Melandasi hidup dengan value kebenaran dan kebaikan

Sejak kecil, kedua orang tua saya selalu mengajarkan dan membiasakan dua anaknya untuk menjalankan kehidupan dengan tuntunan value. Tentu breakdown dari value agama, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang bukan hanya soal ritual, namun justru tentang pengamalan.

Mereka selalu bilang: Agama, pengetahuan dan Keterampilan seharusnya tidak memisahkan kita dengan kehidupan nyata.

Sebab seharusnya semua itu terintegrasi. Mereka selalu memberikan contoh: tubuh kita.

Bahwa dari ujung rambut hingga ujung jari kaki semua saling terintegrasi, bukan sistem yang terpisah. Saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.

Maka artinya, pengamalan nilai harus diterapkan dalam setiap aspek, tanpa kecuali.

Mudahnya, mereka selalu mengulang “Kebenaran dan Kebaikan”. Artinya, ketika saya harus berhadapan dengan sebuah situasi yang membutuhkan pengambilan Keputusan yang cukup rumit, tapi harus cepat, ingat saja prinsip kebaikan dan kebenaran.

Karena baik agama, maupun ilmu pengetahuan dan segala keterampilan yang dimiliki itu harusnya terinternalisasi dalam diri, melekat di otak dan dibuktikan dalam perbuatan. Jadi tidak perlu sibuk mencari-cari dalil atau teori, ketika harus mengambil Keputusan, namun ingat saja, semua itu adalah tentang kebenaran dan kebaikan.

**

Meskipun demikian, mama pernah bilang: “Mudah menyebutkan dan menarasikan dua nilai ini dengan kata-kata manis, tapi percayalah yas, menjalankannya tidak akan pernah mudah…”

Membela yang benar, bukan membela yang dekat.

Mendahulukan kebenaran, diatas kepentingan.

Menomorsatukan kebaikan, diatas segala tekanan.

Kalimat rancu yang debatable.

Karena saya paham, bahwa kebenaran tidak mutlak, namun begitu juga kedekatan.

Apalagi kepentingan…

Baik untuk kita, belum tentu baik untuk orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Karena itu, yang pertama harus di samakan adalah nilai-nilai yang dianut Bersama, nilai-nilai yang dipercaya Bersama, sepakat akan nilai-nilai tersebut untuk dijalankan oleh siapapun kapanpun tanpa kecuali.

Kita ini manusia, bukan mesin. Tidak akan ada standar yang diterapkan tanpa pengecualian, sulit sekali menerapkan aturan tanpa dilandasi rasa kemanusiaan.

Karena itu, Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita untuk mengolah empat hal: Raga, Karsa, Rasa, dan Pikir. Karena itu kerangka berpikir besar manusia, bukan hanya dari satu sisi, tapi ada begitu banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan.

Cara kita dalam mengkomunikasikan Keputusan pun harus disesuaikan dengan siapa yang dihadapi, meski keputusannya ya tegas saja, sesuai nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.

Di kelas Leadership dari Fellowship OMLAS, saya belajar mengenai Colors model dalam Leadership Style, berikut ini:

Intinya adalah; setiap pemimpin harus belajar untuk bekerja dan bicara dengan seluruh warna sesuai audiens-nya, tidak hanya menggunakan cara/diksi yang membuat kita nyaman aja.

Iya, bicara kepada audiens menggunakan Bahasa mereka.

Jika menghadapi mereka yang vulnerable dan butuh pelindung, maka bicaralah dengan Bahasa ungu. Jika ada kejadian yang membutuhkan ketegasan, maka bicaralah dengan Bahasa merah penuh keberanian dan melakukan konfrontasi untuk menunjukkan bahwa landasan Keputusan yang dibuat adalah kebenaran.

