Flawless. Perfect.
Merupakan kata yang menurut saya mengerikan.
Karena saya sendiri pernah terjebak di dalamnya, seperti harus terlihat jadi yang terbaik, enggak punya masalah, paling kuat, dan enggak vulnerable. Sebuah prinsip yang membuat saya menjalani hidup dengan sangat tegang, dan seperti enggak mengizinkan untuk memberikan ruang untuk diri sendiri bernapas.
Saya juga tadinya enggak sadar bahwa saya pernah menjalani kehidupan yang strive for perfection kaya gitu, kalau saya enggak terapi ke psikolog, dan dibantu disadarkan, lalu diregulasi. Karena ternyata, bertahun-tahun menjalani hidup yang mengejar kesempurnaan, membuat saya: CAPEK.
ADHD dan masking
Di saya, kebiasaan untuk jadi flawless, karena saya, deep down, paham banget bahwa saya ini BANYAK SEKALI FLAWS nya. Kemudian, mengambil kesimpulan dari society di sekitar saya dari lingkup keluarga- lingkungan sekitar – sekolah – sampe circle dalam kehidupan, enggak ada yang bisa menerima saya yang average bahkan below average.
Makanya saya pernah cerita kan, ketika saya udah selesai terapi, justru ADHD saya jadi semakin terlihat nyata. Justru malah semakin keliatan bahwa yasmina ini pelupa, banyak mengalami kesulitan dalam mengerjakan hal-hal yang sifatnya teknis dan details, dan ternyata enggak rapi. Padahal, saya dulu rigid banget sama jadwal. Kalau ada realisasi yang gak sesuai, saya bisa stress banget dan tegangnya setengah mati.
Sempurna itu bukan untuk Manusia
Dulu, suami saya yang suka menegur dan bilang, hidup di dunia manusia itu memang harus berdiri diatas prinsip kebenaran dan kebaikan. Namun, dalam melakukannya, ada 12,739 cara tergantung ekosistem tempat kita berada. Pertimbangan dalam melakukan sesuatu dan mengambil keputusan itu gak boleh hanya punya satu variabel, harus ada banyak, dan melihat setiap kausalitasnya. Sebab, pada dasarnya manusia itu fleksibel.
Pada saat itu tentu saja saya menentang dan membantah. Dalam pikiran yang saya yang saat itu sempit banget, bagaimana sistem mau berjalan kalau kita melakukannya dengan fleksibel? Kan semua orang jadi bisa mengakali sistemnya, bahkan curang. Lalu Poe memberikan sebuah contoh: di Amerika, anak yang masuk kategori minor, kalau enggak punya orang tua, akan diambil negara dan di salurkan ke foster parents hingga usianya dewasa, kan?
Kalau ada dua anak yang orang tuanya meninggal kecelakaan, kakaknya usia 15 tahun, adiknya usia 10 tahun, boleh gak hidup berduaan? Enggak kan? Tapi kalau mereka di serahkan ke foster parents, biasanya jadi akan terpisah. Sedih gak? Tapi latar belakang aturan itu dibuat mungkin karena masyarakat di negara itu enggak guyub, keluarganya enggak saling peduli, lingkungannya hidup solitaire enggak saling terkoneksi. Jadi mana yang harus didahulukan? Kesejahteraan anak? Definisi kesejahteraan anak hanya anak pergi sekolah dan makan dengan baik? Gimana kalau dipisahin kakak-adik bikin anak jadi enggak napsu makan, bermasalah secara psikologis sehingga gak bisa belajar dengan tenang? Apakah itu sejahtera?
Bener juga.
Saya jadi inget waktu mama bilang bahwa hidup itu harus dilandasi prinsip kebenaran dan kebaikan. Both. Bukan hanya kebenaran. Karena makna kebenaran itu sendiri fleksibel. Makna kebaikan juga sebetulnya fleksibel, sih. Misalnya kayak… saya kan suka banget minum kopi enak, dan subscribe kedai kopi untuk dikirimin kopi setiap hari. Ada hari-hari ketika kopi yang diantar rasanya cenderung pahit dan enggak sesuai notes.
Apakah saya harus bilang sama owner, bahwa baristanya hari itu bikin kopi enggak pas? Coba dilihat dari banyak POV. Kalau saya bilang, maka sudah pasti barista kena tegur dan mungkin dia merasa sedih atau kesal, karena dia harus bikin lagi yang baru, dan biasanya jadi dia yang disuruh bayar kerugian kopi yang saya kembalikan. Tapi kalau saya enggak bilang, bisa jadi kesalahan yang sama diulang lagi, dan kedai kopi bisa jadi kehilangan pelanggan, karena ternyata barista nya melakukan kesalahan yang fatal.
