Refleksi Idul Fitri: Bagaimana jika kita mengganti rasa berkorban dengan bersyukur?

Yasmina ini SUKA SEKALI MAKAN. Kayaknya apa aja aku makan, dan aku bisa sangat cranky kalau telat makan. Maka, bulan Ramadan, kelaparan seharian itu rasanya LUAR BIASA BANGET!

Meski sebetulnya, kalau hanya berkegiatan fisik kayak olahraga, nyetir, atau harus ke sana dan ke sini gak terlalu masalah. Kegiatan yang paling jadi masalah adalah: MIKIR. Benar-benar sulit menyelesaikan setumpuk pekerjaan sambil kelaparan. Akhirnya kerjanya jadi malam, habis buka puasa, sampai sahur. Dampaknya: kurang tidur. 

Tapi setiap kali kepala berdenyut saat harus meeting dan harus nyelesein kerjaan itulah, saya jadi mikir: “Duh, ini cuma setahun sekali, dan hanya seharian, nanti malam juga bisa makan, sementara ada orang-orang, bahkan anak kecil, yang harus kelaparan berhari-hari, bukan karena pilihan, tapi karena memang enggak punya…”

Saya berhenti sejenak. Bukan untuk dramatis. Tapi karena ini menjadi momen dalam waktu yang lama, ketika tubuh saya, bukan hanya pikiran saya, benar-benar paham.

Makna puasa bagi saya bukan hanya soal surga dan neraka.

Bukan karena saya meragukan keduanya, saya mengimani surga dan neraka. Tapi karena saya diajari bahwa memberikan yang terbaik itu bukan soal takut akan hukuman. Memberikan yang terbaik adalah bukti bahwa kita benar-benar mengerti.

Dan kita enggak bisa mengerti apa yang belum pernah kita rasakan, bukan?

Tanpa Ramadan, saya tidak akan pernah tahu rasanya lapar sungguhan, bukan lapar karena lupa sarapan, tapi lapar yang menumpuk, yang membuat konsentrasi buyar, yang membuat langkah jadi berat.

Tanpa Ramadan, saya tidak akan pernah tahu rasanya harus segera bergegas ke tarawih dalam kondisi perut baru setengah kenyang, sementara biasanya saya bisa santai, bisa rebahan dulu, bisa pilih kapan mau bergerak. Enggak kebayang rasanya jadi mereka yang setiap hari harus makan dengan bergegas, karena hidupnya terancam.

Tanpa Ramadan, saya mungkin tidak akan pernah benar-benar sadar: betapa besar privilege yang saya punya.

Selalu ada makanan di rumah saya. Saya bisa konsentrasi kerja karena kenyang dan cukup tidur. Saya enggak perlu buru-buru ke mana-mana untuk bertahan hidup. Saya punya waktu untuk berpikir tentang makna, karena kebutuhan dasar saya sudah terpenuhi.

Ternyata, semua Itu bukan hal kecil. Justru merupakan sebuah kemewahan yang luar biasa.

Dan di sinilah letak bagian yang paling berat untuk saya akui:

Saya bukan sedang berkorban.

Saya memang bukan ahli agama, dan jika ada hal-hal yang saya tuliskan melenceng dari yang sebenarnya, tolong dikoreksi. Karena saya sedang merefleksikan apa yang saya rasakan, dan saya seringkali terganggu dengan pernyataan “Aku ini berkorban banyak dengan memberikan ini dan itu..” duh. 

Kata “berkorban” itu berat. Ia milik mereka yang betul-betul melepaskan sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka yang berpuasa bukan karena pilihan spiritual, tapi karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Mereka yang memberi bukan dari kelebihan, tapi mengikhlaskan dari yang sedikit yang dimilikinya.

Saya? Saya hanya sedang belajar merasakan. Belajar turun dari kenyamanan sendiri, sebentar saja, supaya empati itu bukan sekadar konsep di kepala, tapi menjadi pengalaman yang hidup di tubuh, dan menetap untuk senantiasa mengingatkan.

Di Qur’an surat Al-Baqarah 2:267 mengingatkan kita dengan keras: jangan pilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau menerimanya. 

Sedekah bukan tempat sampah. Bukan momen bersih-bersih lemari. Sedekah adalah cermin, ia memperlihatkan seberapa jauh kita masih menggenggam dunia, seberapa enggan kita melepaskan apa yang kita cintai.

Jadi, sepertinya, jika kita masih memberikan yang sisa, yang lusuh, yang sudah tidak kita inginkan, rasanya itu bukan kedermawanan. Itu pembuangan dengan label pahala.

Betul, apa yang saya refleksikan, ibadah yang saya jalankan, hal-hal yang bisa saya berikan, sepertinya enggak akan bisa menghentikan ketidakadilan, kemiskinan, dan perang di dunia. 

Rasanya, saya enggak mampu membuat semua yang kelaparan menjadi kenyang hanya dengan menginginkannya.

Tapi saya bisa memilih untuk tidak lupa.

Hampir setiap hari di Ramadan ini, ketika saya memikirkan mereka yang harus merayakan Eid tanpa keluarga, tanpa makanan, tanpa rumah, tanpa keamanan, rasanya pedih hingga ke tulang. Namun, saya enggak ingin bersedih dengan cara yang pasif. Bersedih tanpa bergerak tidak mengubah apa pun. Yang dibutuhkan bukan air mata yang kita simpan sendiri, tapi tindakan, sekecil apa pun itu, yang kita arahkan untuk mereka.

