Ada bedanya pernyataan “Aku mengenal diriku, dan aku menerima diriku apa adanya” dengan pernyataan “Aku emang kaya begini, gak bisa diapa-apain lagi, seadanya”?
Betul, keduanya mirip, tapi, perilaku yang ditunjukkan akan jauh berbeda.
Aku emang kaya gini, gak bisa diapa-apain lagi adalah tanda bahwa seseorang enggan memasuki zona belajar yang rasanya emang enggak nyaman sama sekali buat otak. Ya menemui hal baru, dan bukan hal yang biasanya dilakukan itu kan menantang sekali lho. Enggak semua orang mau menghadapi hal itu setiap hari.
Sementara pernyataan “Aku mengenal diriku, dan aku menerima diriku apa adanya” adalah accepting. Bentuk dari vulnerability yang paham bahwa setiap kita memang unik, dan hal itu enggak apa-apa. Namun, selama kita masih hidup bersama dengan manusia lain di sebuah tatanan masyarakat, maka kita terkoneksi dan menyesuaikan diri.
Tatanan Masyarakat yang harusnya saling berpadu seolah semangkuk buah potong dengan beraneka jenis, warna, aroma, dan rasa. Kita tetap memiliki kepribadian, karakter, pandangan dan cara kita sendiri, hidup berdampingan, saling memahami, saling menyepakati solusi. Bukan jus buah, yang mencampur semua buah dalam satu gelas sehingga kehilangan identitasnya.
Saya setuju betul dengan pandangan tersebut, rasanya, dalam menjadi bagian dari sebuah society, bukan berarti kita harus kehilangan jati diri. Namun bukan juga membenarkan fixed mindset yang tidak ingin menjadi lebih baik, karena kadang, menjadi “Lebih baik” itu enggak selalu untuk fit-in dalam society, tapi justru untuk kebaikan diri sendiri.
Hidup di Hutan bersama Beruang
Dulu, mama saya sering bilang “Kalau kamu mau hidup seenaknya, tanpa aturan, enggak perlu menyesuaikan diri dan enggak mau terkoneksi, hidup aja di hutan sama beruang!”
Betul juga ya pernyataan mama itu hehe..
Hal itu diucapkan mama karena saya suka sembarangan, padahal di rumah, mama sudah membantu saya agar disiplin dengan membuat sistem yang memudahkan saya supaya bisa rapi dan (agak) lebih teratur. Misalnya setiap barang ada “Rumah” nya, maka saya mudah mengembalikan barang yang habis digunakan. Atau tiap kotak ada namanya, dia tempelin stiker untuk mempermudah saya.
Sampe bikinin notes kecil dari kertas bekas yang bisa saya gantung di leher, supaya bisa mencatat jadi enggak mudah lupa. Juga membiasakan menyiapkan semua barang sejak malam, jadi paginya enggak terburu-buru. Pokoknya rumah saya adalah rumah yang sangat sistematis dan berjalan dengan lancar, sehingga anak ADHD nya ini terbantu banget bisa mandiri.
Alasannya adalah karena saya kelak akan hidup bersama orang lain, entah ketika kuliah atau menikah, atau dimanapun saya berada, dan jangan berharap untuk selalu dimaklumi. Betul, kita mendorong dunia yang inklusif, yang bisa memfasilitasi banyak kepentingan dari setiap cara manusia, dan saya harus tetap berdiri tegak bersama boundaries. Namun, saya yang disable ini juga harus bisa beradaptasi dengan lingkungan, enggak selalu minta dimaklumi. Rasanya, begitulah prinsip saling sayang dan saling jaga berjalan. Enggak berat sebelah…
Berlatih menjadi Pemimpin, tanpa disadari
Waktu kecil, saya enggak pernah menyadari bahwa sistem yang segala-galanya terintegrasi ciptaan mama saya di rumah itu akan membuat saya ternyata jadi punya kemampuan dasar untuk menjadi pemimpin. Boro-boro sadar, kan udah segitu bagus aja sistemnya saya-nya mah masih aja harus diingetin terus.
