Sebetulnya saya selalu mempertanyakan, kenapa biasanya baik di organisasi, maupun perusahaan, struktur kepemimpinan itu selalu menempatkan mereka yang berada di posisi “Leaders” diatas dan strukturnya berbentuk hierarki turun kebawah?
Apakah karena sebutannya selalu “Atasan” dan “Bawahan”? Atau karena disebut “Kepala/Heads” maka ya seperti tubuh manusia, maka tentu saja tempatnya ada di atas?
Padahal kan saya sering dengar bahwa pemimpin terbaik adalah mereka yang memastikan seluruh anggota tim-nya sejahtera dan merasa aman. Saya kok rancu dengan “pemimpin” nya ditaro diatas, berarti kakinya ada di atas kepala “bawahan” nya dong ya? Hehehe
Soalnya kalau imam sholat kan tempatnya di depan tuh, bukan di atas. Menurut saya masih make sense, kaya pemimpin perang gitu kan, dia yang ada di barisan depan, siap menghadang duluan. (well, meski di masjid sih pintunya di belakang ya hehehe)
Tapi anyway, itu kan hanya simbol ya. Meski pada akhirnya menurut saya, kalau di AKAR Family, jadi penting, sebab kami kan banyak menggunakan prinsip-prinsip koneksi, dan kami banyak bercerita bahwa cara kami bekerja seperti akar pohon bekerja. Artinya, mereka yang tugasnya memastikan pohon tumbuh dengan subur, adalah AKAR nya. Betul, baik batang, daun, ranting juga punya peran yang sangat penting dalam menjaga pohon yang tumbuh dengan subur, tapi akar yang menyangga dan memastikan semua bagian pohon dapat makan yang cukup.

Maka kami justru menempatkan saya, dan sobat-sobat kepemimpinan di bawah tanah, sebagai AKAR. Karena tanggung jawab kami yang paling besar untuk memastikan semua bisa bertumbuh bersama dan memanfaatkan setiap resources yang kami punya. Jadi, iya, justru saya ada di paling bawah, di dalam tanah.
Sedikit cuplikan kalimat manis yang kami percaya di AKAR:
Every part of a tree works together.
From the deepest roots that burrow through the earth to the smallest leaf on the highest branch, every part of a tree works hard to help it survive.
Secret ROOTS
In the damp, dark world below, roots spread through the soil, forming a woody network. Up to a third of the tree is hidden underground.
Trees do most things slowly, but they drink so fast! A big tree can suck in hundreds of liters of water from the soil every day.
Tree Roots are very sensitive. They can sense soil pollution and avoid it by growing in a different direction.
Roots have two main jobs. First, they hold the tree firmly in the ground so it will not blow over in a storm. Second, they draw up water containing minerals from the soil so the leaves can make food.
Rabbits and tiny creatures such as worms and beetles live among the roots.
The primary roots divide into smaller ones. The smaller ones at the end of the root are called rootlets. They are covered in fine hairs that can sense water.
So, BE A TREE
Stand tall. Stretch your branches to the sun. let your roots curl and coil in the soil, grounding you. Your spine is a trunk, giving you shape, holding your crown, channeling your food.
Your skin is bark: dead on the outside, protecting what’s within. Beneath your bark are layers, such as sapwood, carrying nutrients to help you grow bigger and taller, and heartwood, strong as bone, to support you.
In your heart’s center is your pith, keeper of nutrients, when you were a sapling. High above, your crown may be round, weeping, pyramidal, or broad. Let it spread and shine overhead, collecting sun-filtering dust and shading your roots on hot days.
Wave your leaves in the wind, breathe in the air, drink in the sun, and let them fuel you and the world. See yourself, branches and leaves above, roots below, trunk in-between:
So, be a tree, for together, we are a forest.
Apakah kata “Kepemimpinan” adalah penyebabnya?
Apa iya sebutan “pemimpin” yang sebetulnya membuat kita terus menerus membangun hierarki padahal katanya kita ingin tumbuh bersama dalam sebuah komunitas? Mungkin itu juga yang membuat banyak pemimpin seringkali mengeluhkan bahwa dirinya merasa kesepian being “on top” meski dirinya dikelilingi oleh banyak orang…?
Menyebutkan “Leadership” jadi menciptakan leaders dan followers, top dan bottom, power dan powerless. Akhirnya seolah-olah menciptakan disparitas yang renggang antara leaders dengan semua orang lain. Karena, apa ya, beda golongan? Beda kasta? Padahal kan sama-sama manusia, sama-sama bisa benar dan bisa salah, sama-sama butuh makan, dan harusnya sama-sama punya keinginan untuk mencapai visi kebaikan barengan.
Oke, diksi mungkin sesuatu yang agak lebih sulit diubah. Mari kita geser aja ke pemaknaan deh.
Makna kepemimpinan khas Indonesia yang seharusnya diterapkan
Di Indonesia, dulu, Ki Hadjar Dewantara membuat sebaris kalimat yang sebetulnya punya makna mendalam untuk menjelaskan soal kepemimpinan: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani
“Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi daya kekuatan”, karena kami percaya bahwa tujuan kami di AKAR adalah memberikan setiap orang pemberdayaan dan kesempatan untuk menjadi pemimpin sesuai kapasitas dan kompetensinya. Hal itu juga yang akhirnya tertuang di Genuine Leadership, bahwa setiap orang punya perannya, dan berada dimanapun Ia, ya Ia adalah pemimpin yang kontribusinya enggak sedikit. Kerjanya bareng-bareng, dan enggak cuma bisa ngasih perintah doang.
Keberadaannya justru bisa bikin ruang aman bagi semua, bukan malah bikin semua orang ketakutan karena merasa “powerless”, memberikan ruang yang inklusif bukan artinya membiarkan orang-orang seenaknya, tapi coba dibalik sedikit POV nya jangan mikir jelek terus: Kalau diberikan ruang aman, maka seseorang akan bisa lebih memahami visi dan tujuan sehingga ingin bisa berkontribusi, kan?
Di Indonesia juga ada prinsip “Gotong Royong”, betul, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa gotong royong itu adalah intrik bikinan kolonial yang dengan sengaja bikin kita terus saling bantu sehingga semua saling akur dalam komunitas, jadi enggak perlu ada yang “bunyi” dan menciptakan keributan, maka mereka bisa merenggut habis harta kekayaan Indonesia.
Anomali selalu terjadi sih, saya percaya. Mangan ora mangan asal kumpul itu LAPER! Jadi, kalau orang udah menderita juga pasti bunyi dan justru gotong royong untuk melawan, kan..
Sayangnya di Indonesia ini kan kuat banget ya rasa “Abdikrat” nya, mungkin karena sistem kita dari dulu adalah kerajaan yang dimpimpin oleh yang paling agung dan hamba-hambanya, kemudian kolonialisme masuk, yang diberi kesempatan lebih juga hanya golongan istana, sisanya ya jalan pake lutut aja.
Mungkin rekam jejak sistem kepemimpinan seperti ini yang menempel di otak kita, sehingga menjadi trauma society dan mewajarkan bahwa pemimpin dimanapun itu layaknya raja: Disembah. Padahal di agama saya, ada larangan menyembah selain Allah. Musyrik, tau!
Akhirnya justru membuat orang-orang menjalankan hidup tanpa tujuan. Gak punya visi, dan hidup sekadarnya aja. Sisanya ya menghamba aja sama pimpinan. Duh, Tuhan,
Sebuah Ekosistem yang Bertumbuh Bersama
Menceritakan soal “Kepemimpinan” yang genuine sehingga bisa membuat sebuah ekosistem terkoneksi selayaknya kebun dan hutan alami itu, saya paham, susahnya setengah mati. Karena otak manusia JAUH LEBIH CANGGIH ketimbang pohon yang harfiahnya gak punya organ yang disebut “otak”.
(Gatel banget sebetulnya pengen nulis: Meski cara kerja akar pohon itu mirip banget sama cara kerja neuron di otak, tapi yaudahlah, nanti kepanjangan hahahha)

