Less Alone: Ketika Oasis Jadi CPR untuk Jiwa yang Tercerai-berai

Foto dari Instagram @Oasis

Ada momen dalam hidup yang seperti CPR—mengembalikan napas yang hampir hilang. Bagi saya, itu terjadi di Tokyo Dome, 26 Oktober 2025.

Setelah beberapa kali menulis soal Oasis karena tenggelam dalam euphorianya pasca main ke London dan Manchester tahun ini, akhirnya…hadir juga di gig reuninya. Istimewanya kali ini adalah: hadir lengkap sama Poe, Abib, dan Ara. Wow. SUNGGUH MENGGEMBIRAKAN!! Rasanya enggak akan terjadi kalau nontonnya bukan di Tokyo.

Saya sendiri sebetulnya lebih ingin nonton di UK atau di Australia deh minimal. Tapi aturannya gak boleh bawa anak kecil di bawah 14 tahun. Sementara di Jepang, boleh bawa anak 6 tahun ke atas. Ya karena jelas aman banget konsernya, ada kursi segala di festivalnya. Hahaha…

Setelah keribetan nyari tiket, untungnya ada temannya Rima di Tokyo yang bisa beliin pake akses orang Jepang, dapet deh 4 tiket festival!

Kaya jodohnya emang sih ya, Si Poe tiba-tiba terpilih hackathon di Shanghai beberapa hari sebelum tanggal konser, yang bikin kami emang gapunya pilihan lain selain Tokyo di tanggal 26 Oktober. Rima yang hilang, tiba-tiba kembali di saat kami lagi pusing nyari tiket konser. Segala sesuatunya jadi terasa mudah, kayanya memang sudah jodohnya harus hadir di Tokyo Dome saat itu.

Transmisi Nilai Lewat Musik

Kenapa sih harus ngajak anak-anak? Gak harus sih, tapi mereka yang pengen ikutan.

Kenapa juga anak-anak pengen ikutan? Mungkin karena mereka udah terbiasa dengerin lagu-lagu Oasis dari ibu bapaknya hampir tiap hari. Saya juga banyak cerita dan suka nontonin Youtube konsernya di rumah sama mereka.

Hal yang paling banyak saya ceritakan sebetulnya adalah soal perjalanan 5 pria dari wilayah kecil kampung di Manchester yang berasal dari working class, hidup susah, tapi punya semangat tinggi sampai akhirnya bisa menggapai cita-cita jadi band besar yang mempengaruhi hidup banyak orang di dunia.

Saya juga menceritakan, karena baca hampir semua autobiography Oasis, bahwa meski mereka berasal dari keluarga yang tidak harmonis, dengan bapak yang suka mukulin, tapi mereka enggak bikin lagu yang liriknya bikin orang pengen bunuh diri kaya Nirvana. Lagu-lagu Oasis yang sarat nuansa The Beatles mix sama The Stone Roses dan penuh sama layer-layer rhythm-melodi dari gitar andalan Noel Gallagher itu punya lirik yang—meski kepotong-potong per dua baris kalimat kaya pola pantun Indonesia—isinya menyemangati orang.

Kalimat hangat yang bikin hidup jadi lebih bermakna di setiap layer-nya.

Dari Heartbreak 2009 ke Euphoria 2024

Mendengarkan lagu-lagu Oasis sejak album kedua di 1996, sampai hari ini, membuat saya patah hati sekali waktu baca pernyataan Noel meninggalkan Oasis karena gak mau lagi bekerja bareng adiknya, Liam, di 2009. Saat itu memang album-albumnya juga udah ga gereget dan gignya kacau balau.

Bertahun-tahun setelahnya mereka jalan masing-masing dengan solo kariernya. Secercah harapan muncul saat belakangan di wawancara-wawancaranya, Liam mulai gak galak mencela Noel. Lagu “One of Us” nya Liam juga bikin sedih, karena saya juga berharap mereka bisa gabung lagi. Ketika mereka mengumumkan Oasis 25 di 2024, rasanya bergelora banget. FINALLY!!

Fenomena Generasi Baru

Ada hal yang bikin saya cukup kaget. Tiket mereka sold out di semua negara rasanya enggak terlalu mengejutkan, karena ya pasti banyak fans yang kek saya, emang nunggu banget mereka ngumpul lagi. Tapi yang bikin saya kaget, fansnya bergeser ke anak-anak muda 20-an. Lho kirain angkatan saya doang yang nonton…

Soalnya belakangan, pasca pandemi, kan berasa ya band-band tua pada tour keliling dunia lagi. Band seperti Green Day, Foo Fighters, Smashing Pumpkins dll itu bahkan dateng ke Indonesia. Tapi yang saya liat sih sepertinya sepi aja ya penontonnya. Enggak gegap gempita kaya Oasis. Penontonnya juga kebanyakan ya angkatan saya dan di atas saya, yang postingannya pasca konser: sakit pinggang, pegal-pegal dan kecapean.

