Menjadi Pemimpin tanpa Mengorbankan diri sendiri (atau mengorbankan siapapun)

Menjadi pemimpin artinya harus siap bertanggung jawab atas kehidupan anggota tim dan organisasi/perusahaan yang dipimpin. Saya setuju. Namun, bertanggung jawab bukan berarti kehilangan diri sendiri, atau anggota tim harus kehilangan dirinya. Menurut saya, enggak harus ada yang “kehilangan” atau “melakukan pengorbanan”, karena sejatinya semua harus dimulai dengan rasa memiliki dan visi yang dipercaya bersama-sama. 

Saya sendiri memulainya di AKAR Family dari proses seleksi di awal yang dilakukan untuk menyamakan visi dan misi. Sebab jika sejak pertama bekerja sama saja sudah tidak memiliki visi dan misi yang selaras, tentu akan sulit untuk menjalankan sesuatu bersama-sama. Setelah itu, tentu memberikan setiap orang kesempatan untuk berdaya dan menjadi pemimpin dalam scope tugasnya masing-masing, sesuai kompetensi dan kapasitasnya.

Ini menjadi prinsip utama dalam genuine leadership yang saya bangun di AKAR. Setiap orang justru harus mampu stay rooted to lift other up, bukan saling sikut atau menjatuhkan. Artinya, setiap orang harus mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibuat. Untuk itu, tentu bekal pertama adalah membiasakan diri mau dan mampu mengambil keputusan, kan…

Sebab jika setiap pengambilan keputusan dan tanggung jawab hanya diserahkan kepada segelintir orang, dan orang-orang ini harus melakukannya sampai ke setiap hal yang terjadi dalam keseharian, sudah pasti dia akan kehilangan jiwanya. Meski tentu saja, keputusan dan tanggung jawab terbesar ada di tangan saya dan teman-teman di posisi Head. 

Utamanya: Mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab sesuai peran

Selama ini, saya perhatikan, sistem pengambilan keputusan yang terjadi kerap menimbulkan masalah jika dikaitkan dengan “pengorbanan”. Duh, percayalah, menyatakan diri “Berkorban untuk kalian” itu so last decade, deh. Rasanya kita udah enggak perlu merasa diri sebagai pahlawan yang melakukan pengorbanan, ya? Saya lebih percaya pada distribusi kepemimpinan yang sehat dan melakukannya dengan terkoneksi, bersama-sama.

Pengambilan keputusan Top-Down itu, iya sih, cepat dan sat-set. Sayangnya, biasanya menciptakan sebuah budaya “Asal bos senang” dalam keseharian. Maka yang terjadi adalah enggak ada yang mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, toh semua keputusannya juga dibuat oleh pimpinan, warga mah ikutan aja biar cepet. 

Ujungnya nih, akan keluar pernyataan “Kita kan kerja buat dapat bayaran, ya kerja aja sesuai bayarannya, kenapa harus memberi lebih dari yang tertera di kontrak?” Saya juga pernah sih jadi karyawan, dan saya selalu extra mile, tapi emang bukan sepenuhnya hanya untuk perusahaan, melainkan untuk diri saya. 

Kan saya juga pengen tambah canggih, bisa melakukan ini dan itu, bisa memberi dan memenuhi challenges ke diri sendiri, kemudian saya jadi nambah knowledge-skill-attitude dari memberikan extra mile itu. Justru dari situ lah saya akhirnya belajar banyak dan bisa berani membangun sesuatu dari nol.

Ada juga sistem konsensus. Kalau ini sepertinya mirip dengan situasi dalam cara Indonesia menjalankan negara ya. Iya, sepertinya demokratis, tapi percayalah sebuah keputusan akan diambil dalam waktu yang terlalu lama, sehingga keburu menimbulkan masalah baru. Karena setiap orang, paham enggak paham, harus memberikan pendapat. Lho, kalau yang dimintai pendapatnya itu memberi usulan hanya dari sisi self-interest-nya aja, gimana? It will throw a wrench into the wheels of progress. 

Apalagi jika konsensusnya dilakukan dengan melibatkan terlalu banyak stakeholders, dengan begitu banyak pandangan dan opini, menemukan common ground yang disepakati setiap orang rasanya mustahil ya. Nothing happens except more talk and no action. Sepertinya konsensus hanya bisa dilakukan di keluarga yang anggotanya sedikit, atau keputusan yang sangat kecil dan enggak punya dampak, misalnya menentukan “Mau makan siang apa, guys?”

