Refleksi 81 tahun, tentang kompetisi, gotong royong, dan pertanyaan yang selalu saya bawa setiap 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia)
English version is here
Saya (nyaris) enggak pernah menikmati kompetisi.
Bukan karena takut kalah atau karena saya enggak suka tantangan. Tapi karena sejak dulu, saya lebih percaya pada kolaborasi ketimbang persaingan: bahwa setiap orang membawa kompetensi yang berbeda, yang jauh lebih berarti ketika dipertemukan, bukan diadu.
Jadi setiap 17 Agustus datang, saya selalu menghadapi pertanyaan yang sama, yang enggak pernah benar-benar selesai kujawab: kenapa kita merayakan kemerdekaan dengan lomba?
Bendera Merah Putih dipasang di mana-mana. Satu hari, kadang beberapa hari, diisi dengan balap karung, panjat pinang, dan gegap gempita masyarakat yang saling berlomba. Semua itu meriah, tapi semakin lama saya bekerja di persimpangan antara keluarga, pendidikan anak usia dini, dan isu iklim, semakin saya mempertanyakan satu hal: kenapa momen paling sakral bangsa ini — hari kita berhenti dijajah — kita rayakan dengan bentuk yang justru meniru logika penjajahan itu sendiri? Menang-kalah, rebutan, dan yang kuat naik duluan.

Kemerdekaan Bukan Garis Finis
Dalam banyak wacana global, “kemerdekaan” sering dipakai sebagai pencapaian individu, sesuatu yang diraih, lalu digenggam sendiri. Sebuah garis finis yang dilewati sekali oleh satu generasi, demi kepentingan semua orang yang datang setelahnya.
Tapi rasanya makna merdeka enggak sesederhana itu.
Kemerdekaan Indonesia enggak pernah jadi kemenangan yang semata-mata milik satu generasi untuk digenggam. Ia diwariskan, bukan dimiliki. Dijaga dalam bentuk kerja sama, bukan lomba. Artinya, setiap generasi sejak 1945 sebenarnya harus terus-menerus mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang diajukan generasi pertama: merdeka dari apa dan merdeka untuk apa?
Dulu, jawabannya jelas: merdeka dari penjajah yang merampas hak dan harta kita. Tapi sekarang? Kenapa kita masih sibuk bersaing satu sama lain? Melawan siapa sebenarnya? Saudara sendiri? Itu kemenangan atau justru kekalahan yang kita rayakan tanpa disadari?
Ternyata, ini bukan cuma perasaan saya sendiri
Selama bertahun-tahun saya menyimpan resah ini sebagai semacam ketidaknyamanan pribadi. Mungkin saya yang terlalu sensitif soal kompetisi. Tapi ternyata, semakin saya menelusuri, semakin saya sadar bahwa keresahan ini punya dasar yang jauh lebih besar daripada sekadar preferensi pribadi.
Maria Montessori, lebih dari satu abad lalu, sudah sampai pada kesimpulan yang serupa lewat jalan yang sama sekali berbeda, melalui pengamatannya terhadap anak-anak. Ia hidup di masa Eropa terpecah oleh nasionalisme dan perebutan kekuasaan, dan justru dari situ ia menyimpulkan bahwa perdamaian yang bertahan lama tidak pernah lahir dari perjanjian politik.
Perdamaian itu dipelajari sejak dini, lewat kebiasaan kecil sehari-hari, seperti anak yang menunggu giliran, anak yang membantu temannya membawa nampan, atau dua anak yang berselisih dan dituntun menyelesaikannya lewat percakapan, bukan lewat siapa yang lebih kuat. Bagi Montessori, ruang kelas adalah masyarakat mini, tempat anak-anak berlatih hidup bersama, jauh sebelum mereka menjadi orang dewasa yang menentukan arah dunia.
Kalau konsep itu benar untuk anak-anak, kenapa kita, sebagai orang dewasa, malah membiasakan diri kembali pada pola kompetisi, bahkan di hari yang seharusnya merayakan persatuan?
Riset di dunia kerja juga menunjukkan pola yang sama. Ruchika Malhotra, dalam bukunya tentang uncompete, menyebut bahwa budaya kompetisi memang bisa mendorong performa dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang justru menguras energi: memicu kelelahan, ketidakpercayaan, dan keretakan hubungan antarindividu.
Sebaliknya, lingkungan yang dibangun di atas kolaborasi, rasa saling percaya, dan keberlimpahan (bukan kelangkaan yang diperebutkan) justru menghasilkan performa yang bertahan lebih lama, karena orang-orang di dalamnya merasa didukung, bukan diawasi untuk dikalahkan.
Bahkan dunia bisnis global, yang selama ini identik dengan “menang atau mati,” sedang bergerak ke arah yang sama. Riset dari World Economic Forum mencatat bahwa hampir separuh perusahaan besar di dunia diperkirakan akan hilang dalam satu dekade ke depan, dan yang bertahan bukan yang paling kompetitif sendirian, melainkan yang paling piawai membangun ekosistem kerja sama lintas organisasi. Dua kompetitor sekelas Mercedes-Benz dan BMW memilih menggabungkan layanan mereka ketimbang saling menjatuhkan, dan hasilnya, kue yang lebih besar untuk semua pihak, bukan potongan yang makin kecil karena diperebutkan.
Tiga dunia yang sama sekali berbeda—pendidikan anak usia dini, psikologi tempat kerja, dan strategi bisnis global—sampai pada kesimpulan yang sama: kompetisi adalah solusi jangka pendek. Kolaborasi adalah strategi jangka panjang.
Gotong Royong, yang Sudah Kita Punya Sejak Awal
Tentu, yang menarik, semua riset global ini sebenarnya sedang menemukan kembali sesuatu yang sudah lama menjadi nilai inti bangsa kita: gotong royong.
Gotong royong menawarkan sudut pandang yang sama sekali berbeda dari sekadar pemindahan tanggung jawab dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagai tindakan bersama yang berkelanjutan, bukan sesuatu yang diwariskan lalu dipandang dengan rasa enggan, melainkan sesuatu yang terus dilakukan bersama-sama secara sadar dan sengaja oleh semua pihak yang terlibat.
Jika dipikir lebih jauh, apa sebenarnya yang membuat kita berperang? Berkolaborasi dan saling membersamai, atau berkompetisi dan saling sikut memperebutkan kemenangan? Kenapa kita justru sering mengobarkan semangat kebangsaan lewat landasan yang sama dengan penyebab utama terjadinya perang, ketimbang lewat landasan saling sayang dan saling menjaga?