Saya selalu merasa kagum melihat cara kerja hutan alami, yang sebetulnya lebih terkoneksi daripada manusia. Padahal, manusia ini kebutuhan koneksinya tinggi banget, tapi seringkali diabaikan, ya karena sirkuit otaknya yang rumit, bukannya di untangled, malah diuwel-uwel dan dikubur supaya enggak kelihatan.
Percaya deh, singa aja bagi tugas lho di pack-nya. Betina nyari makan dan ngurus anak, Jantan memastikan kelompoknya aman di tempat yang mereka pilih. Kok kita tamak banget sih?
Saya malah jadi kepikiran pengen ngeganti aja diksi “Leading” dengan “Gardening”. Ya karena rasanya lebih hangat enggak seperti berjarak. Ya gak? “Soil preparation” untuk mengganti “Management” atau “Root Work” untuk mengganti “Strategy” rasanya lebih cocok untuk menggambarkan “Tumbuh Bersama”
Tapi yasudah, ketimbang saya yapping terus, bisa tambah panjang, biarlah nanti otak berisik saya dan teman-teman di AKAR menentukan bersama, apakah kami pada akhirnya akan mengubah diksi atau hanya mengelaborasi maknanya aja. Hehehe..
Nah, karena daritadi saya nulis ini itu soal diksi, simbol, dan makna kepemimpinan, saya beneran nanya nih. Karena saya juga sebetulnya enggak punya jawabannya. Hal yang saya tau hanya: Kata yang kita gunakan akan membentuk dunia yang kita bentuk. Jadi, kata-kata seperti apa yang akan kamu gunakan untuk membangun dunia yang ingin kamu bangun?
Komen-komen ya, siapa tau kita bisa ngobrol lebih banyak..

Leave a comment