Tapi ngeliat euphoria Oasis sih beda. Mereka menggandeng banyak brand, dan bahkan Adidas bikin merchandise official Oasis di seluruh dunia, yang laku banget. Dan yang mengagumkan ya itu: penontonnya anak muda yang keknya pas Oasis sedang jaya-jayanya menjuarai billboard dunia, mereka aja belum lahir.

Penasaran banget saya, lama-lama keliatan juga pattern-nya. Ternyata ada strategi brilian di balik comeback ini. Anak-anaknya Liam dan Noel ini masih muda, dan mereka sekarang nepo babies yang terkenal juga. Ada yang model, punya band, dan satu hal sih: mereka rajin banget posting soal Oasis di kanal media sosialnya masing-masing. Mereka juga di 2024 makin aktif bermunculan bersama, jadi headline media mainstream, bahkan menerima banyak tawaran interview sebagai koalisi persepupuan yang akur.

Wow, hebat juga ya caranya. Ini bukan sekadar reunion, tapi regenerasi fandom yang dikelola dengan cerdas. Padahal selama bertahun-tahun itu, Noel dengan santainya di London kemana-mana naik Tube dan sepeda, gak ada penjagaan. Gak ada juga yang ngurusin, karena meski dia masih tour dengan High Flying Birds-nya, tapi ya dia lama kelamaan semu juga keberadaannya.

Di era tour 25 ini tiba-tiba banyak fandom anak muda yang nyari dia, minta foto dan tanda tangan, bahkan posting dengan caption “He’s so cute…” atau “He’s so adorable.” Damn girls, he’s like 58 years old now. Hahahaha…

What It Means to Be a Fan

Bicara soal being a fan, well, saya mungkin termasuk die hard fan, tapi saya bukan fan yang nyari band karena mereka ganteng hahaha… duh gimana sih ya? Saya suka pemain film kaya Denzel Washington, Matthew McConaughey, Jared Leto, Al Pacino gitu karena gila sih aktingnya. Saya suka band juga karena musik dan gignya.

Iya, saya nonton interviewnya dan baca autobiography atau biografinya karena pengen tau cerita dari karya yang dibuatnya, pengen tau proses kreatifnya, pengen tau latar belakangnya, lalu terinspirasi dan siapa tau ada yang bisa saya adaptasi jadi karya lain.

Ganteng itu bonus sih, ada tayangan yang saya tonton cuma karena kegantengan kaya Emily in Paris. Tapi ya emang seriesnya juga gak saya puji, cerita hidupnya juga gak saya cari, kan nontonnya cuma karena pengen hiburan liat yang ganteng hahaha…

Gak bermakna.

Setiap langkah Oasis sejak awal hingga mereka jadi band besar tu sangat menarik buat diulik. Menikmati karyanya sambil banyak terinspirasi. Kebetulan hidupnya relate banget sama hidup saya, karena itu juga mungkin saya relate banget sama karyanya. Makanya memaknai lagu-lagu mereka jadi dalem banget buat saya.

Oasis: Teman di Masa-masa Berat

Lagu-lagu ciptaan Noel di tiga album pertama, dan ciptaan keroyokan di dua album setelahnya itu banyak menemani langkah berat saya di masa kecil dan remaja. Saat saya sering banget merasa hilang harapan, kaya gak tau apa sih alasan saya hidup dan gagal memaknai kejadian-kejadian. Lagu-lagu itu bikin saya mikir ulang soal hidup dan pelan-pelan membantu saya untuk paham bahwa merasakan emosi itu boleh, tapi larut dan patah arang itu bukan opsi.

Noel yang dyslexia, stuttered, dan lebih banyak menyendiri, bengong, ngulik lagu, diem-diem charity, strategis dan pinter nyari cara buat ngejar goals itu bikin saya banyak belajar. Oasis jadi teman yang banyak membangun rasa di otak saya yang seadanya banget ini.

Mulut saya yang kalo ngomong gak mikir, keberanian saya mempertanyakan kejanggalan yang orang lain ga berani tanyakan, saya yang selalu memilih jadi diri sendiri no matter what, saya yang ga pengen berupaya ngikutin orang cuma supaya disukai, tentu di mata society: aneh dan nyebelin.

Tapi Noel dan Liam dengan santainya melakukan itu. Why bother?

Malam yang Menyembuhkan

Berdiri di tengah penuhnya Tokyo Dome selama dua jam di hari Minggu bersejarah itu rasanya kaya mimpi. Meski konsernya enggak se-seru di negara lain dari video-video yang saya liat di linimasa sosial media, tapi gak masalah sih buat saya. Karena saya gak mengejar kesempurnaan nonton konser. Saya yakin kalo emang jodoh, akan ada jalannya saya bisa ngobrol langsung sama mereka buat bahas cerita seisi dunia.