Bahasa biru adalah tentang mengkomunikasikan aturan atau kesepakatan, seperti pilot yang harus mengkomunikasikan tata laksana menjadi penumpang pesawat, mengenai hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh. Sementara orange adalah Bahasa penuh motivasi yang diungkapkan ketika kita sedang mengejar suatu tujuan Bersama.

Jika audiens berada dalam situasi kolaborasi, maka tunjukkan Bahasa hijau yang menyatakan bahwa we leave no one behind. Bahasa kuning digunakan untuk menceritakan soal inovasi dan Bahasa turquoise digunakan ketika menceritakan atau membahas soal pengintegrasian; diksi yang menceritakan soal menghubungkan seluruh sistem.

Sebab motivasi setiap orang berbeda-beda dan tidak harus disamaratakan. Kalau Catharine Hayhoe dalam bukunya Saving Us, bercerita mengenai cara menceritakan soal krisis iklim sesuai dengan fokus atau hal yang dianggap krusial dalam kehidupan audiens-nya.

Orang-orang yang rajin beribadah, akan lebih berminat jika mendengar storytelling dari sudut pandang agama. Sementara anak-anak muda akan lebih nyaman mendengarkan cerita yang relevan dengan kehidupan yang mereka Jalani. Seperti kami di PERI BUMI menginisiasi Gerakan untuk mengajak para ibu, maka kami mengajak audiens untuk bergandengan tangan Bersama-sama untuk masa depan anak-anak, karena ya fokus utama para ibu kan anaknya.

Itu adalah cara. Upaya yang dilakukan dalam mengkomunikasikan value yang dipercaya. Buat saya, cara saya mengkomunikasikan value kebenaran dan kebaikan.

Karena itulah, sebelum saya memikirkan apapun, sebelum menginisiasi apapun, yang pertama saya buat adalah landasan nilai dalam visi misi yang akan dipercaya Bersama anggota tim, maupun Bersama dengan audiens nya nanti. Nilai dulu. Kalau di bisnis ini bentuknya Northern Star Goals yang dibuat dengan seluruh mimpi sebagai tujuan utama sebuah inisiasi.

Setelah itu baru bisa di-breakdown dalam bentuk objektif yang terukur, dan diturunkan lagi dalam bentuk eksperimen dan dijadikan kerangka strategi kuartal-bulanan-hingga harian. Seperti juga dalam Pendidikan, yang menjadi program dan kegiatan mengajar harian haruslah merupakan bentuk turunan dari visi misi awal yang kemudian diturunkan menjadi kurikulum lalu di-break down dalam bentuk rencana ajar lengkap dengan capaian dan tujuan pembelajaran yang terukur.

Cara berpikir big picture ini yang akhirnya sangat membantu dalam membuat skema prioritas, sehingga enggak sibuk overthinking dan mikirin hal-hal yang enggak penting, karena sudah tau tujuan besarnya mau kemana.

Apa yang penting untuk didahulukan sebelum yang lain?

Cara ini sangat efektif dalam berpikir secara sistem dan strategi. Betul, konsep dan ide besar berlandaskan value jadi sangat penting dalam berpikir secara integrasi dalam setiap hal, baik di dalam bisnis, maupun organisasi.

Jadi disini pentingnya diwijudkan RASCI Matrix alias distribusi tugas yang jelas. Karena dengan ini, saya kemudian bisa membangun budaya yang enggak sibuk cari muka, ngejar jabatan atau Cuma kerja karena disuruh. Sebab elemen perilaku manusia itu sangat banyaaaak dan luaaas spektrumnya, enggak bisa diukur-ukur menggunakan angka. Artinya lebih baik kolaborasi dalam menjalankan value.

Hehehe..jadi panjang ya?

Tapi memang menjalankan bisnis atau organisasi adalah perjalanan panjang yang berliku dan penuh dengan halang rintang. Tanpa tujuan yang dipercaya dengan keras kepala, pasti akan mudah menyerah.

