Fiona, seorang kakak

Gallery

Baru2 ini, kami mendapatkan anggota keluarga baru. Seekor burung, jenis fischer’s Love Bird. Genus nya agapornis fischeri. Tapi kalo di Indonesia, penggiat burung menyebutnya jenis ‘palamas’, itu singkatan dari ‘kepala emas’.

Saya udah lama naksir Love bird, karena warnanya yang middle tone, dan ukuran mini seekor burung dengan paruh bengkok. Sexy. Suaranya juga banyak, biasanya disebut ‘gacor’. Padahal usianya baru 8 bulan. Cantik banget dan menyenangkan. Kepribadiannya mirip kucing siamese, suara KENCANG, dan gak bisa hidup sendirian. Either itu ada burung lain, atau ditemenin manusia. Cocok buat jadi anggota keluarga…

Dan karena dia betina, saya kasih nama dia FIONA. Sebab saya ingat fiona, istrinya shrek yang jagoan, penyayang, rendah hati, dan cuek. Juga Fiona Gallagher di ‘Shameless’ series, yang tayang tiap hari minggu di Showtime, dan season 2 nya baru tamat. Sebenernya, series ini pernah dibuat oleh orang yang sama, Paul Abbott, sebagai salah satu serial dengan setting Manchester, Inggris, pada 2004. Sekarang, mulai Januari 2011, dibuat lagi dengan versi Amerika. Tokoh2 dan gagasan besarnya gak terlalu berbeda.

(gambar ini saya ambil dari sini)

Anyway, Fiona Gallagher ini RATU nya serial sinting yang bikin saya deg2an tiap habis nonton. Jadi, serial ini bercerita soal satu keluarga yang GILA. Enam anak, tanpa orangtua. Well, sebenarnya ada, tapi lebih sering maboknya ketimbang sadar. Both, narkoba dan alkohol. Yang menyebabkan anak2 ini harus piawai mengurus diri mereka sendiri.

Sayangnya, anak tertua dari keluarga ini baru berusia 21 tahun, ya si Fiona ini. Anak keduanya, Phillip, baru 17 tahun. Sisanya ya masih SMP-SD dan si bungsu Liam, yang entah kenapa kok bisa berkulit hitam, masih 2 tahun. Means, secara keseluruhan, Fiona lah yang paling bertanggung jawab akan kehidupan 5 orang adiknya.

Bisa dibayangin, kehidupan di sebuah kota kecil di Amerika, enam orang anak usia ABG, dengan ibu pengidap bipolar dan punya kecenderungan lesbian, then meninggalkan mereka semua begitu aja. Kalopun ada kemunculannya di beberapa episode, Cuma ngerusak pola kehidupan yang udah susah2 diatur sama Fiona. Bapaknya, ya sama. Tiap subuh, dia pulang kerumah dan tidur di teras, atau ruang tamu, atau dapur. Saking maboknya.

Enam anak ini sudah biasa sama kehidupan yang keras, dan harus mampu bekerja selepas sekolah. Karena mereka harus patungan buat bayar listrik, beli makanan dll. Tapi ya, yang paling saya kagum dan bikin saya suka banget nontonnya, ada dua. Pertama, sekeras apapun kehidupan yang mereka jalanin, enam anak ini tetap kompak. Tetap bisa saling menyayangi, dan melindungi satu sama lain. Mereka selalu siap ‘pasang badan’ buat yang lain. Mereka bahkan saling bergantian ngurusin adik bungsunya yang masih bayi.

Kedua,  FIONA. Dia rela putus sekolah demi adik2nya. Padahal tinggal taun terakhir. Tapi pada saat itu, ibunya meninggalkan mereka begitu aja, maka harus ada yang bekerja dan bertanggung jawab penuh sama keberlangsungan keluarga itu. dia selalu ada, buat semua. Fiona juga yang bebersih rumah, siapin makan, cuci baju dll. Beban berat keuarga Gallagher, sebenarnya ada di tangan Fiona.

Karena alasan itu, saya kasih nama love bird cantik kami, Fiona.

***

Menonton Fiona, bikin saya inget wejangan mama. bahwa anak sulung itu, baik perempuan maupun laki2, adalah manusia yang diciptakan Tuhan untuk bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keluarga, jika orangtua gak ada. Anak sulung itu adalah sosok yang –harusnya- paling tegar, karena dia harus menjadi contoh bagi adik2nya. Anak sulung itu, harus siap berkorban, dan pasang badan, no matter what.

