Jangan-jangan masalahnya bukan anak kita? Justru definisi “Kesiapan”-nya yang harus dicek

Kayaknya selama ini kita nanyain hal yang salah ketika membahas soal kesiapan sekolah

Anak-anak saya selalu jadi yang paling tua di kelasnya, hehehe, karena emang saya ‘mundurin’ usia masuk sekolahnya. Saya memilih mereka enggak masuk SD terlalu cepat, dan saya belajar banyak dari pengalaman di sekitar saya soal tergesa-gesa memasukkan anak ke sekolah. 

Saya cukup resah ketika melihat banyak anak yang usianya masih kecil ada di kelas 1 SD bersama dengan anak-anak saya dan bertanya-tanya “Kenapa ya, kok masih kecil sudah ada di SD? Memang sekolahnya siap? Memang orang tuanya siap?” Sebab sekolah itu dijalankan oleh anak, tapi diampu oleh semua pihak dalam ekosistem seorang anak, lho.. 

Jadi, sepertinya…

Bagaimana kalau pertanyaan yang sebenarnya bukan “Apakah anakku sudah siap sekolah?”, melainkan “Apakah sekolahnya sudah siap untuk anakku?”

Setiap tahun, di musim seperti ini, kegelisahan yang sama menyebar pelan-pelan, lewat grup WhatsApp, obrolan di pinggir taman bermain, dan meja makan keluarga di seluruh Indonesia.

Anak saya udah siap belum, ya?

Para orang tua mengamati anak-anak kecil mereka sambil run through a mental checklist: Sudah bisa berhitung sampai dua puluh? Sudah hafal abjad? Sudah bisa menulis namanya sendiri? Sudah bisa duduk diam lebih dari tiga menit?

Saya paham banget kok perasaan itu. Saya kan juga orang tua. Saya juga pernah duduk dengan pertanyaan yang sama, pengukuran yang sama, harapan yang sama, bahwa anak-anak saya akan cukup siap, cukup mampu, cukup matang, untuk menghadapi apa pun yang menanti.

Tapi setelah sepuluh tahun membangun ekosistem pendidikan anak usia dini dan belakangan ini menyelesaikan modul pertama tentang The Science of Early Learning dalam program Harvard GSE’s Certificate in Early Education Leadership, saya ingin dengan lembut mempertanyakan premis dari pertanyaan itu.

Otak Punya Jadwalnya Sendiri, dan Enggak Peduli dengan Kalender Sekolah

Ada sesuatu yang sudah jelas banget dijelaskan di dunia sains: bagian otak yang bertanggung jawab atas kemampuan yang paling sering kita kaitkan dengan “kesiapan sekolah”, fokus, perencanaan, duduk tenang, mengikuti instruksi, mengelola impuls, disebut prefrontal cortex. Nah, pada anak usia lima atau enam tahun, bagian ini masih dalam tahap pembangunan awal.

Para peneliti dari Harvard’s Center on the Developing Child menggambarkan prefrontal cortex sebagai sistem pengendali lalu lintas udara di otak, alias bagian yang mengelola banyak kedatangan dan keberangkatan secara bersamaan, sehingga membuat segalanya tetap terorganisir dan berjalan sesuai rencana. Hal terpenting tentang sistem ini adalah: bagian ini enggak terbentuk sejak awal dilahirkan. Justru, kita dilahirkan dengan potensi untuk mengembangkannya, yang sepenuhnya dibentuk oleh pengalaman, hubungan, dan waktu.

Anak usia lima tahun yang enggak bisa fokus bukanlah anak yang enggak patuh. Anak usia enam tahun yang menangis ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya bukanlah anak yang “belum matang” dalam arti yang mengkhawatirkan. Mereka adalah anak-anak yang prefrontal cortex-nya masih berkembang. Jadi, bukan masalah perilaku. Justru kenyataan neurologis. Artinya, mau berapa kali pun latihan kartu hafalan, lembar kerja, maupun tekanan akademis ya enggak jadi mempercepat proses perkembangan yang memang sudah ada garis waktu biologisnya sendiri.

Kalau harus banget ada yang dipercepat, dan justru benar-benar membangun sistem pengendali lalu lintas udara itu, caranya bukan lewat latihan akademis. Melainkan lewat membangun hubungan, bermain, rasa aman secara emosional. Sebab penting bagi semua anak untuk belajar menjadi manusia bersama manusia lainnya.