10 tahun menjalankan bisnis dan organisasi nirlaba dibawah AKAR Family sudah mengantarkan saya pada berpuluh kali jatuh dan bangun lagi.

Namun tujuan saya jelas, membangun society yang terkoneksi sebagai bentuk dari implementasi nilai kebaikan dan kebenaran yang jadi saya anggap mutlak karena saya sudah membangun tolak ukur, landasan dan segala standar kualitas untuk menjalankannya.

Artinya, ketika sekarang kami bergeser dari Lembaga kecil yang menggunakan sistem “Warung” ke Lembaga yang membesar dan harus menerapkan sistem kelembagaan yang terstruktur dan terdokumentasi, kami tidak menggeser value, justru kami semakin menegaskan untuk semua yang berada dalam tribe, semua yang ada dalam komunitas untuk menginternalisasi dan mengimplementasi value, pengetahuan serta keterampilannya untuk kebenaran dan kebaikan.

Psikolog saya bilang “Fase internalisasi value ini fase yang amat berat, dan membutuhkan kepala yang sangat keras, dan jiwa yang kuat, karena kamu akan harus mengambil Keputusan-keputusan besar sekaligus menguatkan mereka yang membersamai kamu di dalam sebuah komunitas itu!”

Kepala yang keras, jelas sudah ada modalnya. Namun jiwa yang kuat ini yang masih harus dipelajari terus menerus. Karena ternyata menerapkan kesepakatan untuk hanya memberikan tiga kali kesempatan, atau memilih terlaksananya penerapan value kebaikan dan kebenaran diatas teman dekat, atau banyaknya massa yang berpotensi jadi duit lebih cepat itu AMATLAH LUAR BIASA GILA-GILAAN MENGGUNCANG JIWA.

Iya saya sadar betul, audiens saya sangat niche. Saya bahkan enggak menyebutnya audiens, dan lebih memilih untuk menyebutnya keluarga. Karena kami saling membutuhkan dan saling membersamai satu sama lain, secara terus menerus.

Tentu saya ingin lebih inklusi dan siapa saja bisa bergabung untuk sama-sama menerapkan nilai kebenaran dan kebaikan ini. Namun, ketika dalam perjalanannya saya harus memilih dan menyeleksi ketat mereka yang akan berpegangan tangan di awal untuk internalisasi value dulu, ya gapapa juga.

Saya tau langkahnya pelan dan berangin, berat dan penuh aral. Namun saya juga percaya kami yang menjalankannya dengan penuh rasa percaya dan tujuan yang sama ini, pada akhirnya akan terus mencari cara untuk mengajak lagi dan terus mengajak dengan berbagai cara yang kelak pasti akan kami temukan terus.

Kalau Seth Godin bilang “You are not a cog. You are an artist, a leader, and a changemaker. Your job is not to follow the map, but to draw one. Not to wait, but to begin.”

Kalau enggak ada yang berani untuk melakukan ini, maka semakin jauh dong jarak kita dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran? Makanya daripada sibuk kompetisi, mendingan kita yang berdiri diatas value yang sama ini sama-sama terintgrasi, berkolaborasi dan saling sayang, saling jaga. Dunia ini kejam, tapi kita enggak perlu jadi orang yang kejam juga, kan?

Yvon Chouinard juga pernah bilang, “I have a definition of evil that is different from most people. Evil doesn’t have to be an overt act; it can be merely the absence of good. If you have the ability, the resources, and the opportunity to do good and you do nothing, that can be evil.”

So yeah, be the one who dares to care, creates with purpose, and leads wholeheartedly, every day.

Leave a comment

Ava Reed is the passionate and insightful blogger behind our coaching platform. With a deep commitment to personal and professional development, Ava brings a wealth of experience and expertise to our coaching programs.

About the Coach ›

Newsletter

Weekly Thoughts on Personal Development

We know that life's challenges are unique and complex for everyone. Coaching is here to help you find yourself and realize your full potential.

About the Coach ›