Saya, anak sulung. Tapi ALHAMDULILLAH, adik saya Cuma satu, laki-laki dan usianya Cuma terpaut 14 bulan pula. Jadi beban saya mah gak seperti Fiona. Hehe..

Tapi, been there done that lah, keluarga kami pernah juga mengalami badai besar, dan menguji kemampuan saya sebagai anak sulung. Saat itu, saya sering menyesali posisi saya sebagai seorang kakak. Tapi, setelah berlalu, Badai itu ternyata menyebabkan saya jadi sangat menyayangi adek saya satu2nya itu. Ya karena saya tau, kami Cuma berdua. Kalo saya kuat, dia pasti bisa kuat. Begitu juga sebaliknya.

Sosok anak sulung itu juga saya liat di suami saya. Dia anak pertama, dengan dua orang adik perempuan yang usianya terpaut 4 tahun dan 7 tahun. Dia, adalah anak sulung yang menjalankan tugasnya dengan baik. Hehe. Selalu baik dimata kedua orangtua nya, sehingga bisa jadi contoh (atau pemacu semangat) buat kedua adiknya. Dia juga rela, membuang mimpinya masuk ITB (padahal udah keterima), dan masuk ke STAN, yang gratis, biar gak nambahin beban orangtuanya. Ujungnya, biar adek2nya bisa kuliah tinggi.

Banyaklah saya denger cerita dia dan pemenuhan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak. Sampe sekarang, tetap begitu.

Ayah saya juga seorang anak sulung, dari SEMBILAN orang adik. Dari kecil sampe detik ini, meskipun semua adik2nya udah berkeluarga semua, dia tetap orang yang siap sedia ada buat semua adik2nya. Dulu, kata Eyang, papa-lah orang yang mau pergi sekolah, sambil bawa dagangan. Dia juga orang yang sibuk ngebantuin eyang ngurusin adek2nya, dari nyuapin makan, menggendong sampe (maaf) ‘nyebokin’.

Tanggung jawab seorang anak sulung itu, saya rasa, yang akhirnya membuat seseorang jadi terlalu sayang sama adik2nya. Meskipun, kadang2 irasional. Disakiti kaya apapun, kayanya seorang kakak gak bisa bener2 meninggalkan adiknya. At least, hal itu yang saya liat dari orang2 disekitar saya, dan –tentunya- di serial shameless. Terbiasa dengan beban tanggung jawab itu, nampaknya membuat seorang anak sulung kecanduan.

Hal ini, saya rasa harus dihargai. Entah oleh orang lain, atau oleh adik2nya sendiri.

Di salah satu episode shameless, season 2, ada scene saat Lip bermasalah dengan Karen dan membuat dia merasa harus berhenti sekolah untuk bekerja. Mendengar itu, Fiona MURKA. Dia gak mau Lip putus sekolah, macam dia. akhirnya mereka berantem, Lip bilang Fiona harus ambil tes supaya bisa dapet ijazah SMA, kalo mau Lip sekolah.

Fiona manut. Tapi Lip malah bikin masalah yang berpotensi mengeluarkan dirinya, karena bener2 udah gamau sekolah. (padahal Lip ini PINTER BANGET, dan itu tinggal taun terakhirnya) akhirnya, ditengah pertengkaran, Fiona teriak “Lo pilih! Sekolah, atau keluar dari rumah ini!” dengan penuh gengsi dan harga diri laki2, tentunya, Lip keluar dari rumah.

Beberapa episode setelah itu, selalu ada adegan Fiona memaksa, meminta, merayu, memohon Lip supaya pulang. Dengan berbagai cara, termasuk lulus tes-nya. Dia terlalu sayang sama adiknya yang keras kepala itu, dan Cuma kepengen liat Lip ada dirumah lagi.

Jawaban kegalauan itu, ternyata, dengan cakepnya dibuat oleh Paul Abbott sebagai penutup season 2. Saat Lip akhirnya pulang kerumah, membuang semua ego,dan gengsinya, demi kakaknya.

***

Padahal bisa aja kan Fiona bersikap cuek. Lumayan ngurangin satu adik, ngurangin beban. Ngapain juga dikejar2.

Tapi ternyata enggak, sesakit apapun yang dirasai Fiona, dia tetap cari adiknya.

So, Yeah, kayanya Phillip bener, lakukan aja dulu lah, setidaknya buat si kakak. Karena, seorang kakak, gak akan menyerah sama adiknya. Seorang kakak, pasti sayang dan sangat peduli sama adiknya, entah apapun yang terjadi.

Well, setidaknya, itu yang saya rasain… :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s