Jadi mana yang benar dan baik? Nah, saya jadi punya kacamata koneksi untuk jadi solusi. Kalau di kedai kopi itu diterapkan sistem yang berlandaskan koneksi, bukan hanya performa, maka bisa jadi ketika saya dengan transparan menyatakan bahwa kopi yang dibuat kurang tepat, owner akan ngajak ngobrol barista, konfirmasi, dan melakukan pengecekan. Jangan-jangan timbangannya rusak, jangan-jangan ketelnya kotor, jangan-jangan baristanya kelelahan karena habis mengurus ibunya yang sakit keras, dll.
Nanti tindakan selanjutnya yang diambil owner ya sesuai kondisi pada saat itu. Sementara saya juga sebagai customer harus bisa menyampaikan kritik yang membangun, instead marah-marah dan melempar gelas kopi, misalnya. Hehehe..
Tapi kan kalau se-fleksibel itu jadinya enggak bisa dibikin sistem? Kata siapa gak bisa? Bisa kok. Namun memang penerapannya jadi membutuhkan waktu yang lebih panjang, dan dokumen SOP nya jadi lebih panjang karena melihat dari banyak sudut pandang. Ya kembali lagi sih, kita kan manusia, bukan helem SNI. Tentu butuh waktu untuk melakukan perubahan perilaku hingga menetap dan jadi kebiasaan. Manusia itu banyak sekali elemennya, apalagi kalau mau dilihat dari sudut pandang inklusivitas.
Maka benar, saya setuju, sempurna itu bukan untuk manusia.
Menerapkan sistem berlandaskan koneksi
Ketika mengerjakan sistem, saya mencari anggota tim yang mampu mengerjakan sistem. Saya tau sejak awal, saya akan berhadapan dengan YASMINA di masa lalu yang enggak fleksibel dan rigid, karena pengen terlihat sempurna, karena di society, baik lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah hingga tempat kerja pada umumnya, semua menuntut kita untuk enggak pernah salah, dan harus mampu melakukan 1,876 hal tanpa salah.
Tim baru saya yang punya latar belakang pernah bekerja di korporasi ini emang pro-cons. Pro -nya tentu saja otaknya tersistemasi dengan baik. Mampu melihat sesuatu dari POV sistem rapi yang disiplin, bisa melakukan hal-hal detail, dan punya kompetensi mengerjakan dokumen-dokumen yang membantu penerapan sistem.
Cons-nya, tentu saja: RIGID. Kayaknya setiap hal harus diberitahukan dengan detail dan menuntut segala hal harus dilihat dari kacamata teknis tanpa cacat. Iya, strive for perfection kelas dewa. Karena terbiasa bekerja dalam lingkup seperti itu, yang segalanya dituntut untuk sesuai aturan, period. Sementara kami aja bikin aturan yang berdasarkan kesepakatan. Disusun bareng-bareng, dan prinsipnya selalu mendahulukan koneksi.

KEBAYANG KAN FRIKSINYA KAYAK APA??
Sampai hari ini, saya dan para heads masih dalam upaya melakukan penyesuaian, berusaha untuk menyelaraskan visi, misi, dan persepsi. Saya sih melihatnya jadi persis sama kondisi kita di Indonesia sekarang ini. Pemerintah yang dianggap ngablu dengan ngasih statement yang enggak bisa dipahami publik, lalu publik yang ngamuk tiap hari di social media berbagai kanal, karena menuntut 1,963 sudut pandang yang harus dipenuhi.
Saya sebenernya bisa sih menjelaskan secara clear, root problemnya ada dimana, tapi rasanya bukan ranah dan kompetensi saya untuk ada disitu. Saya kan bukan pengamat hehe, tapi ya saling bakar, saling hujat, selalu marah, dan meledak-ledak ini jadi tipikal kepribadian massal. Karena, yang sekarang terjadi adalah, ada gak ada masalah, atau apapun masalahnya, posisi kita paham secara keseluruhan atau gak, udah konfirmasi atau belum, apapun kondisinya, MARI NGAMUK AJA DULU! Serius berasa banget deh, sampe saya banyak block akun. Capek.
