Sistem harus dirancang oleh kita yang paham bagaimana rasanya membutuhkan sistem yang dapat menangani kekacauan

Merancang sistem sebetulnya bisa dikerjakan oleh siapa pun, selama orang atau tim tersebut paham hal-hal yang terjadi di dalam sebuah organisasi atau perusahaan, supaya bisa menciptakan sesuatu yang memang sesuai dengan kebutuhan, ya kan?

Karena itulah, penting juga untuk memastikan bahwa mereka yang merancang sistem tersebut enggak bias dan bisa berpikir secara terintegrasi akan kausalitas yang terjadi di dalamnya. Maka, saya sering sekali mengulang ke tim saya untuk senantiasa menjaga asupan otak, bukan hanya untuk merancang sistem, tapi justru mengimplementasikannya dengan minim bias.

Soalnya sistem kan bukan hanya mengenai “barang” nya, namun justru mengenai kondisi yang menciptakan dan menjalankannya. 

Menjaga Sistem = Menjaga Asupan Otak

Saya menerapkan maksimal 150 menit pleasure gadget per hari, sebagai salah satu cara menjaga asupan otak. Kenapa? Karena Monkey See, Monkey Do. Hehehehe,,

Pernah dengar atau baca teori social learning Albert Bandura yang menggunakan Bobo Doll sebagai eksperimen ke anak-anak? Penelitian ini sudah lama sekali, tapi rasanya masih terus relevan hingga kini. Saya pertama kali membaca dan mempelajarinya juga waktu SMA, karena di sekolah saya dulu, siswanya harus membuat penelitian sebagai salah satu syarat kelulusan. 

Waktu itu saya ngambil tema yang remaja banget; soal idola. Nah, dari penelitian yang menggunakan boneka Bobo itu, yang di highlight adalah: Kita duduk aja dan nontonin perilaku kekerasan (enggak perlu jadi korban), bisa jadi meniru dan melakukan kekerasan. Kebayang ya, ada sekelompok anak kecil dalam satu ruangan yang harus menyaksikan kekerasan pada boneka, kemudian meniru perilaku yang sama kepada mainan-mainan di toko mainan. 

Apa yang kita lihat di Media Sosial setiap hari?

Sekarang, situasinya: hiburan kita setiap hari adalah scroll gawai di berbagai media sosial. Jumlahnya semakin banyak, namun, isinya kurang lebih mirip. Sarat sekali dengan kebebasan bicara yang seringkali terasa terlalu reaktif. Kritik sosial yang diberikan tidak lagi nampak seperti kritik membangun tapi lebih terasa seperti impulsivitas, kekerasan digital, hujatan, makian, dan semua dibuat seolah wajar, karena ceritanya punya musuh bersama yang memang harus dihujat. 

Saya sepakat, untuk tindakan yang keji secara kemanusiaan harus diberitakan dan dikritisi. Tapi merasa marah, beda output dengan marah-marah dengan kekerasan verbal atau tulisan. Kadang bentuknya jadi enggak masuk akal. Kesalahan yang dilakukan apa, hal yang dicelanya jadi menyerang seseorang secara personal. Kok rasanya kaya tawuran jaman saya sekolah dulu?

Selain itu, biasanya jadi semakin rame karena dilakukannya bareng-bareng. Ya persis tawuran anak sekolah, atau tawuran warga. Inget banget deh saya, dulu pernah bahas ini sama guru BK dan diskusinya adalah tentang “Kalau merasa marah dan ingin berantem, berani gak kalau harus menghadapi “musuh”nya sendirian?” Sebab kalau beraninya keroyokan, ya pilihannya cuma ada pihak yang ikut-ikutan aja biar gak ketinggalan, dan ada pihak yang merasa marah tapi enggak berani menghadapi masalah sendirian.

Ujungnya sih sudah tentu bukan solusi, tapi risiko kehilangan nyawa, dan jadi sia-sia. Kalau mama saya sering bilang “Ai kamu teh manusia atau munding (Kerbau)?” Kalau saya misuh-misuh dan enggak mengkomunikasikan hal-hal yang dirasakan dengan jelas. Sebab, kata mama, manusia itu bisa berkomunikasi, baik pihak yang merasa marah maupun yang salah harusnya bisa duduk bersama dan membuat kesepakatan, bukan tawuran. Ini terlepas dari kemampuan komunikasi verbal maupun non-verbal, ya. Karena bentuk komunikasi kan luas, hanya yang jelas, Kerbau sih enggak punya kemampuan itu. 

Karena manusia, harusnya bisa menciptakan sebuah ekosistem yang suportif, ketika ada pihak yang mengalami kesulitan berkomunikasi, ya yang lainnya sebetulnya punya kemampuan untuk sama-sama menciptakan kondisi yang mendukung penyelesaian masalah berbasis solusi. 

