Daily Archives: September 10, 2021

Parenting itu mudah

Image

Parenting itu mudah.

Ngeselin ya? Iya seringkali saya dicap ngeselin Ketika mengatakan hal ini. Saya sudah berulangkali mengulangnya di Instagram saya, dan tetep lah ada komen kesel sama statement ini, karena semua orang bilang parenting itu adalah pekerjaan paling sulit di dunia.

Hmmm…

Gini, anak saya emang hanya dua, dan belum berpengalaman lah hitungannya. Anak pertama usianya 10 tahun, yang kedua usianya 3 tahun. Satu pre-teen, satu toddler. Tapi saya semakin yakin bahwa parenting itu mudah, yang susah itu berubah.

Masa lalu saya enggak mudah. Banyak trauma yang saya alami di masa kecil, dan masih saya bawa sampe sekarang. Tapi sejak memutuskan untuk menikah, saya belajar. Iya, saya terus menerus menenggelamkan diri dalam bahan bacaan dan ikut berbagai kelas untuk semakin memahami tugas baru sebagai istri dan ibu.

Ternyata, semakin saya belajar, semakin saya paham bahwa yang tersusah adalah berubah. Hal yang paling berat untuk dilakukan adalah menyadari apa yang salah, dan memahami diri sendiri. Memahami kenapa saya merasakan ini dan itu, kenapa saya melakukan ini dan itu, dan apa sih yang idealnya dilakukan.

**

Saya adalah manusia yang sulit merasakan perasaan. Sulit memahami apa yang terjadi. Karena biasanya, emosi yang saya tau hanya garis besar: senang dan marah. Kalau di gambar gunung es, dua perasaan ini ada di permukaan dan sisanya adalah rasa-rasa lainnya yang kerap tersembunyi; cemburu, sedih, kecewa, dan sebagainya.

Saya sulit memahami itu semua, karena terbiasa me-repress hal-hal yang saya rasakan dengan kalimat kunci “I’m fine!”

Saya memutus koneksi dengan diri saya sendiri. Sehingga, saya mengalami banyak kesulitan dalam bersosialisasi. Saya mengalami banyak kesulitan dalam berkonsentrasi, karena saya bahkan tidak mampu meregulasi emosi saya sendiri.

Terima kasih Tuhan karena mengizinkan saya menjadi ibu, dan belajar lebih banyak lagi dari anak-anak saya tentang emosi.

Ternyata begitu sulit mengasuh anak, jika saya bahkan tidak mampu meregulasi emosi diri sendiri. Ternyata begitu sulit menjalani rumah tangga, jika saya bahkan tidak mengenali kebutuhan diri sendiri. Ternyata yang sulit bukan praktik pengasuhan, namun memahami emosi dan meregulasinya sehingga dapat berfungsi dengan baik, sebagai manusia.

Luka-luka masa lalu, yang enggan diakui dan diterima keberadaannya ini akan terus memberikan beban berat di Pundak saya. Inilah yang membuat saya kerap terganggu dengan perilaku anak-anak. Ini yang membuat saya sering marah dan merasa parenting itu sulit.

**

Saya terbiasa menjadi sosok kuat, apalagi saya anak pertama. Banyak hal yang dibebankan di Pundak saya. Saya pikir saya memang baik-baik saja. Saya pikir tidak ada masalah. Ternyata ada begitu banyak masalah yang terjadi Ketika saya harus bersosialisasi dengan manusia lain.

Saya terlalu keras. Saya terlalu gamblang mengatakan hal-hal yang harusnya saya katakan dengan hati-hati. Saya tidak bisa memahami air mata orang lain. Saya tidak mau mengerti kesulitan yang dialami orang lain. Saya terus menerus memberikan pressure seolah semua orang sekuat saya.

Iya, saya memang keras kepala. Saya memang kuat. Saya memang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu dan saya pembelajar yang kelewat baik. Namun ternyata semua itu percuma, tanpa regulasi emosi.

Saya gagal memahami bahwa kuat itu berarti mampu mengakui diri sendiri dengan segala kelemahannya. Saya gagal memahami bahwa saya manusia, ada kalanya saya Lelah dan butuh istirahat. Saya gagal memahami bahwa saya tidak akan pernah bisa hidup sendiri.

Saya akui, ini berat sekali.

Dan tambah berat Ketika saya menikah dan harus menyesuaikan diri untuk hidup dengan orang lain. Lalu punya anak, Ketika saya yang sebetulnya keropos ini, harus terus berbagi dengan manusia mungil yang menggantungkan hidupnya pada saya.

Gelas saya kosong, jadi tidak ada yang bisa saya bagi.

Ini adalah titik terberat yang akhirnya membuat saya sadar. Saya butuh koneksi.