Seperti Apa Sebenarnya “Siap” Itu

Penelitian Harvard tentang sesuatu yang disebut sebagai social-emotional learning ini, mengidentifikasi tiga area yang saling terhubung, yang benar-benar memprediksi seberapa baik seorang anak akan berkembang, bukan hanya di sekolah, tetapi sepanjang hidupnya:

  • Kemampuan kognitif — bukan hafalan, melainkan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam pikiran, beralih antara aturan dan konteks yang berbeda, mempertahankan perhatian pada sesuatu yang bermakna bagi mereka, dan berpikir untuk menemukan solusi.
  • Kompetensi emosional — kemampuan untuk menyadari dan menamai apa yang mereka rasakan, mengelola rasa frustrasi tanpa hancur atau meledak, merasakan sesuatu tanpa langsung menjadi sesuatu itu.
  • Kemampuan sosial dan interpersonal — kemampuan membaca sinyal orang lain, bekerja sama, tidak setuju tanpa merusak hubungan, dan bergantian, bukan hanya dengan mainan, tetapi juga dengan sudut pandang.

Dari tiga hal di daftar penting itu, ternyata enggak ada soal abjad dan berhitung ya…

Sebenarnya, bukan karena literasi dan numerasi tidak penting, tentu saja penting. Melainkan karena penelitian mengatakan sesuatu yang kontraproduktif namun penting: anak-anak yang tiba di sekolah dengan fondasi sosial-emosional yang kuat belajar keterampilan akademis lebih cepat, lebih dalam, dan lebih tahan lama dibandingkan dengan anak-anak yang datang dengan latihan akademis tetapi fondasi emosional yang goyah.

Bahkan ada temuan mengejutkan tentang hubungan antardomain perkembangan yang membuat saya terhenyak ketika pertama kali membacanya: pengetahuan abjad itu enggak hanya terhubung dengan kosakata, tetapi juga dengan kemampuan sosial. Kontrol impuls tidak hanya terhubung dengan perilaku, tetapi juga dengan kosakata. 

Otak kita yang keren ini, enggak berkembang dalam jalur-jalur yang rapi dan terpisah. Ia berkembang sebagai satu sistem yang utuh, terintegrasi, dan sangat relasional. Kita enggak bisa memisahkan otak yang membaca dari otak yang merasakan, karena dalam arti neurologis yang paling harfiah, keduanya adalah otak yang sama. Kenapa ya selama ini seolah dipisah-pisah?

Biaya yang harus ‘dibayar’ dari “Siap Terlalu Cepat”

Ketika kita mendorong anak-anak ke lingkungan akademis sebelum fondasi emosional dan sosial mereka kokoh, terjadilah sesuatu yang pelan namun dampaknya besar.

Stres akibat diminta menampilkan kemampuan yang belum siap secara perkembangan, cenderung mengaktifkan sesuatu yang disebut sebagai sistem respons stres, pernah dengar arsitektur fight-or-flight otak? Biasanya terjadi pada anak yang respons stresnya teraktivasi secara terus-menerus. Yang terjadi adalah sistem pengendali lalu lintas udara mereka mematikan prefrontal cortex yang berharga dan masih terbentuk itu. Otak yang sedang mengelola stres enggak bisa sekaligus melatih fokus, mengatur impuls, dan membangun pemahaman sosial. Kemampuannya hanya sampe bertahan aja.

Inilah biaya yang harus dibayarnya. Bukan berarti anak gagal mempelajari abjad. Namun, pengalaman yang didorong sebelum otaknya siap, secara diam-diam mengajari sistem saraf bahwa belajar adalah ancaman, sekolah adalah tempat penampilan, bukan tempat untuk rasa memiliki, dan bahwa kesenjangan antara kenyataan diri mereka seutuhnya dengan ekspektasi diri mereka yang ‘seharusnya’ jadi sesuatu yang memalukan.

Ini kemudian jadi beban yang bisa bertahan selama puluhan tahun. Kebetulan saya paham banget soal ini bukan hanya dari penelitian, karena saya juga mengalaminya heu. Saya juga banyak banget denger dan ketemu orang dewasa yang masih menjalani hidup dengan beban ekspektasi kaya gini, sejak kecil. 

Seperti Apa Sekolah yang “Siap” Itu

Pergeseran pemikiran terpenting yang sebetulnya ingin saya ceritakan disini, adalah: kesiapan sekolah bukan hanya terkait anak. Justru terkait hubungan antara anak dan lingkungannya.

Anak yang tampak “belum siap” di satu lingkungan bisa berkembang pesat di lingkungan lain, bukan karena mereka berubah, tetapi karena lingkungannya yang berubah.