Merayakan Tanpa Rebutan
Rasanya, kembali ke gotong royong adalah wujud kemerdekaan sejati setelah delapan puluh satu tahun berlalu. Bukan sekadar bendera yang dikibarkan sekali di masa lalu, melainkan seutas tali yang terus dipegang erat oleh semua orang, hingga kapan pun, dirayakan dengan penuh cinta, bukan dengan siapa yang sampai duluan di puncak pinang.
Ini juga yang terus kubawa dalam kerja sehari-hariku, baik di ruang kelas anak-anak usia dini, maupun di komunitas ibu-ibu dan anak-anak yang bergerak bersama untuk isu iklim. Anak-anak enggak butuh diajari untuk saling mengalahkan supaya tumbuh jadi orang yang percaya diri. Mereka butuh ruang untuk belajar berbagi, menunggu giliran, dan menyelesaikan masalah bersama, persis seperti yang diamati oleh Montessori satu abad lalu. Maka, ketika berhasil membentuk manusia yang lebih utuh sejak usia dini, kenapa kita, sebagai bangsa yang sudah dewasa, malah lupa caranya?
Kalau di tatanan kecil masyarakat kita dibiasakan merayakan lewat kompetisi, rasanya enggak heran kalau kita jadi mudah lupa bahwa yang seharusnya kita jaga adalah apa yang kita miliki bersama, bukan direbut ulang dari satu sama lain. Kita malah sering memperebutkan kemenangan dengan orang-orang yang sebenarnya berada di tim yang sama: kerabat dan saudara sendiri. Sedih kalau dipikir-pikir lagi.
Kemerdekaan dulu dikumandangkan setelah kita bersama-sama mengusir mereka yang merampas hak dan harta kita. Kita bersatu bukan karena kita saling berkompetisi, melainkan karena kita bahu-membahu melawan musuh yang sama. Kalau akar masalah dari perang yang enggak pernah membawa kebaikan itu adalah sensasi kompetisi, kenapa masih terus diagung-agungkan, bahkan dibiasakan sebagai tradisi, merayakan Hari Kemerdekaan?
Saya tidak sedang berbicara tentang pertandingan olahraga dengan kesepakatan fair play yang sehat. Saya bicara soal pembiasaan yang lama-lama dipahami sebagai budaya saling sikut. Bayi yang berebut mainan diajari untuk saling bergantian dan saling memahami. Kenapa kita, orang dewasa, malah sibuk saling menginjak-injak demi kemenangan di dunia kerja, bahkan di hari yang seharusnya kita rayakan bersama?
Ada banyak pilihan kemeriahan lain yang bisa kita lakukan untuk merayakan kemerdekaan: menceritakan kembali kisah-kisah budaya leluhur lewat pagelaran, berkolaborasi menciptakan inovasi untuk memperbaiki lingkungan, atau saling berbagi pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidup bersama. Semua itu adalah bentuk kolaborasi yang sama-sama sah dijadikan perayaan komunal, dan menurut saya, jauh lebih dekat dengan semangat 1945 daripada balap karung.
Menjadi bagian dari Indonesia adalah kebanggaan bagi saya, kebanggaan yang saya ceritakan ke mana pun saya pergi, ke setiap pelosok dunia yang pernah saya datangi. Bangsa ini, kalau kita mau jujur pada akarnya, adalah bangsa yang dibangun di atas landasan cinta dalam setiap tarikan napasnya, bukan di atas siapa yang paling cepat sampai ke puncak.
Sumber yang menginspirasi tulisan ini: refleksi Maria Montessori tentang pendidikan dan perdamaian (Guidepost Montessori), buku “Uncompete” oleh Ruchika Malhotra (via wawancara Julie Kratz di Forbes), serta laporan World Economic Forum tentang masa depan kolaborasi bisnis.

Leave a comment