Bu Ani dan limitnya…

Gallery

(from FB’s note, December 3rd 2009)

Badan saya pegal2, hari ini capek sekali..sudah berangkat dari pagi (yang mana saya bukan org kantoran dan biasa berjibaku dengan penumpang tranjakarta lain untuk berebut agar bisa sampai kantor tepat jam 8.30) dan sibuk sikut2an dengan orang di bis..

Demi mendengar pak boed, wapres baru Indonesia pidato pembukaan konferensi KPK, lanjut ke pacific place buat dengar paparan darmin nasution si pejabat sementara gubernur BI kemudian geser lagi ke kantor pak boed buat dengar paparan darmin (lagi!) Setelah mengamprokkan dirinya dengan pak boed..setelah itu terdampar buat ketik 7 berita sampai jempol mau copot..belum lagi malam,saya harus kembali berjejal di dalam transjakarta untuk pulang ke kantor dan ketemu mas arys buat ngomongin cuti yang akan saya ambil di awal januari..

Sekarang saya di rumah, tergeletak di kasur empuk dan kamar yang nyaman.. Ooohhh.. Nikmaaattt!!

Tiba2 saya kepikiran sri mulyani indrawati, ibu2 yang jabatannya menteri keuangan republik indonesia, republik saya tercinta. Perempuan yang gayanya asik dan ga pantes disanggul itu..


Dari dua hari yang lalu, saya terdampar di lokasi liputan yang membuat saya harus dengarkan kata-katanya, dan menatap dalam kedua matanya..(Meskipun desk saya bukan ekonomi makro)

Suaranya, minggu2 ini terdengar serak. Bahkan kadang terasa bergetar (bukan vibrator yaaa..;)), dan kedua matanya pun terlihat luar biasa lelah..mungkin hampir mirip dengan kedua mata saya. Meski bedanya dengan saya masih jelas kentara..(Iyalah, gimanapun dia ga sekucel saya karena ga perlu berdesakkan di transjakarta plus make up kelas 1 nya jelas sangat membantu) tapi, rasanya, kegiatan bu ani dengan kegiatan sya gak jauh beda.pagi menclok sini, siang menclok sana, dan sampe malem masih menclak menclok..dan belakangan ini ga jauh beda dengan saya,urusin kasus century. Bedanya, banyak orang minta dia lengser, dan kalo saya, banyak redaktur minta saya nulisin itu kabar berita..

Kasus century gate itu, sukses bikin saya dan bu ani (cieh kaya temen lama) cukup tertatih-tatih. Jadi saya cukup bisa berempati dengan apa yang dia rasa..

Apalagi saat dia bicara,”Saat ini para pelaku pasar modal dan korporasi sedang menunggu dan memikirkan soal tantiem, saya juga seperti itu. Tapi kalau saya tantiemnya Hak Angket Century,” tadi pagi di pacific place. Gak ada lagi senyum pongah pemangku jabatan yang hidupnya habis buat urusi keuangan negara, seperti yg biasanya terpampang di wajahnya. Gak ada lagi suara kencang dan lugasnya, yang biasanya dia keluarkan saat menceritakan soal defisit anggaran. Mungkin gak salah-salah banget kalo dia mengibaratkan ekspresi wajahnya saat ini seperti kondisi ekonomi pada 2008 lalu yang dihantam badai krisis global. Dan maaf ya bu, saya jadi salah seorang yang turut meneliti wajah ibu..

Gak taulah siapa yang benar siapa yang salah dalam kasus ini. Saya rasa di semua kejadian dalam kehidupan, emang ga ada orang yang bener dan orang yang salah. Semua bener semua salah. Jadi saya ga punya hak sedikitpun untuk men-judge. Saya cuma kasihan. Wajar kan? Saya rasa wajar kalo saya kasihan liat mukanya. Dengar suaranya dan membayangkan rasanya jadi dia. Pasti capek luar biasa. Pasti habis-habisan. Kalo saya, kecapekan karena liputan, saya bisa bayar pake tidur malam yang nyenyak. Kalo dia, mungkin gak yah tidurnya bisa senyenyak saya, sengorok saya, dan seenak udel mau bangun jam berapa aja kaya saya? Saya yakin kamarnya pasti lebih besar dan nyaman daripada kamar saya. Saya yakin perjalanannya buat menclok sana sini juga jauh lebih nyaman daripada perjalanan saya. Tapi apa iya kehidupannya senyaman saya? Hidup saya sih nyaman. Toh saya ga pernah urusan sama duit triliunan. Saya juga juga ga pernah urusan sama bapak presiden yang terhormat. Saya cuma reporter, baru 1,5 tahun pula. Jadi saya bukan pemangku jabatan besar kaya dia. Jadi saya yakin, hidup saya nyaman.

Maaf ya bu, saya agak sombong. Hehe..tapi gimanapun, saya cukup berempati dengan yang dia rasakan. Pasti pusing. Pasti penat. Tapi mau gimana lagi..itu konsekuensi yang harus dia ambil. Karena setiap pilihan punya konsekuensi yang bs muncul kapan saja. Kalau saya sahabatnya, mungkin saya bisa meletakkan tangan saya di bahunya dan dengarkan dia bercerita tentang apa yang dia rasa. Seperti hal yang biasa saya lakukan pada sahabat-sahabat saya. Kalau saya suaminya, mungkin saya bisa peluk dia dan membiarkannya ngorok di pelukan saya. Kalau saya anggota DPR, mungkin saya bisa membiarkannya lolos dan menutup kasus ini sejak dia bilang bahwa pem bailout-an century berdampak sistemik. Kalau saya SBY, mungkin saya bisa bantu memberikan statement yang jelas to the point agar tak semua mata menyalahkannya. Kalau saya Boediono, mungkin saya akan ngajak dia nge bucks, dan ngabisin tiga gelas caramel macchiato, setidaknya biar dia ga merasa sendirian. Tapi saya bukan mereka, dan saya juga ga tau ada apa dibelakang semua ini. Dimata saya cuma satu, bener kata poe, politic’s ruins everything..

Demikianlah srimulyani indrawati. Perempuan yang selalu terlihat gagah itu kini doyong dan rapuh. Saya gak dukung dia. Saya ga dukung siapapun. Toh disini, saya cuma penonton.Sekali lagi, saya cuma kasihan..
Karena gimanapun, dia adalah manusia, perempuan, persis seperti saya..(Cuma beda nasib)..
Dan seperti kata adit, kemarin..
“Semua emang ada batasnya ya, min..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s