Tapi hari itu, saya jadi Yasmina kecil yang dulu jiwanya sering melayang gak tau kemana karena gak berani hadir di badannya sendiri. Yasmina yang sering hilang harapan sama hidup dan ditenangkan sama “The Masterplan” atau “Don’t Look Back in Anger.”

Hari itu saya bisa teriak “Maybe I just wanna fly, wanna live, I don’t wanna die” sepenuh jiwa raga.

Rasanya Yasmina kecil yang sering merasa sendirian, jadi less alone dan percaya lagi kalo hidup itu emang penuh dengan ketidaktahuan, tapi gapapa, percaya aja kalau kita ini bagian dari sebuah masterplan yang paling baik buat kita.

Gig Oasis 25 ini secara musikalitas juga terdengar lebih rapi, dan lebih firm. Meski suara Liam berasa napasnya jadi lebih pendek motong nada dibanding biasanya, dan Bonehead ga hadir di Jepang karena harus terapi kankernya, tapi setlist dan layar panggungnya mega sekali!

Oasis bukan band seperti Coldplay yang meriah dan banyak gimmick, gak ada Chris Martin yang lari-lari kaya kijang dari ujung ke ujung. Panggungnya juga dibuat cukup berjarak sama audiens (kayanya selain Noel yang emang sering ga nyaman sama panggung intimate, beberapa kali diseruduk penonton juga bikin mereka belajar). Tapi memang ekspektasi nonton Oasis ya bukan seperti ekspektasi nonton Coldplay ya.

Menikmati rhythm dan melodi yang mengiringi suara spekta Liam adalah ekspektasinya. Melihat duo maut yang sejarahnya suka ribut itu berpelukan dan menunjukkan kalo mereka akur itu bonus aja, chemistry yang bikin suasana jadi lebih menyenangkan. Buat saya, hadir di gig, apalagi bareng significant others yang bahkan semuanya bisa nyanyi bareng, melihat Noel main gitar sepenuh jiwa raga, dan merasakan setiap lagunya hingga menstimulasi semua sensori saya adalah goal-nya.

Hari itu, Minggu, 26 Oktober 2025, goal tersebut achieved. Sebuah hadiah dari Tuhan untuk mengobati pedihnya 2025 yang penuh kehilangan dan babak belur dihajar kehidupan.

Pulang dengan Jiwa yang Utuh Kembali

Konser selesai di jam 8 malam, masih sangat dini sehingga kami masih sempat masak dan makan malam bareng di apartemen sebelum akhirnya semua terlelap dengan nyenyak di jam tidur yang tidak terlalu larut. Bahkan saya masih sempat packing, karena besoknya kami langsung pulang ke Jakarta.

Meskipun seperti biasa, saya agak susah tidur, ditambah rasanya masih penuh banget dada ini. Jadi saya menyempatkan duduk dulu di balkon, minum hangat, sambil memandangi langit Tokyo di hadapan Tokyo Tree Tower yang cahayanya agak memendar karena ditempa kabut. Diam, melamun, dan air mata tiba-tiba mengalir deras.

Bahagia sekali rasanya malam itu, jiwa 2025 yang tercerai-berai seperti pecahan puzzle yang terserak berantakan mulai berkumpul kembali. Sesak dan beratnya melalui Januari sampai Oktober tahun ini rasanya lenyap dan tergantikan rasa syukur yang gak habis-habis. Hiperbola? Boleh aja bilang gitu, silakan. Tapi kalau kamu yang tau banget apa yang kulalui tahun ini, kamu pasti enggak akan komentar apa-apa selain “Ikut bahagia ya, Yasmina…”

Cerita ini memang bukan tentang Oasis. Cerita ini tentang Yasmina yang napasnya pendek tapi semangatnya panjang. Yasmina yang sekarang sudah berani tampil vulnerable dan banyak perasaannya. Oasis adalah katalis buat segala rasa itu, dan CPR untuk bantu napas jadi agak lebih panjang dari biasanya.

Terima kasih karena kalian tampil bersama lagi ya the Gallaghers. Terima kasih karena sudah menciptakan karya yang luar biasa. Semoga segala kebaikan itu dibalas dengan banyak kebaikan lagi buat kalian. Percayalah, enggak ada karya yang sia-sia,

….dan benar kata Noel: “People will never, ever forget the way you made them feel.”
I will never ever forget how you made me feel that night.

All we know is that we don’t know
How it’s gonna be
Please, brother, let it be
Life on the other hand
Won’t make us understand
We’re all part of a master plan…

English version of this piece

Leave a comment

Ava Reed is the passionate and insightful blogger behind our coaching platform. With a deep commitment to personal and professional development, Ava brings a wealth of experience and expertise to our coaching programs.

About the Coach ›

Newsletter

Weekly Thoughts on Personal Development

We know that life's challenges are unique and complex for everyone. Coaching is here to help you find yourself and realize your full potential.

About the Coach ›