Noel Gallagher menciptakan Live Forever sebagai bentuk kritik pada lagu Nirvana

Ish apa hubungannya? Hahaha ya ada. Lagu Live Forever itu ditulis Noel Gallagher sebagai bentuk perlawanan terhadap lagu Nirvana “I Hate Myself and I Want to Die” pada tahun 1994. Dia bilang: “He might be depressed, but there’s no need to bring everybody else down!” (kutipan dari buku A Sound so very loud: The inside story of every song Oasis record) Rasanya betul ya, kalau ingin bercerita mengenai hal-hal yang dirasakan, bukankah lebih baik bercerita ke orang terdekat atau ke ahlinya sekalian bisa diatasi?

Sebab dengan lagu yang diciptakan oleh manusia seterkenal Kurt Cobain, dengan jumlah fans sebanyak itu dan sedunia, kan artinya dia sedang ngajakin orang lain untuk sama-sama benci sama dirinya dan ingin mati aja. Weeww… ngeri ya?

Karena Noel sendiri kan sebetulnya punya masa muda yang sarat kekerasan juga dari ayahnya, tapi lagu OASIS kan enggak pernah dark begitu. Enggak ada lagu yang bentuknya encouraging untuk orang lain supaya menderita bareng-bareng. Berkarya itu sifatnya bebas, saya setuju. Tapi karya yang menggiring orang lain untuk melakukan hal yang berbahaya, sepertinya harus ditinjau dari kacamata etis, ya?! 

Sementara itu karya, masih ada effortnya, nah kalau sekarang bentuknya komen. Bikinnya lima menit, dampaknya bisa menghancurkan orang sampe ke tulang-tulang. Saya enggak percaya ada kebaikan dan kebenaran yang bisa disebarkan lewat kebencian. Di satu sisi, kita mulai aware dengan kesehatan mental dan boundaries, untuk menciptakan dunia yang aman buat semua, merancang safe space untuk banyak orang mengekspresikan dirinya. Di sisi lain, ekspresi yang diberikan kok jadinya mengerikan?

Kita gak bisa ngatur postingan orang, maka lebih baik kita batasi yang kita lihat

Karena yang paling bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, maka saya menerapkan sistem maksimal pleasure gadget 150 menit sehari, ditambah kurasi betul apa yang saya lihat. Saya menghindari akun-akun sarat makian, dan saya batasi nonton tayangan hujatan, sebagai salah satu cara.

Sebab otak kita punya Mirror Neuron, dan cenderung bias. Kalau mau menerapkan sebuah sistem berlandaskan value kebaikan dan kebenaran, maka “cukup tau aja” pada perilaku-perilaku reaktif. Saya memilih untuk membaca tulisan in depth untuk paham konteks yang terjadi di dunia, ketimbang scroll pendek di sosmed. Karena saya tahu ini akan sangat berpengaruh dalam berbagai keputusan dalam sistem yang saya terapkan.

Iya, saya kepengen dunia ini lebih ramah untuk semua, dan kita bisa mengekspresikan diri sendiri tanpa takut salah. Tapi coba pikirin deh, kalau posting apa aja isinya dihujat melulu, apa enggak bikin kita jadi semakin takut untuk berekspresi? Dua sisi koin kan tuh? 

Saya sih melihatnya, hal ini terjadi karena kita sebetulnya masih berada dalam masa transisi ingin berekspresi tapi enggak tahu sebetulnya harus mulai dari mana dulu. Mengekspresikan segala hal dengan blak-blakan dengan reaktif, atau mikir dulu agak panjang supaya bisa melihat dari beberapa sisi agar enggak mencelakakan pihak lain. 

Betul, ini bisa jadi kritik juga untuk sistem dunia yang enggak adil. Penerapan hukum yang terasa tidak berimbang kepada pihak yang melakukan kesalahan, misalnya. Jadi kita krisis percaya pada penegak hukumnya. Merasa bahwa, hukum yang diterapkan tidak menciptakan rasa aman sehingga merasa bahwa pihak yang salah harus dihukum secara sosial.

Diskusi ayam atau telur duluan ini rasanya enggak ada habisnya kalau dibahas. Maka disini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa, karena yang terjadi di dunia ini enggak ideal. Well, mungkin enggak akan pernah ideal, kalau mempertimbangkan jumlah manusianya ada sebanyak ini. Ketimbang kita bicara sistem yang seluas itu, saya memilih untuk bicara sistem terkecil dalam ekosistem terkecil yang ada di depan mata saya aja. 