Karena ada seseorang yang menyambut mereka di pintu setiap pagi dan memperhatikan ketika mereka sedang tidak baik-baik saja. Karena rutinitas yang cukup bisa diprediksi, sistem saraf mereka jadi bisa rileks. Bahkan ketika mereka meledak, orang dewasa di ruangan itu tetap tenang dan berangkat dari rasa ingin tahu, bukan alih-alih frustrasi dan menghakimi.

Penelitian Harvard menyebut ini sebagai “serve and return”: hubungan timbal balik yang terus-menerus antara anak dan orang dewasa yang responsif, yang secara harfiah membangun arsitektur saraf. Setiap kali anak berupaya menjangkau, dengan sebuah kata, tatapan, pertanyaan, atau tangisan, dan orang dewasa merespons dengan kehangatan dan kepekaan alih-alih pengabaian atau hukuman, maka sebuah koneksi terbentuk di otak. Ribuan koneksi ini, selama bertahun-tahun, membangun fondasi untuk segalanya.

Inilah yang dimaksud dengan sekolah yang siap: bukan sekolah dengan kurikulum praakademis paling ketat, tetapi sebuah sekolah yang berusaha mengenal setiap anak. Ketika kehidupan batin mereka diperlakukan sebagai data yang valid, lalu para orang dewasa-nya juga memahami bahwa anak empat tahun yang kesulitan berbagi bukanlah masalah yang harus dikelola, melainkan seseorang yang sedang belajar, secara real time, melalui pengalaman nyata. Percayalah, itu merupakan salah satu keterampilan tersulit yang pernah dikembangkan manusia.

Pertanyaan yang Berbeda untuk Ditanyakan

Jadi ketika kita duduk di hadapan kepala sekolah, atau berjalan melewati ruang kelas dari sekolah yang sedang menjadi pertimbangan, atau menimbang kesiapan anak ktia dibandingkan kesiapan anak tetangga, berikut adalah seperangkat pertanyaan berbeda yang aku undang kamu untuk pegang:

  1. Apakah sekolah ini memahami bahwa dunia emosional anak tidak terpisah dari proses belajarnya? Atau justru memperlakukan perasaan sebagai gangguan dari pekerjaan yang sesungguhnya?
  2. Apakah sekolah ini membangun hubungan yang hangat, konsisten, dan timbal balik antara guru dan anak? Atau justru memindahkan anak-anak hanya karena prestasi akademis?
  3. Apakah sekolah ini melihat transisi (perpisahan di gerbang, hari pertama di kelas baru) sebagai momen perkembangan yang layak mendapat perhatian dan ritual? Atau sekadar urusan logistik?
  4. Apakah sekolah ini memahami bahwa anak enam tahun yang tidak bisa duduk diam mungkin memang hanya seorang anak enam tahun? Atau justru menafsirkan perkembangan yang normal sebagai sebuah masalah?
  5. Apakah sekolah ini percaya bahwa bermain adalah belajar? Atau justru memperlakukan bermain sebagai hadiah yang didapatkan anak setelah menyelesaikan pekerjaan yang sesungguhnya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini harusnya bisa membantu kita menjawab kekhawatiran perkembangan anak, dibandingkan daftar keterampilan akademis apapun.

Belajar dari Danish

Ada alasan mengapa Denmark, Finlandia, dan banyak negara lain dengan hasil pendidikan terkuat di dunia tidak memulai pendidikan formal sampai anak berusia enam, tujuh, bahkan delapan tahun. Bukan karena mereka enggak peduli dengan keunggulan akademis, melainkan karena penelitian dan pengalaman selama puluhan tahun telah mengajarkan mereka bahwa pencapaian akademis yang paling dalam dan paling tahan lama itu justru dibangun di atas fondasi keamanan emosional, kepercayaan diri sosial, dan pengalaman menjadi anak-anak yang enggak perlu diburu-buru.

Keterampilan yang anak-anak butuhkan itu, sebetulnya adalah tahu cara meminta tolong ketika tersesat. Tahu bagaimana merasakan sesuatu yang berat tanpa hancur karenanya. Juga tahu bahwa orang-orang dewasa di sekitar mereka aman, hangat, dan memperhatikan.

Keterampilan yang sifatnya akademis seperti huruf, angka, membaca, menulis itu akan datang kok. Bahkan lebih cepat, dan dengan lebih banyak kegembiraan, ketika akarnya kuat.

Itulah kesiapan sekolah yang sesungguhnya. Percayalah, semua itu sebetulnya telah tumbuh dalam diri anak, meski diam-diam namun terus-menerus. Ditanamkan setiap kali kita duduk bersamanya melewati sesuatu yang berat, menamai perasaan dengan lantang, dan memilih koneksi daripada koreksi.
Tenang, itu artinya, kita sudah melakukan pekerjaan yang paling penting!

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>