Kerangka pengambilan keputusan dengan Lima Pertanyaan

Maka, saya memilih untuk memberlakukan sistem distribusi kepemimpinan. Artinya, distribusi pengambilan keputusan dengan koordinasi yang berjalan dengan menggunakan tools-tools yang kami ciptakan, supaya semua hal bisa diketahui oleh semua orang. Maka pada akhirnya semua bisa saling menghargai keputusan yang dibuat dan jadi satu suara.

Sebisa mungkin saya menghindari “Good cop” dan “Bad cop”. Tau kan, kalau di rumah, anak-anak bisa minta uang lebih ke papa karena mama banyak berhemat. Atau, mama dan papa enggak satu suara, sehingga anak-anak bingung. Di keluarga saya aja, hal itu enggak terjadi karena bentuknya jadi disfungsi peran. 

Untuk membuat setiap orang bisa berdaya dan berani bertanggung jawab akan keputusan yang dibuat sesuai perannya, saya membiasakan bertanya pada diri sendiri atau mendiskusikan dengan tim kecil sesuai kebutuhan, lima pertanyaan berikut:

  1. Does it align with our Roots (Value)?

Apakah hal ini selaras dengan value yang kami percaya di AKAR? Ketika ada hal yang terjadi, dan harus ada keputusan yang diambil, pertimbangan pertama tentu kembali ke panduan yang telah kami sepakati di awal.

Misalnya, ketika harus memutuskan apakah akan mempertahankan atau melepas seseorang, biasanya pertimbangan utama saya adalah pertanyaan ini. Sebab saya percaya setiap orang pasti punya kemampuan yang bisa berkontribusi dalam mencapai suatu visi. Saya percaya setiap orang punya kompetensinya masing-masing. Namun, kalau sudah dragging everyone down, maka sudah bertentangan dengan value. 

  1. Who needs to be in the soil (involved in this decision)?

Siapa saja yang akan dilibatkan dalam hal ini? Siapa yang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk melakukannya? Apakah tenaga kami cukup untuk melakukannya? Apakah kami memiliki resource yang cukup untuk melakukannya? 

Tidak setiap orang dilibatkan dalam setiap keputusan, karena akan kembali seperti cara konsensus yang bertele-tele. Misalnya, pengambilan keputusan untuk implementasi kurikulum prasekolah, ya, tentu tidak harus melibatkan tim movement peri bumi untuk ikut serta. Lalu dalam mempertimbangkan hal yang harus diputuskan itu pun biasanya saya pertanyakan di sini, karena mengajak orang lain untuk memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang sudah dibuat sebagai landasan pun enggak efektif untuk dilakukan.

  1. What does the ecosystem need (system thinking)?

Ekosistem di sini artinya lingkup yang terkait dengan Akar. Kenapa hal ini penting dilakukan? Apakah dampaknya cukup signifikan untuk mewujudkan kebaikan yang dicita-citakan? Apakah hal ini akan membantu ekosistem kami berkembang? Apakah hal ini akan berdampak (menguntungkan/membahayakan) pada pendidik? Staf? Orang tua murid? Anggota komunitas? Mitra? Tergantung pihak yang akan terkait dengan hal tersebut.

Misalnya, ketika memutuskan untuk mengganti beras untuk dikonsumsi anak-anak di daycare. Kami membeli beras dari beras baik, mitra kerja sama Peri Bumi, yang kami tahu berasnya ditanam di tanah yang sudah dipastikan sehat. Harganya agak lebih mahal sedikit, namun kami ingin berkontribusi juga pada kesejahteraan petani lokal dan menyejahterakan industri lokal yang baik. Selain itu, beras yang lebih sehat juga akan membuat anak-anak lebih kuat.  

  1. Can this grow more leaders (capacity building)?

Apakah hal ini akan menumbuhkan kapasitas kepemimpinan dalam diri kami? Apakah akan memberikan kesempatan bagi setiap orang dalam ekosistem AKAR untuk tumbuh dan berkembang menjadi mampu memimpin dengan lebih baik?