Memulai segalanya dari rasa ingin tahu yang tinggi

Ketimbang rusuh mikirin dunia, saya mau mulai dari melakukan penelitian pada diri sendiri aja dulu. Kan kalau kata Leo Tolstoy: ‘Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself’ ya…

Hal utama dan paling penting sebelum berfungsi sebagai leader atau merancang sistem adalah mulai dari diri sendiri. Saya selalu mulai dari rasa penasaran. Karena, itu penting untuk dipupuk, agar bisa mengaktifkan sensor mencari informasi mendalam vs gossip. Karena dengan rasa penasaran, saya jadi bisa lebih mindful, dan mempertanyakan “Kenapa ya aku melakukan ini dan itu?” sebelum ngurusin orang lain.

Soalnya gossip – ngomongin orang lain, nyela-nyela kesalahan orang, dan nunjuk nyari siapa yang salah (dan pasti orang lain yang salah, kan tuh?), rasanya emang lebih enak. Sebab enggak menuntut otak untuk bekerja lebih keras. Rasa penasaran, dan belajar hal baru, bahkan berani untuk vulnerable dan melihat apa yang bisa diregulasi dari diri sendiri itu, butuh banyak sekali energi karena otaknya capek berpikir keras. Enggak nyaman. 

Sayangnya, saya sayang sekali sama otak saya dan otak orang-orang di sekitar saya. Untuk itu, saya sering ngingetin bahwa sistem itu bukan hanya soal manajemen tertulis, justru soal pemahaman akan how the world works

Terbiasa melakukan refleksi dan mendahulukan curiosity akan menghempas rasa ingin menghujat. Karena  sistem harusnya diproses di seluruh bagian otak; berpikir kritis dari otak depan, rasa saling sayang dan saling jaga dari otak belakang, dan perbendaharaan pengetahuan juga keterampilan dari otak tengah. 

Kemampuan mengintegrasikan fungsi otak ini bisa dijaga dengan mengatur asupan ke otak.

Kalau mata dan otak kita terbiasa menyaksikan kebiasaan reaktif dan inappropriate, maka nantinya akan mewajarkan. Saya percaya, berpikir secara sistem bukan hanya mengenai teori atau cara-cara system thinking yang diimplementasikan dalam bentuk tabel, kurva, dan bagan. Berpikir secara sistem artinya mampu mengintegrasikan kausalitas sebuah kejadian. Bentuknya adalah dengan being mindful.

Memahami dulu diri sendiri, menjadi hal utama yang harus dipupuk sejak awal, lalu mencari solusi akan pemahaman tersebut. Coba deh pelan-pelan sit with the feelings, lalu kenali dulu dirinya sendiri. Pertanyakan dengan penuh rasa penasaran, kenapa ya aku melakukan ini dan itu? Kalau saya, sangat ngeh, ketika menyaksikan hujatan-hujatan, saya jadi lebih mudah kepancing marah dan ikut-ikutan pengen reaktif.

Privilege saya adalah, saya dulu jurnalis. Jadi udah terbiasa cover both sides, udah terbiasa melihat dari banyak sudut pandang, dan sudah pernah mengekspresikan rasa marah lewat ribuan tulisan selama bertahun-tahun jadi jurnalis. Ditambah saya suka sekali baca, dan isi library saya sangat beragam sehingga memahami sebuah persoalan jadi lebih mudah karena saya tinggal comot-comot isi library dari bacaan, dan pengalaman. 

Makanya ketika sekarang membuat sistem, hal pertama yang aku upayakan adalah menjaga asupan otak saya dan tim. Ketimbang scroll sosmed, saya lebih suka buka kindle dan deepstash. Ketimbang nonton video cepat dan singkat, saya lebih memilih tayangan panjang dan lengkap. Supaya ketika menyusun sistem, pemahamannya cukup “bulat”, jadi bisa lebih komprehensif.

Ini juga membantu banget dalam bekerja bersama AI. Karena kemampuan administratif saya kurang bagus, saya bikinin konsep, AI yang ngerjain administratifnya. Jangan nyuruh dia mikir, percaya deh, dia tu cuma bisa ngumpulin informasi doang, bukan ngide. Otak kita itu gak ada tandingannya!

Nah, sekarang, sistem seperti apa yang akan kita bangun, kalau isi library di otak terbiasa dengan pola scroll cepat dan reaktif  tanpa terbiasa berpikir panjang?

Leave a comment

Ava Reed is the passionate and insightful blogger behind our coaching platform. With a deep commitment to personal and professional development, Ava brings a wealth of experience and expertise to our coaching programs.

About the Coach ›

Newsletter

Weekly Thoughts on Personal Development

We know that life's challenges are unique and complex for everyone. Coaching is here to help you find yourself and realize your full potential.

About the Coach ›