Saya baru sadar ketika kuliah, dan hidup sendiri, betapa pentingnya sistem yang dibangun mama saya dalam menjalani kehidupan sendiri. Saya jadi gak kehilangan barang, dan bisa berkolaborasi dengan teman-teman serumah dalam berbagi tugas serta membuat rumah tetap rapi dan cukup teratur.
Saya, yang biasanya sembarangan ini, ternyata justru jadi bisa dengan mudahnya bikin perencanaan, bikin strategi, memahami masalah dan mencari solusi dari cara berpikir yang lebih terstruktur di jaman kuliah. Ternyata ketika sudah menjalani dunia yang sebenarnya, saya bukan hanya adaptif, namun justru bisa berpikir sistematis. WOW. Kadang juga masih suka enggak percaya juga, lho.
Akhirnya saya jadi mikir juga kan, begitu punya anak, hmmm….bagaimana ya caranya bisa membuat sistem yang rapi seperti yang mama bikin? Saya berupaya menggali-gali ingatan pelan-pelan sih. Hingga akhirnya bisa jadi sistem yang cukup rapi dan tentunya terus berproses sekarang di saat anak-anak sudah berusia 14 dan 7 tahun.

Budaya menjadi Pemimpin dari Rumah
Betul, saya membuat sistem dengan tujuan yang mirip dengan mama. Supaya anak-anak saya bisa thrive di dunia yang kejam ini. Betul, saya juga setiap hari mengupayakan agar dunia bisa semakin ramah lagi untuk semua orang, dan lebih inklusif. Namun saya juga sadar betul, tidak mudah membuat society enggak membuat standardisasi yang terus menerus harus diukur dengan angka, karena angka sebagai tolak ukur, tentu lebih mudah dilakukan karena enggak perlu customize.
Saya enggak bisa memaksakan dunia memahami cara berpikir saya, dan keluarga saya, maka mari kita beradaptasi dengan dunia. Mencari cara yang setidaknya cukup bearable untuk hidup di society, tapi tetap merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Enggak perlu merasa bersalah karena “beda”. Bahkan bisa berpikir dalam jangkauan yang lebih luas, karena mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang luas.
Lagipula, sepertinya kita juga harus sama-sama memahami mengenai definisi “Pemimpin” yang tidak selalu bermakna “CEO” atau “Presiden” atau orang yang berada di depan dan memimpin suatu barisan yang mengikuti arah saja tanpa tau mau diajak kemana. Sepertinya udah usang ya definisi kaya gitu tuh..
Bagi saya, pemimpin justru merupakan mereka yang berdiri dibawah yang lain. Memberikan kompas bukan peta, lalu menyepakati tujuan akhirnya. Sehingga kelompok yang berjalan bersamanya bisa memilih jalan yang terbaik untuk sampai di tujuan tersebut. Pemimpin adalah seseorang yang bisa berpikir strategis dan sistematis.
Artinya menjadi pemimpin itu enggak selalu untuk kelompok besar, tapi bisa untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkup yang paling dekat dengan hidupnya. Kebayang ya, kaya sistem MLM gitu lho. Jadi bisa terus menyebarkan nilai kebaikan, dan menjadikan semua orang punya kemampuan untuk melakukannya, karena kita semua sebetulnya adalah pemimpin.
Menyepakati Nilai, sehingga lebih dekat dan erat
Maka, saya membuat sistem yang mirip sistem yang saya terapkan juga di AKAR. Karena landasannya toh sama-sama koneksi. Hanya yang dirumah jauh lebih sederhana. Kami membiasakan untuk duduk bersama di bulan Desember untuk melakukan review satu tahun, apa saja yang sudah terjadi dan refleksi dengan bantuan catatan-catatan yang emang kami buat setiap sepekan sekali.
Setelah itu, kami akan menyepakati goals untuk tahun depan. Biasanya kami akan memilih 3 goals besar (Northern Star) yang kemudian diturunkan menjadi objective-objective, kemudian diturunkan lagi dalam bentuk daily habits, lalu bikin tracker-nya deh.