Kalo di buku geng-nya cinta di AADC dulu ada satu kalimat yang bisa menggambarkan situasi orang ngamuk ini: Musuh salah satu dari kita, adalah musuh kita bersama.
Setuju aja kalau disepakati dulu bersama-sama, definisi musuh itu apa? Misalnya pengeboman yang dilakukan oleh pemimpin2 $%£^&” itu. Kita bisa sepakati bersama, satu dunia, bahwa mereka adalah musuh ya, kan? Mari kita ngamuk. Tapi kalau orang salah ngomong di sosmed lalu di roasting sampe ke akar-akar, apa iya musuh, atau situ cuma pengen marah aja?
Kemampuan berpikir Bigger and Wider dalam sistem
Sistem itu maknanya apa sih? Kalau dari Merriam-Webster Dictionary:
The meaning of SYSTEM is a regularly interacting or interdependent group of items forming a unified whole.
Tau gak, menyatukan visi dan misi, menyepakati sesuatu dalam sebuah grup itu salah satu kekuatan otak manusia yang enggak dimiliki mahluk lainnya di dunia ini. Karena sebetulnya otak kita itu mirip aja dengan primata. Kalau pernah baca buku “Mother and Others” tulisan Sarah Blaffer Hrdy, ada tuh penjelasannya.
Penelitiannya dilakukan Michael Tomasello yang menyatakan: “The crucial difference between human cognition and that of other species is the ability to participate with others in collaborative activities with shared goals and intentions”
Maka, jika menyepakati sesuatu bersama-sama aja kita enggak bisa, dan memilih untuk tantrum jamaah, apa dong bedanya kita sama kera? Sayangnya, enggak semua orang mendapatkan kesempatan untuk diasuh dalam ekosistem yang mendahulukan kesepakatan bersama. Mungkin karena terbiasa membuat aturan top-down biar mudah, semua orang tinggal nurut aja gak banyak protes.
Namun itu sebetulnya yang ingin saya garisbawahi, bahwa sistem itu bukan sekadar mengenai rigidity dan fokus disiplin hanya pada satu hal, namun berpkir lebih luas dan besar. Coba main agak lebih jauh terus setiap hari, jadi lebih banyak yang dilihat, lebih banyak yang dirasakan, dan lebih banyak isi library di kepala.

Karena ternyata menyusun, menyepakati, dan menerapkan sistem yang interconnected di lingkup terkecil aja susahnya setengah mati, saya jadi paham bahwa saya harus bisa membuat segalanya terdokumentasi dengan rapi supaya kelak bisa membantu lebih banyak orang lagi yang ingin menerapkannya, kami bikin sistem kurikulum terintagrasi dalam myrootsy, dan mulai mengajarkannya dalam sesi-sesi mentoring yang saya isi. Harapannya supaya dampaknya enggak hanya di lingkar kecil, tapi bisa menular ke lingkaran-lingkaran yang lebih luas.
Makanya belakangan ini saya jadi sering dapat banyak pertanyaan, seperti: “Kenapa sih Yasmina sekarang ngurusin sistem dan leadership, kan biasanya ngurusin pendidikan anak PAUD, parenting, keluarga, dan pendidikan climate?”
Hehe coba baca buku Dirbag billionaire, ditulis David Gelles tentang Yvon Chouinard. Dulu juga pak Chouinard ditanya sama semua orang, “Situ kan businessman, kenapa bikin bisnis yang untungnya kecil karena kebanyakan malah disalurkan ke grassroots movements/organizations?” ya karena apapun yang kita lakukan di dunia ini rasanya enggak akan pernah cukup. Terlalu banyak yang harus diperbaiki, tapi tangan kita terlalu kecil untuk menjangkaunya.

Maka, instead of kita overthinking dan stress sendiri malah enggak bisa melakukan apa-apa, saya memilih mencari tangan-tangan lain untuk menjangkau lebih luas. Iya, mengajak. Karena sendirian atau memilih untuk menyempurnakan sesuatu dulu, ketimbang coba dulu, nanti kita co-create sambil embrace kesalahan-kesalahan yang dibuat, ya kelamaan!
Saya sering bilang sih ke tim saya “Untungnya kita bukan dokter bedah yang emang gak boleh bikin salah, karena risikonya nyawa!” Gerakan, pendidikan, sistem, adalah ruang aman untuk melakukan kesalahan. Tentu dengan satu syarat, sejak awal sudah sepakat untuk mau melakukannya bersama-sama, dan susah maupun senang kita gotong royong.
Saling sayang, saling jaga.

Leave a comment