Yang hilang ketika kita berhenti melihat alam sebagai sesama

Akhir Agustus lalu, keluarga kami mengunjungi Phuket Elephant Sanctuary, Thailand. Tempat itu betul-betul berupaya keras menyiapkan kunjungan yang ethical, enggak ada acara kasih makan sambil foto-foto, enggak ada mandi bareng gajah, apalagi naik ke punggungnya. Gajah-gajah itu hanya… jadi diri mereka sendiri. Kami yang datang untuk melihat, bukan mereka yang dipaksa tampil.

Pekan depannya, giliran kami mengunjungi shelter hewan kesayangan kami: Animal Defenders di Sawangan. Di sana ada 250 ekor anjing rescue, bentuknya beraneka ragam, ada yang telinganya cuma sebelah, ada yang jalannya pincang, ada yang masih waspada setiap kali tangan manusia mendekat. Tapi semuanya, tanpa kecuali, manis luar biasa.

Dua tempat yang jauh berbeda. Satu di negeri orang, satu di pinggiran Jakarta. Tapi keduanya mengajarkan hal yang sama ke saya: bahwa ada cara mengenal makhluk lain tanpa harus menaklukkan mereka dulu.

“WHY, HUMAN, WHY??”

To be honest, ada momen-momen saya merasa udah enggak tahu lagi mau ngomong apa. Setiap kali melihat penyiksaan hewan, perusakan alam, atau cara kita, manusia, menganggap makhluk lain di luar diri kita cuma komoditas yang enggak punya rasa sakit, enggak punya rasa takut, dan enggak punya ingatan.

Kenapa, sih? Kenapa hal itu masih terus terjadi?

Saya enggak akan berpura-pura punya jawaban filosofis yang rapi untuk pertanyaan itu. Tapi karena saya udah terlalu capek untuk sekadar marah, saya memilih untuk mencegah, supaya enggak makin memburuk. Dan seperti biasa, dalam kerja-kerja perubahan perilaku, saya selalu mulai dengan pertanyaan: apa sih akar perilaku ini?

Gajah yang dieksploitasi dan hutan yang dibakar itu satu cerita yang sama

Butuh waktu buat saya menyadari ini, tapi begitu tersadar, saya enggak bisa lagi tidak melihatnya: cara kita memperlakukan satu ekor gajah yang dipaksa memberi tumpangan demi foto turis, dan cara kita memperlakukan ratusan ribu hektare hutan yang dibakar demi lahan sawit murah, sebetulnya lahir dari sumber yang sama.

Sumbernya adalah cara pandang bahwa alam — dalam bentuk apa pun, seekor hewan atau sebentang hutan gambut — ada di sana untuk dipakai. Untuk keuntungan kita. Untuk kesenangan kita. Bukan sebagai sesama makhluk hidup yang berbagi rumah bersama.

Tahun ini, cara pandang itu sedang membakar Indonesia. Secara harfiah.

Data dari Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 telah menembus lebih dari 202.000 hektare. Bayangin deh,  lebih dari tiga kali luas Jakarta: hangus!

Kalimantan Barat menjadi provinsi paling parah terdampak, disusul Papua Selatan, lalu merembet ke wilayah yang selama ini jarang menjadi sorotan karhutla: Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, bahkan Jawa Timur. Ini bukan lagi cerita Kalimantan dan Sumatra saja, apinya bahkan sudah menjalar ke Indonesia Timur.

Yang bikin saya makin sesak, kebakaran ini bukan semata-mata soal cuaca. Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menyebut dengan jelas: kekeringan panjang akibat El Niño memang menjadi prasyarat, tetapi pemicu utamanya adalah rentannya lahan gambut yang sudah dikeringkan bertahun-tahun oleh industri ekstraktif, ditambah praktik korporasi yang terus membuka lahan dengan membakar. 

Estimasi kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla tahun ini diperkirakan mencapai Rp123,1 triliun, dan itu proyeksi yang menurut mereka sendiri masih bisa membengkak, karena datanya baru sampai Agustus, sementara musim kemarau belum juga usai.

Dari sisi kesehatan, lebih menyayat lagi: hingga 17,4 juta orang berpotensi terpapar gejala ISPA akibat asap karhutla tahun ini, dengan estimasi biaya kesehatan setara dengan 67,6% dari total anggaran fungsi kesehatan APBN 2026. Nah, sekarang, bayangin dulu, berapa banyak dari 17,4 juta itu adalah anak-anak yang paru-parunya masih berkembang, yang enggak punya pilihan selain menghirup udara yang sama dengan yang kita hirup.

Elephant sanctuary di Phuket dan shelter anjing di Sawangan itu tempat-tempat kecil, sengaja dibangun untuk memperbaiki hubungan yang rusak antara manusia dan makhluk lain, satu per satu, satu ekor demi satu ekor.