Karena ini berkaitan dengan anak-anak, maka saya enggak bisa membuat tracker digital yang membuat mereka harus mengakses layar secara eksesif. Saya buat dalam bentuk cetak sehingga mereka bisa checklist tiap hari. Kemudian setiap hari minggu akan saya recap dalam spreadsheet habit tracker sambil weekly meeting bareng mereka.
Hal-hal yang kami bahas setiap akhir pekan adalah recap satu minggu ini, ritual yang kami lakukan setiap hari, membahas hasil tracker; hal apa yang paling menantang, hal apa yang menyenangkan, hal lucu apa yang terjadi, dan kejadian apa yang diingat dalam sepekan.
Semua bentuknya kesepakatan, bukan aturan. Karena saya BENCI banget diatur-atur, saya maunya pendapat saya juga didengar. Saya mau kebutuhan dan keinginan bisa disepakati, agar semua berhak bersuara.
Saya sering ketemu orang-orang yang ternyata kesulitan berpikir dari sudut pandang luas lalu di kerucutkan menjadi daily tasks. Saya sering ketemu mereka yang menjalani hidup dari jam ke jam aja, padahal punya daya dan kemampuan untuk membuat rencana, namun memilih untuk enggak membuat.
Membuat value kehidupan dan tujuan hidup bisa dijalankan dengan menyenangkan: Lewat Micro Habits

Padahal, karena saya banyak belajr soal cara kerja otak nih, tau gak, bahwa otak kita itu suka banget sama micro-habits?? Big Goals trigger resistance, microhabits bypass it. Kebayang gak? Misalnya mencanangkan tujuan hidup: Mengubah dunia! *Begidik siapa yang enggak mundur dong membayangkannya?
Kalau tahun ini punya rencana baca buku lebih banyak, ketimbang menuliskan “30 halaman sehari” lebih baik disederhanakan lagi jadi “Baca 1 halaman setelah sarapan”. Nah, otak kita itu suka banget sama kemenangan-kemenanga kecil. Jadi setiap kali kita sudah bisa menyelesaikan microhabit, ada dopamine yang dirilis sama otak sehingga membuat kita kepengen lagi melakukannya.
Ini yang bikin 1 halaman bisa jadi 5 halaman, bahkan bisa jadi 10 halaman. Ceklis itu MENYENANGKAN! Prinsipnya adalah start small → stack easy → Build Big! Namun ya, checklist adalah alat untuk membantu otak kepengen ngejar tujuan besar, bukan dilakukan sekadarnya aja. Kalau seperti itu, biasanya jadi rigid dan malahan nambah stress baru, bukannya jadi mindful.
Saya juga gak mau menjalani hidup yang rigid kaya mesin di pabrik. Saya enggak mau kalau tracker bentuknya bikin anak-anak saya jadi robot, yang melakukan sesuatu hanya karena harus ceklis. Justru mereka paham bahwa ceklis yang dilakukannya itu punya tujuan yang lebih besar, untuk hidup mereka sendiri. Mereka juga paham bahwa semua ritual dan kebiasaan yang kami pilih bersama itu adalah bentuk nilai, yang semuanya dilakukan berlandaskan koneksi untuk prinsip saling sayang dan saling jaga, berdiri di atas nilai kebenaran dan kebaikan.
Tujuan hidup ini penting untuk punya tempat kembali. Sayangnya saya sering banget nemuin orang yang menjalani kehidupan tanpa tujuan dan makna. Rasanya, ini yang bikin kita semua jadi mudah terputus dan enggak bisa memahami cara kerja dunia dengan lebih luas dan mampu beradaptasi dengan berbagai perbedaan.
Iya, memang lebih mudah bikin sistem yang dilakukan dengan menggunakan framework angka, sekadar ceklis tanpa makna. Lebih mudah membuat jus buah ketimbang buah potong. Tapi, buat apa hidup kalau hanya memilih melakukan yang mudah hanya dengan alasan “Ya emang biasanya juga begini” atau “Ya emang gue orangnya kaya gini”
Kalau begitu jangan protes ya sama kondisi dunia yang carut marut ini, karena kamu juga enggak mau melakukan apapun, kan?

Leave a comment