Kami percaya akan sistem delegasi dengan dukungan, bimbingan, sistem komunikasi dan koordinasi yang sehat, sehingga bisa benar-benar menerapkan prinsip saling sayang dan saling jaga. Misalnya, ketika pendidik menyusun konsep buku tahunan. Mereka akan berdiskusi dalam timnya, kemudian melibatkan tim desain untuk menceritakan konsep yang mereka susun, lalu berkoordinasi juga dengan tim operasional untuk teknis pelaksanaan foto. 

Jadi, keputusan utamanya ada di tangan pimpinan tim buku tahunan dari pendidik, namun dalam pelaksanaannya akan melibatkan pihak-pihak yang bisa mendukung proses produksi buku tahunan tersebut. Setiap koordinasi akan dikomunikasikan lewat working space dan tools yang bisa diakses oleh semua pihak untuk penyesuaian jadwal dan teknis. 

  1. What does my body tell me (embodied wisdom)?

Guts atau feeling ini penting didengarkan juga. Karena sering kali kita mengabaikan perasaan atau intuisi dalam mengambil keputusan. Padahal, sering digunakan akan membuat intuisi jadi terlatih dan bisa membantu pengambilan keputusan dengan lebih efektif.

Kita ini terlalu terbiasa berpikir rasional yang hanya mengandalkan otak depan saja. Betul, lebih bijak untuk melatih otak berpikir dan mengambil keputusan yang rasional, tapi emosi, guts, atau “rasa” itu juga penting untuk dilatih, supaya pada akhirnya terjadi keseimbangan antara emosi dan rasional. Sebab manusia sebetulnya dibangun oleh rasa. 

Mengambil keputusan bukan hal mudah, tapi bisa dilakukan

Betul, lima pertanyaan ini enggak akan secara otomatis membuat pengambilan keputusan jadi mudah, tapi akan membuat pengambilan keputusan jadi lebih terlatih. Sebab saya aja di rumah, sama anak-anak sudah membiasakan mereka untuk mampu mengambil keputusan sejak bayi. Tentu bertahap dan sesuai kemampuan dong. Paling mudahnya, saya membiasakan anak-anak memilih bajunya sendiri.

Menyiapkan dua opsi setelan baju dan celana di kasur dan mengajak mereka untuk memilih. Makin mereka besar, ya, semakin saya lepas mereka memilih sendiri. Pertimbangannya tentu mirip sih sama lima pertanyaan tadi. Selama enggak berbahaya, saya akan persilakan. Sehingga sekarang, ketika si sulung sudah remaja dan si bungsu sudah SD, ya, saya semakin santai hidupnya. Karena sistem distribusi kepemimpinan-tanggung jawab-pengambilan keputusannya sudah terinternalisasi dan berjalan dengan baik.

Akan selalu ada kejadian seperti memilih untuk tidur agak malam karena kepengen masak cupcake untuk dijual di sekolah. Tapi lupa beresin barang untuk berangkat pagi, sehingga paginya keburu-buru dan lupa bawa baju seragam ganti habis olahraga. Apakah lantas saya kirim seragamnya? Tentu tidak. Sila terima sendiri konsekuensi dari keputusan yang kau buat. Kan sejak awal juga sudah tahu risikonya. 

Apa lantas dia marah sama saya? Tentu tidak. Karena dia juga sejak awal sudah paham konsekuensinya. Hal yang bisa saya lakukan hanya menemani perasaannya jika dia merasa kesal sama dirinya sendiri karena kurang disiplin. MENEMANI, bukan MENGKRITIK. Biasanya saya hanya akan duduk dan memeluk. Sudah. Cukup kok buat dia juga.

Kalau anak-anak sejak kecil sudah saya biasakan agar mampu memimpin dan mengambil keputusan, masa iya orang dewasa di kantor enggak saya mampukan juga? Ini win-win solution, lho.

Karena dalam hubungan yang tercipta ini yang tumbuh adalah koneksi, sebab tidak ada yang merasa paling berkorban, dan enggak ada juga yang pasif nurut aja sama yang ngambil keputusan. 

Leave a comment

Ava Reed is the passionate and insightful blogger behind our coaching platform. With a deep commitment to personal and professional development, Ava brings a wealth of experience and expertise to our coaching programs.

About the Coach ›

Newsletter

Weekly Thoughts on Personal Development

We know that life's challenges are unique and complex for everyone. Coaching is here to help you find yourself and realize your full potential.

About the Coach ›