Pendidikan tradisional vs modern?

English version is here

Memilih sebuah cara untuk menjalankan sesuatu itu memang sering kali dilematis. Misalnya, ketika saya harus memilih antara menggunakan pendekatan yang sangat modern agar sesuai dengan zaman, atau justru (berupaya) mengembalikan nilai-nilai tradisional Indonesia.

Namun, sekarang saya sadar, sepertinya enggak harus dipilih!

Bermula dari diskusi dengan teman-teman Relationships Project

Jadi pada 2025, ketika saya berkunjung ke United Kingdom, saya berkenalan dengan beberapa orang dari berbagai organisasi. Salah satunya adalah Rosa Friend dari Relationships Project. Awalnya bergabung dalam pertemuan rutin dengan kelompok kecil, kemudian mengobrol di email, hingga akhirnya pembicaraan sampai ke diskusi soal relationships dan prinsip koneksi yang diterapkan di AKAR.

Sampailah diskusi ke sebuah pertanyaan: “How do we honor local cultural wisdom while engaging with global standards, without defaulting to either colonial mimicry or defensive traditionalism?” Karena menarik sekali, saya memutuskan untuk menulis sebuah artikel yang kemudian dipostkan oleh Relationships Project di website-nya. 

Tulisan berjudul How staying rooted changed everything I thought I knew about quality” ini membuat saya jadi berpikir, sepertinya menarik untuk dibahas juga di laman ini. Sebab, perkara terkait Tradisional vs Modern ini menarik, apalagi untuk bangsa Indonesia yang punya value tradisional dari 1.340 suku yang tersebar di 17.504 pulau yang ada di seluruh negara ini (data Sensus Badan Pusat Statistik, 2010). Bukan banyak lagi, tapi BANYAK!

Sepertinya enggak akan ada standar kualitas yang bisa memfasilitasi sebegitu banyak suku bangsa, ya? Dilemanya juga terjadi ketika saya ada di tengah dunia internasional yang bicara soal standar kualitas pendidikan dan pengasuhan secara global dan tidak bisa menemukan identitas saya di situ. 

Semakin banyak belajar, semakin banyak saya merasa “Tidak asing”

Bulan Maret saya mengikuti sertifikasi CEEL Harvard Graduate School of Education (Certificate in Early Education Leadership), baru seri 1, bagian 1 sih, ada lima modul di dalamnya, dengan waktu belajar yang hanya sebulan. Setelah selesai semua modul, saya merasakan sesuatu yang … duh bagaimana ya cara menjelaskannya, tapi seperti juga kelas-kelas, dan buku-buku yang pernah saya pelajari sebelumnya: Seperti tidak asing.

Belajar soal pendidikan usia dini menggiring saya mempelajari soal komunitas, ekosistem manusia, sistem, dan bahkan cara kerja otak. Semuanya mengajak saya mengingat kembali buku-buku mengenai Indonesia dan seluruh kearifan lokalnya. 

Tahu kan bahwa Ki Hadjar Dewantara pernah menuliskan tentang “among” satu abad lalu? Isinya adalah mengenai memberi tuntunan bagi anak-anak dengan berjalan bersama dengan mereka, tidak di depan atau di atas mereka. Pendidikan dalam versi beliau adalah ‘ngerti, ngrasa, nglakoni’: untuk memahami, merasakan, dan melakukan aksi. Hal ini sudah dituliskan bahkan sebelum konsep soal koregulasi dari para neuroscientist dipublikasikan dalam berbagai jurnal. Padahal ini konsepnya sama: pembelajaran terjadi di DALAM suatu hubungan, bukan sesuatu yang terlepas dari hubungan. 

Dulu juga saya pernah ngobrol sama seorang scientist tanah dan beliau menceritakan bahwa kearifan lokal orang Indonesia itu membersamai tanah dan tanaman makanan yang “diasuhnya”, dengan penuh perhatian diajak bicara, diberikan semua yang terbaik, bahkan ditemani ketika musim sedang sulit. Sehingga tumbuh subur dan menjadi makanan yang baik yang menyehatkan tubuh kita. Semua saling terkoneksi; semua didasari prinsip saling sayang dan saling jaga. 

Sementara sekarang, ketika para penggagas perubahan internasional mulai menerapkan permakultur yang sifatnya membersamai tanaman. 

Saya jadi paham kenapa Bung Hatta menyebut leluhur kita itu “Jenius Nusantara”, karena yang diterapkan dengan landasan penuh kasih itu adalah sesuatu yang kini diterapkan dengan menggunakan ilmu-ilmu baru. Sesuatu yang sebetulnya tidak pernah baru untuk kita, orang Indonesia. Artinya, menjadi jenius adalah menjadi penuh kasih sayang, karena dengan menerapkan hubungan yang terkoneksi, kita tahu apa yang harus dilakukan secara otomatis.

