panggilan mendadak Khubil, bikin saya benar-benar belajar

Gallery

(from FB’s note november 30th, 2009)

…Saya udah bilang dodon,saya ga mau masuk..
Saya ga bakal tega

Tapi ga tau kenapa,saya tiba2 merasa
“Sudah sampe sini,masa iya gak liat juga muka kubil buat trakhir kalinya?”

Akhirnya saya masuk..
Dan persis seperti yang saya kira..rasanya jadi terlalu sedih.
Iya seperti biasanya,saya emang suka telat sedihnya..
Dan sekarang,saat saya harusnya transkrip buat berita Bank Indonesia. Saya malah nangis..
Kemana aja ya yasmina?

Saya emang ga tralu dekat sama dimas ragil pamungkas,teman smp saya..
Ga sedekat sama dodon atau benjol..
Tapi cukuplah saya kenal dia.
Minggu lalu,benjol,dodon,dan status2 kabari saya ttg kecelakaan mobil dimas yang biasa dipanggil kubil ini.
Benjol yang cerita ke saya,tentang kronologis kejadian sampai kubil terbaring di sebuah rumah sakit di daerah padalarang berdua sama Bowo, yang menyupir mobilnya.

Banyak cerita, lihat foto, buat saya ingin sekali nengok. Tapi sayang, kerjaan dan urusan tetek bengek keluarha gak izinkan saya buat datang dan menempuh dua jam perjalanan ke sana. Lagipula dalam hati, saya masih yakin..”Nanti juga pas sehatan, dia bakal dirawat di jakarta,..”
Sampai doa bersama pun saya ga datang. Karena-sumpah-saya pergi ke sawangan, cikini, kuningan,dan jati padang dari pagi-malam. Baru aja sampai di rumah,geletakin pala..
Ada sms..
Inalillahi wainalillahi rajiun.. Telah berpulang kepangkuanNYA.. Teman kita tercinta dimas ragil (khubil) pada pukul 8 hr ini..
Dari dodon.

Saya diam.
What comes from God shall be back to Him..
Iya,saya yakin.
Tapi saya masih kaget.
Dodon ajak saya ikut semalam, tapi sumpah saya udah ga punya energi. Akhirnya tadi pagi, saya niatkan buat datang ke rumah dukanya, di komplek yang ga jauh dr kompleks saya.
Menunjukkan simpati saya..
Sementara berharap, siapa tahu ada doa saya yang didengar dan dikabulkan Tuhan..

Sejak pagi, yang harusnya saya liputan, saya udah disitu. Di tengah mata-mata sembab, dan linang air mata. Ada sedikit emosi,ada kelelahan,dan ada mata-mata yang menatap namun kosong rasanya. Saya lihat sahabat-sahabat saya,tersenyum, menyalami saya,tapi dengan pancaran kelelahan yang buat saya jadi larut dalam pedihnya kehilangan yang mereka rasakan.
Mungkin saya ga sedekat itu dengan khubil.
Mungkin emosi saya tak sekuat itu..namun,tetap,saya sedih.
Saya rasakan kepedihan..
Dan saya jadi sadar,umur saya, belum tentu sampai 79 tahun seperti nenek saya.

Kepergian Khubil,membuat saya menyadari bahwa makna kehilangan, bukan hanya me-legowokan hati untuk belajar menerima kepergiannya karena dipanggil sang Khalik. Tapi juga berkaca..
Melihat diri saya sendiri dan apa persiapan yang sudah saya lakukan kalau saya ada di posisi panggilan mendadak seperti itu?!
Fffuuuhh..seperti kata-kata benjol tadi pagi,”umur ga ada yang bisa nebak ya min..”
Iya jol,
Sekarang saya masih bisa santai. Berangkat kerja setiap hari,
Makan,bercanda,menghirup udara panas milik Jakarta, sampai dengan mudahnya menggeser kepala kiri dan kanan saat tidur tanpa merasa kesakitan..

Berbagai kenikmatan yang jadi terasa biasa,sampai saya lupa bersyukur..
Bersyukur bahwa Tuhan, sampai detik ini masih berikan saya kesempatan untuk berubah. Jadi lebih baik, jadi lebih baik dan jadi jauh lebih baik dari hari kemarin..
Masih ada buat saya, berbagai kesempatan, untuk mempersiapkan kematian yang bisa datang kapan saja..
Benar2 kapan saja tanpa bisa ditebak.

Melihat jasad Khubil tadi pagi yang terbaring kaku dan bersih karena sudah dimandikan, membuat saya jadi sedikit belajar..
Bahwa Tuhan mungkin merindukan dia dan memintanya segera kembali. Bahwa Tuhan mungkin meminta semua yang hadir untuk bisa jadi lebih sabar.
Bahwa Tuhan mungkin meminta saya menyaksikan kuasa Nya akan diri seorang manusia yang tak punya daya apapun untuk menentukan, kapan dia akan benar-benar “pulang”.

Sekarang, saya masih sedih.
Sedih karena teman saya berkurang satu.
Sedih karena ingat bahwa kepergian Khubil menyisakan banyak kepedihan.
Sedih karena sampai detik ini saya belum jadi orang yang lebih baik..
Bagaimanapun, setiap kejadian, kecil atau besar, adalah pembelajaran..
Kini mungkin yang bisa saya lakukan cuma mendoakan Khubil agar dimudahkan jalannya untuk berada dalam rengkuhan Sang pemilik segalanya.

Sambil juga mendoakan diri saya, agar berada dalam keadaan siap saat menerima panggilan mendadak seperti dimas ragil pamungkas..

Benar, inalillahi wa inna ‘illaihi raajiuun..segala sesuatu yang datang dari Allah,akan kembali padanya. Pasti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s