**

Semua berubah Ketika saya memahami soal koneksi, Ketika saya memahami diri sendiri, dan mulai perlahan melakukan perubahan.

Saya belajar menangis. Saya belajar mengakui. Saya belajar merasa lemah dan tak berdaya. Saya belajar berserah diri pada Tuhan. Saya menyambung Kembali koneksi dengan diri sendiri. Perlahan gelas saya Kembali terisi.

Sejak itu saya paham bahwa parenting itu mudah.

Parenting itu sebetulnya pekerjaan yang amat mudah, Ketika saya memahami koneksi. Ketika saya terus belajar untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri, dan berbagai kondisi psikologis di diri ini untuk kemudian mengisi gelas dan membaginya dengan keluarga saya.

Oh ya, seperti iman, koneksi juga naik turun.

Ada kalanya saya Lelah dan kelepasan marah. Ada kalanya saya bosan mendengar keluh kesah anak-anak. Ada kalanya saya butuh waktu sendiri.

Namun karena saya sudah memahami diri saya, maka yang saya lakukan adalah memberikan waktu untuk diri sendiri. Yang saya lakukan adalah terus belajar bernafas dan mencoba menggali lagi, “Kenapa ya tadi saya melakukan itu?”

Koneksi juga mengajarkan saya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada anak-anak saya.

Koneksi juga mengajarkan saya untuk memahami bahwa behavior itu seperti demam. Iya, itu adalah gejala dari suatu penyakit. Bukan penyakitnya. Jadi saya harus mencari tahu, kenapa orang melakukan behavior tertentu, menggali dari akarnya dan mencari solusi untuk itu.

Kalau anak saya tantrum, saya adalah manusia pertama yang harusnya paling memahami kenapa dia melakukan itu? Bukannya menyelesaikan tantrumnya dengan Langkah sementara demi ego saya…
“biar gak berisik” atau “biar anteng”

Koneksi akan memudahkan saya untuk melakukannya. Koneksi akan membuat segalanya jadi mudah dipahami dan sungguh deh, mudah dilakukan.

Serius deh, parenting itu…MUDAH

Jadi, saya akan tetap ngotot menyatakan bahwa parenting is easy.

Saya akan tetap menggaungkan kepada dunia bahwa “easy” bukan berarti menggampangkan. Bukan berarti menyelesaikan persoalan seenaknya, memilih jalan yang paling mudah untuk mengurus anak atau bahkan mengabaikan anak-anak, karena harus easy.

Bukan itu.

Easy terjadi karena koneksi.

Once saya memahami koneksi, maka apapun yang anak-anak saya lakukan, saya tau apa yang harus saya lakukan. Kalau saya salah Langkah maka saya akan meminta maaf dan mengakui kesalahan. Lalu memperbaiki hubungan.

Easy terjadi karena koneksi.

Ketika saya terkoneksi dengan diri sendiri, saya akan mampu meregulasi emosi. Ketika saya mampu meregulasi emosi, maka saya tau apa yang sedang dibutuhkan oleh tubuh saya, jiwa saya. Saya tau kapan saya harus tetap tegas pada pendirian, dan kapan saya harus mengalah. Saya tau battle mana yang harus saya pilih.

Easy terjadi karena koneksi.

Dengan memahami koneksi, saya akan mulai melakukannya dengan setiap manusia bahkan mahluk hidup lain. Karena itu saya mulai connecting the dots, karena ternyata setiap hal saling terkoneksi satu sama lain. Ternyata semua hal tidak ada yang diciptakan sendirian. Ternyata banyak hal yang saya belum ketahui, dan saya jadi semakin haus pengetahuan.

Saya jadi belajar lebih banyak, dan tertarik pada banyak hal secara simultan.

Ketika ibu menjadi pembelajar, ia akan terus memperbaiki dirinya di setiap hembusan nafasnya.

Saya yang tadinya enggak pernah tau cinta itu apa, sekarang mulai paham, karena Tuhan mengajarkan cinta lewat anak-anak saya. Saya jadi tahu, ternyata cinta yang membuat saya masih berdiri disini dan rela melakukan apapun untuk masa depan anak-anak saya.

Saya yang mulai terkoneksi ini merasa bahwa belajar untuk menjadi lebih baik itu sangat penting untuk anak-anak saya kelak. Saya adalah role model mereka, ucapan saya akan menempel di kepala mereka, keyakinan saya adalah keyakinan mereka, duka saya adalah duka mereka.

Cinta yang membuat saya jadi lebih baik terus setiap harinya.

Cinta yang menggiring saya menuju koneksi.

Dan koneksi yang meyakinkan saya bahwa….parenting is easy!

Yasmina Hasni