hangat. Rasanya seperti jawaban doa. Baru semenit lalu saya berdoa, minta sama Tuhan agar mudahkan perasaan sedih saya, dan ubahlah jadi tenang, tiba2 ada yang naik ke pangkuan dan menjilati tangan.

Tuhan kirimkan mereka untuk tenangkan hati saya. Temani bahagia saya. Tanpa maksud lain, tulus, ikhlas… Begitu, akhirnya saya mulai menjatuhkan pilihan pada kucing. Hewan yang senang bebersih, enak dipeluk dan seneng main. Mulai dari kucing liar yang dating sendiri kerumah, sampai kucing berbagai ras yang dengan kesadaran penuh saya beli dari breeder.

Percaya gak percaya, saya belajar bertanggung jawab, belajar untuk selalu rapi dan bersih, belajar punya rasa sayang yang tulus, belajar mengerti hidup, dari kucing-kucing saya. Mereka yang ada di masa kecil, masa remaja, sampe masa dewasa saya.

Saya juga bukan manusia yang introvert dan gak punya temen sesama manusia. Saya punya banyak teman. Banyak sahabat. Saya punya keluarga dan punya suami. Dan kucing, melengkapi semua itu. Kalau saya sakit, apa iya saya harus meminta sahabat2 dan suami saya untuk selalu ada buat saya, padahal mereka harus kerja? Atau saya harus menggelendot manja minta orangtua saya yang udah tua untuk menemani saya, si 26 tahun ini, melalui kesakitan, setiap hari? Kalau saya gak punya kucing, mungkin saya akan jadi manusia paling egois dan memaksakan itu semua.

Tapi saya punya mereka. Sebidak surga dunia saya.

Mahluk2 yang gak akan bergeser seinci pun dari samping saya, membantu melalui semua derita yang saya rasa.

Mungkin mereka ga bisa ngambilin saya makan atau minum, mungkin mereka juga ga bisa ngegotong saya ke toilet, tapi mereka bisa peluk saya. Bisa menatap saya dengan wajah manis yang hangat. Dan gak akan ninggalin saya, sampai sembuh. Sungguh.

Atau, bayangin rasanya bekerja dari pagi buta sampe tengah malem. Apa kita mau pulang ke rumah yang kosong, gak ada yang nyambut? Atau saya harus paksa suami saya, atau orangtua saya untuk tetap terjaga nunggu saya pulang dan menyambut saya sambil ngantuk2, padahal besoknya mereka harus kerja? Saya gak perlu lakuin itu, karena saat saya pulang, sudah pasti saya akan disambut mahluk-mahluk berbulu itu di pintu. Membuntuti saya sampai ke kamar, ikut naik ke kasur, dan menciumi saya. Seolah-olah saya udah meninggalkan mereka selama 5 taun.

Itu maksud saya, merasa dicintai. Setulus-tulusnya…tanpa pernah ada rasa khawatir akan diselingkuhi, diusir, dimaki, dimanfaatkan, atau ditipu.

Kasih sayang sehebat itu, datangnya dari Tuhan. Dan Cuma Tuhan yang bisa ambil semuanya..

 

….

Akhirnya saya senyum aja dan bilang “Itu gak bisa disamain, biaya yang saya keluarkan buat mereka gak banyak kok.” Toh saya gak miara kucing untuk prestise, yang diikutin kontes sebulan sekali jadi mereka harus mandi setiap hari, harus ini harus itu. Saya melihara kucing yang bisa bikin saya bahagia, dan udah jadi tugas saya juga buat bikin mereka bahagia. Untuk miara kucing bahagia, bukan dengan naro dia di kandang dan nyuapin makanannya. Tapi dengan memberikan mereka waktu main, makanan sehat, rumah yang bersih, mandi sesekali tapi gak harus tiap hari (krn mereka sebenernya ga suka mandi), dan mengizinkan mereka bergelung di kasur bareng saya dan suami saya.

Buat melakukan itu semua, saya ga perlu uang yang banyak. Bahkan gak sampe bisa ngasih makan anak yatim. Saya Cuma butuh cinta. Yang dengan kontan, langsung dibalas…tanpa reserve..

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s