Justru, Eid yang dirayakan dengan benar adalah Eid yang membuat kita bergerak, memastikan yang miskin ikut merayakan, memastikan suara mereka yang tertindas tidak tenggelam dalam keramaian takbir kita.

Eid Mubarak yang sebenarnya bukan hanya ucapan. Ia adalah pertanyaan: sudah seberapa jauh aku bergerak untuk memastikan orang lain juga bisa merasakannya?

Ada sesuatu yang saya pelajari juga tentang tubuh di Ramadan ini.

Puasa bukan hanya latihan spiritual. Ia juga, secara fisiologis, adalah latihan untuk sistem saraf kita.

Ketika kita lapar dan haus tapi tetap aman, tubuh kita belajar sesuatu yang sangat penting: ketidaknyamanan bukan berarti bahaya. Ini yang disebut regulasi. Ketika ritme makan kita teratur — sahur, buka, sahur, buka — tubuh kita belajar bahwa hidup punya ritme, dan ritme itu menenangkan.

Kemudian ketika kita berdiri di tarawih, dalam gerakan yang panjang, lambat, berulang, di ketenangan malam, sistem saraf kita akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat. Parasympathetic activation. Rest mode. Aku aman. Aku bisa tenang. Aku tidak sendirian.

Ramadan tidak memaksa kita untuk sembuh. Ia hanya menciptakan kondisi untuk itu. Dan tubuh kita tahu apa yang harus dilakukan ketika kondisinya tepat.

Ini yang selalu saya percayai dalam cara mendidik anak-anak, dalam cara memimpin tim di AKAR: saya tidak bisa memaksa pertumbuhan. Kamu hanya bisa menyiapkan tanahnya. Ramadan adalah bulan ketika Allah menyiapkan tanah-Nya untuk kita.

Karenanya, Ramadan juga mengajari saya untuk ingat agar menghindari hidup dalam sistem yang rigid.

Karena Al-Qur’an sendiri mengajarkan kita untuk menjadi manusia, bukan mesin. Manusia itu berada dalam flow yang fleksibel, yang bernapas, yang tumbuh.

Saya suka dan merasa nyaman hidup dalam ritme yang tersistemasi, supaya bisa terus memperjuangkan kebaikan dalam perencanaan. Namun bukan berarti saya membuat sistem yang rigid, dan tidak bisa fleksibel dalam berbagai kondisi. Sistem artinya harus bisa memperkuat koneksi, bukan sekadar memenuhi checklist.

Sebab ibadah bukan sekadar checklist, begitu juga goal dalam hidup.

Menjalankan sesuatu itu artinya mengimplementasikan pilihan yang diejawantahkan dalam bentuk perencanaan. Karena itu, dibutuhkan niat yang kuat. Sementara niat yang kuat harus muncul dari pemahaman akan sebuah makna. 

Maka yang saya mau justru menyelami makna, mendalami kenapa, bukan hanya tahu apa dan bagaimana. Bagian teknisnya? Nurut saja pada tuntunan yang memang sudah dibuat sempurna. Sementara makna, filosofi, dan alasan substansial untuk memahami suatu ibadah tentu harus dicari sendiri agar tidak tergoyahkan oleh apa pun karena alasannya jelas. Dilakukan dengan hati yang mau bertanya. Dengan diri yang mau tidak nyaman sejenak demi pemahaman yang lebih dalam.

Rasanya takwa bukan tentang berapa kali khatam, berapa rakaat tarawih, seberapa aesthetic foto iftar kita.

Taqwa adalah kesadaran. Kehadiran. Ketulusan.

Am I conscious of Allah? Am I present with Him? Am I sincere?

Itu saja. Dan itu bukan hal yang kecil.

Saya mencintai Ramadan

Ya, karena banyaaaak sekali yang ia ajarkan untuk saya, si manusia yang suka banget makan ini.

Ramadan mengajarkan bahwa bersyukur itu bukan pernyataan, justru bentuknya latihan tubuh. Saya jadi sadar bahwa saya enggak benar-benar bersyukur atas makanan sampai saya pernah merasakannya tidak ada. Saya enggak benar-benar bersyukur atas keamanan sampai saya, sebentar saja, merasakan kerentanan.

Dan itu bukan soal takut neraka, atau mengharapkan surga saja.

Hidup ini bukan sekadar reward and punishment.

Hidup ini adalah memaknai. Dan soal kebersyukuran.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban; maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Semoga Allah selalu melindungi jiwa dan pikiran kita dari segala bentuk kufur nikmat,  dari perasaan bahwa kita sedang berkorban, padahal kita hanya sedang memilih.

Karena setiap hembusan napas kita adalah pilihan yang kita buat. Dan apa yang terjadi di hadapan kita adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan itu. Saya percaya segala sesuatu yang terjadi pada saya adalah yang terbaik yang Allah berikan.

Dan saya bersyukur atas apa pun itu.

It is what it is.


Taqabalallahu minna wa minkum. Semoga Allah mengampuni dosamu dan dosaku, dan menerima segala amal ibadah kita.

Eid Mubarak.

Yasmina

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>