Artinya, tugas saya adalah mempertemukan AKAR dan LANGIT di tengah

Inilah makna dari tulisan saya di awal, bahwa harusnya saya tidak perlu memilih untuk menerapkan sistem dan standar tradisional (akar) atau global (langit), karena memilih akan membuat pendidikan dan pengasuhan yang dilakukan menjadi setengah penuh.

Ketimbang “menerjemahkan”, saya memilih untuk melakukan “triangulasi”. Sebetulnya hal ini juga sudah pernah diungkapkan oleh Pak Soekarno, ketika menyatakan bahwa tidak ada salahnya mengambil nilai-nilai global dan diterapkan beriringan dengan nilai-nilai lokal. Namun, tidak sekadar menemukan padanan value global tersebut di tingkat lokal, saya justru ingin memperkayanya. 

Sumber pengetahuan global dan lokal bisa saling dilibatkan satu sama lain, dan mari kita lihat nanti apa yang muncul dari penyatuan value-value tersebut. Sesuatu yang menarik dan tidak bisa dihasilkan hanya oleh salah satu sumber saja. 

Karena itulah, yang bisa dilakukan adalah mematangkan konsep sambil menerapkannya. Enggak bisa hanya bikin konsep dan melakukan penelitian, tapi harus melibatkan kehidupan nyata. Hal terpenting adalah prinsip-prinsip dan kerangka utamanya sudah cukup matang sehingga tidak berisiko terhadap perkembangan otak siapa pun yang terlibat, kemudian melakukan fusi antara value-value tersebut dilakukan bersamaan dengan menyusun sistem berupa standar kualitas, policies, SOP, dan hal-hal teknis seperti form, tools, dan checklist.

Namun demikian, untuk melakukannya, maka saya harus ingat banget bahwa yang paling utama adalah: hubungan antar manusianya. Semuanya harus kembali ke pertanyaan “Apakah sistem ini mendukung terciptanya koneksi dan rasa saling sayang saling jaga di antara kita?” Jika tidak, maka saya harus memelankan langkah dan mencoba cara lain.

Menciptakan ekosistem yang terkoneksi sebagai tempat bertumbuh

Memastikan sebuah pohon untuk tumbuh dengan subur dan kokoh, artinya memastikan akarnya kuat untuk menahan seluruh tubuh pohon ketika menghadapi apapun. Maka, sebelum mengambil berbagai value dari “langit”. 

Sedih juga kan kalau kita ini, bangsa Indonesia, tapi tidak merasa bangga menjadi bagian dari negara yang sebetulnya keren banget ini? Dalam konteks ini tentu mari kita berfokus saja pada tanah air, dan kekayaan warisan leluhurnya, berhenti mencaci mereka yang tidak peduli dan membuat hidup rakyat susah dulu ya..

Namun demikian, kalau kita semua, yang sebetulnya jumlahnya JAUH LEBIH BANYAK daripada mereka yang tidak ingin kita bersatu dan melakukan kebaikan kolektif itu, dihantui kebencian, keengganan menjadi bangsa Indonesia, bahkan menyatakan negara ini gagal. Tunggu, negara ini tidak gagal; kita yang menentukan, lho! 

Karena itu, buat saya jadi PENTING sekali untuk mulai menguatkan akar bahkan sejak sebelum seorang anak dilahirkan ke dunia. Melibatkan setiap value baik yang memudar tertelan berbagai cara politisi yang hanya mementingkan keuntungan itu, supaya muncul lagi dan menjadi landasan bagi kita untuk melangkah. Baru kemudian menyatukan kekuatan dengan berbagai perbedaan dari ilmu-ilmu langit yang bentuknya pun beraneka ragam dari hal-hal yang kita temukan di tempat pendidikan, di tempat bekerja, bahkan di tempat ibadah.

Setelah itu, tentu memastikan ekosistem tempat pohon itu tumbuh menjadi ekosistem yang penuh dukungan. Pertama, harus memberikan “nutrisi” bagi akar lewat tanah, air, dan berbagai pupuk yang baik dan menyehatkan. Supaya akarnya juga bisa saling berkomunikasi satu sama lain, sistem antarpohonnya juga berjalan dengan baik, dan semua saling percaya bahwa kita bisa terus saling mendukung untuk tumbuh bersama. 

Susah? Iya, tapi harus terus dicoba. Karena kalau kita semua skeptis dan menyerah, maka jangan nelangsa jika bangsa ini ditelan bulat-bulat lagi oleh tengkulak dan kronconya, ya!

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>