Sementara di sisi lain, ratusan ribu hektare rumah bagi entah berapa juta makhluk hidup — orangutan, harimau Sumatra, burung enggang, dan jutaan spesies yang bahkan belum sempat kita beri nama — dibakar dalam hitungan bulan, demi keuntungan yang bahkan enggak dinikmati oleh mereka yang paling menanggung akibatnya.

Dua skala yang jauh berbeda. Tapi akarnya sama persis: kita lupa bahwa kita bukan entitas terpisah dari alam raya ini. Kita itu satu tubuh dengannya.

Maka saya mulai dari rumah saya sendiri

Saya bukan orang yang percaya perubahan besar dimulai dari kebijakan yang turun dari atas. Saya percaya perubahan perilaku dimulai dari lingkaran terdekat, keluarga, dan orang-orang yang kita cintai, lalu pelan-pelan menyebar.

Jadi ini yang saya coba lakukan, dan mungkin bisa jadi ajakan juga buat keluarga lain:

Berhenti menormalisasi rekreasi alam yang enggak etis. Ini titik awalnya. Bukan soal menyalahkan siapa pun yang pernah naik gajah atau berfoto dengan harimau di tempat wisata, saya sendiri dulu enggak paham. Tapi begitu tahu, kita punya pilihan untuk enggak mengulanginya.

Menyelam di laut lepas ketimbang datang ke akuarium. Bertemu makhluk laut di rumah aslinya, bukan di dalam kotak kaca yang dibuat demi kenyamanan mata manusia.

Memilih lokasi rekreasi yang ramah anak, tapi enggak mengeksploitasi hewan dan tumbuhan. Anak-anak tetap bisa mendapat pengalaman seru dan edukatif tanpa harus ada makhluk lain yang menderita demi hal itu.

Menikmati alam apa adanya — menghirup oksigen segar, duduk di bawah pohon, berjalan di jalur trekking, tanpa harus “memiliki” pengalaman itu melalui interaksi paksa dengan satwa liar.

Atau, mengunjungi tempat-tempat perlindungan, tempatnya korban trauma, entah itu gajah bekas sirkus atau anjing bekas jalanan, mendapat kesempatan kedua. Di sana, kita enggak datang untuk dihibur. Kita datang untuk belajar rendah hati.

Karena dengan mengenal, betul-betul mengenal, kita jadi paham bahwa manusia bukan sekadar entitas yang berdiri sendiri di atas rantai makanan. Kita ini satu tubuh dengan alam raya, lho. Harapannya, ketika kita semua paham, maka kita jatuh cinta. Lalu dari cinta itu, kita memberi yang terbaik dengan sepenuh hati dan jiwa, menjaga, dan mengajak orang lain untuk ikut menjaga.

Kita yang paling butuh mereka, bukan sebaliknya

Kalau enggak sempat, atau belum punya budget, untuk ketemu langsung dengan satwa liar atau berkunjung ke sanctuary, enggak apa-apa. Nonton dokumenter di rumah pun sudah cukup baik, jauh lebih baik ketimbang ikut serta dalam rekreasi yang sebetulnya menyiksa makhluk lain demi hiburan sesaat.

Ribet? Iya, saya akui. Tapi bagi saya, hidup berdasarkan prinsip kebenaran dan keadilan itu jauh lebih penting ketimbang memaksa makhluk lain hidup menderita demi kesenangan makhluk lainnya.

Manusia itu, sesungguhnya, makhluk yang lemah. Kita enggak bisa hidup tanpa tanaman dan hewan, tanpa hutan yang menyerap karbon dan menyimpan air, tanpa lautan yang menghasilkan sebagian besar oksigen yang kita hirup, tanpa satwa yang menjaga rantai ekosistem tetap seimbang. Sementara alam raya ini, sebetulnya bisa terus hidup tanpa kita.

Karhutla tahun ini seharusnya jadi pengingat paling keras tentang itu. Bukan cuma soal gajah yang kehilangan rumah, atau orangutan yang terjebak di tengah asap. Tapi juga soal anak-anak kita sendiri, yang sekolahnya diliburkan karena kualitas udara memburuk, yang batuk-batuk berminggu-minggu, yang tumbuh dengan langit yang seharusnya biru tapi kelabu oleh asap.

Kita yang paling butuh mereka. Bukan sebaliknya.

Jadi mari kita mulai, dari cara kita berekreasi, dari cara kita mendidik anak-anak untuk mengenal alam, dari cara kita memilih ke mana uang liburan kita mengalir. Hal-hal kecil ini enggak akan langsung memadamkan api di Kalimantan. Tapi bisa memadamkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara pandang yang membuat api-api itu terus menyala, tahun demi tahun, sejak lama sebelum kita lahir, dan mungkin akan terus menyala kalau enggak ada yang mau berhenti dan bertanya, “Kenapa kita masih memperlakukan alam seperti ini?”

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>